Main Menu

Tak Terbiasa Berpikir Kritis Pelajar Cenderung Percaya Hoax

Annisa Setya Hutami
19-07-2018 23:33

Ilustasi Konsep pembelajaran. (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Pendiri perusahaan teknologi pendidikan Zenius Education, Sabda PS mengatakan, selama bertahun-tahun pelajar terbiasa hanya menghafal materi. Tidak didorong untuk membangun rasa keingintahuan dan aktif bertanya.

 

Kebiasaan ini ternyata bisa berdampak pada cara pandang, saat harus menyimpulkan sebuah permasalahan."Sehingga tanpa logika dasar yang kuat, generasi muda kita akan mudah terpengaruh hoax. Hal ini yang mungkin kurang disadari oleh masyarakat," katanya saat ditemui GATRA di Sanggar Prathivi, Pasar Baru, Jakarta kamis (19/7).

Menurutnya dengan konsep seperti itu, tidak heran bila hasil Ujian Nasional (UN) 2018 menunjukkan bahwa 63-79% siswa memiliki rerata nilai kurang dari 55. Bahkan berdasarkan hasil tes PIAAC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies), sarjana di Jakarta memiliki kemampuan literasi yang cenderung minim. Tidak lebih baik dari lulusan SMA di seluruh negara partisipan.

Padahal, seharusnya ketika saat ini pemerintah mengajak menuju era industri 4.0, literasi pelajar harus semakin meningkat.

Ini yang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Karena yang perlu ditekankan pada aspek pemahaman ilmu, bukan sekadar mengingat informasi.

Oleh karena itu, Zenius Education mulai mendorong adanya pendidikan yang bisa memupuk rasa ingin tahu siswa. Salah satunya dengan sistem blended learning (integrasi pembelajaran online dengan pembelajaran tradisional di ruang kelas).

Cara ini diklaim sebagai sebuah terobiosan dimana sebuah sistem pembelajaran menggunakan konsep penalaran ilmiah. "Sebagai market leader di industri education technology, kami memiliki komitmen. Kami sadar harus berkontribusi lebih jauh lagi terhadap pendidikan Indonesia," kata Sabda.


Reporter : Annisa S Hutami
Editor : MUkhlison

Annisa Setya Hutami
19-07-2018 23:33