Main Menu

3 Profesor Jepang Mengungkap Sosok Ninja Sebenarnya

G.A Guritno
14-07-2018 17:02

Kunjungan 3 Profesor Jepang dari Universitas Mie Jepang ke Fakultas Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto (Dok. Humas Unsoed/yus4)

Purwokerto, Gatra.com – Kebanyakan masyarakat Indonesia memahami ninja sebagai sesosok seram berpakaian serba hitam, berpenutup wajah dan kepala, serta bersenjata mematikan. Ninja banyak dikonotasikan sebagai sosok jahat penebar teror di mana-mana.

 

Namun, ternyata pandangan itu tak sepenuhnya benar. Banyak salah kaprah pemahaman Ninja atau Shinobi dalam benak masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

“Shinobi (Ninja) tidak memakai baju hitam namun justru layaknya penduduk biasa,” kata Katsuya Yoshimaru dari Universitas Mie Jepang, di Fakultas Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jumat (14/7).

Dia menjelaskan, pemahaman yang salah kaprah ini lantaran kebanyakan masyarakat hanya mengenal ninja lewat film. Ninja dideskripsikan sebagai makhluk nan mematikan dan tak memiliki belas kasihan.

Karenanya, Ninja divisualkan dengan pakaian hitam-hitam. Hanya dua matanya yang tampak memancarkan kesan seram. Ninja pun nyaris selalu dilengkapi dengan senjata lempar, Shuriken, senjata logam tajam berbentuk bintang.

Menurut dia, ada penafsiran yang salah mengenai sosok ninja yang dipahami masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Pangkal soalnya, mereka mengenal ninja bukan dari tinjauan sejarah, melainkan teater, film dan novel.

Sesuai fakta sejarah, ninja tak seperti yang dibayangkan. Soal atribut misalnya, ninja tak mesti berpakaian hitam-hitam.

“Bentuk Shuriken yang sebenarnya bukan menyerupai bintang seperti digambarkan selama ini, melainkan berbentuk panjang seperti bar,” jelas penulis buku Ninja Bungei Kenkyu Dokuhon (Ninja Literary Research) ini.

Dia menerangkan, sosok ninja berpakaian hitam dan melempar Shuriken lahir dari cerita dalam sandiwara teater yang muncul sejak pertengahan abad ke-18 dan mencapai puncak popularitas pada abad 19, seturut masa akhir Zaman Keshogunan Edo.

Shinobi adalah sekumpulan orang yang bertugas sebagai mata-mata serta pengacau saat kondisi perang pada abad ke-14 hingga awal abad ke 17 di Jepang. Sebaliknya, saat kondisi masyarakat telah damai dan kondusif, Shinobi bergerak sebagai informan dengan kemampuan penyamaran yang dimilikinya.

“Karena tujuannya menyamar. Pakaiannya biasanya coklat, atau biru tua seperti warga biasa," ujarnya.

Keterangan Katsuya ini dibenarkan oleh dua ahli Ninja lainnya, yakni Profesor Yuji Yamada, Master Jinichi Kawakami dari Univeraitas Mie, Jepang, yang merupakan Direktur Kehormatan Ninja Museum Igaryu, serta Kepala Keluarga ke-21 Klan Ninja Koka. Keduanya juga membantah gambaran Ninja seperti yang selama ini berkembang di masyarakat.

Terdapat dua versi cerita Ninja yang terkenal di zaman Edo (1603-1868). Versi pertama menceritakan Ninja yang bergerak untuk mencuri sesuatu berharga menggunakan Ninjutsu. Versi kedua adalah cerita tentang Ninja yang berusaha mengambil alih kekuasaan atau memberontak menggunakan Ninjutsu.

Sampai zaman Edo, Ninja masih dianggap sebagai tokoh yang cenderung antagonis yang menggunakan ilmu misterius, sebuah pandangan yang diwariskan, bahkan hingga saat ini.

Namun, penggambaran Ninja sebagai sosok jahat di Jepang perlahan luntur setelah populer cerita anak-anak mengenai Ninja Sarutobi Sasuke populer pada masa awal Abad ke-20. Berbeda dengan penggambaran Ninja yang jahat, Sarutobi Sasuke adalah Ninja pahlawan.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
14-07-2018 17:02