Main Menu

Kecerdasan Buatan di Era Industri 4.0

Fatma
20-07-2018 16:45

Jakarta, Gatra.com - Dunia industri senantiasa memasuki babak baru dalam perjalan perkembangannya seiring berjalannya perkembangan teknologi. Sebagaimana dunia global pun mengalaminya, Indonesia mengenal revolusi industri pertamanya dengan adanya kehadiran mekanisasi terutama mesin uap pada pemerintahan Hindia-Belanda.

Revolusi industri kedua dimulai saat pabrik mengadopsi line production untuk produksi massal. Revolusi industri ketiga diawali sekitar tahun 90-an dengan yang dimulainya sistim otomatisasi memakai komputer.

Saat ini, teknologi broadband dan internet digelar masuk secara secara cepat dan agresif, hasilnya kehadirannya membuat dunia menjadi saling terhubung satu sama lain dan merambah hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Perkembangan global teknologi internet ini pun sampai di Indonesia, termasuk sektor industri menikmati dampak dan manfaatnya. Dunia mengenal integrasi internet dengan industri manufaktur sebagai revolusi industri generasi keempat atau dikenal dengan Industri 4.0.

Pada acara re-launching Master of Management (MM) Professional Program dari BINUS BUSINESS SCHOOL (BBS) pada Sabtu, 7 Juli lalu Harry K. Nugraha, seorang konsultan strategi bisnis di bidang teknologi, yang menjadi salah satu pembicara pada acara yang bertajuk “Preparing Yourself for Industry 4.0” ini, memaparkan bagaimana perkembangan teknologi internet dan komputasi sangat berpengaruh atas perkembangan Industri 4.0.

Adopsi internet dan teknologi komputasi di masyarakat sudah termasuk sangat tinggi. Layanan internet meningkat seiring pertumbuhan penetrasi perangkat mobile phone (telepon genggam) yang tinggi dibandingkan negara lain di regional Asia Tenggara.

Mobile phone sudah banyak dan umum menggantikan layanan-layanan tradisional. Transaksi perbankan sekarang lebih banyak menggunakan mobile phone dibandingkan transaksi langsung ke bank, ujar Harry yang juga pernah menjabat sebagai Country Manager Intel dan Qualcomm Indonesia ini. Bahkan memesan makanan dan layanan bersih-bersih rumah pun sekarang lewat layanan mobile phone. Sudah menjadi hal biasa, ujarnya menambahkan.

Uniknya, di sisi hilir, kata Harry, para pengguna teknologi ini sekarang memakai teknologi sebagai bagian dari keseharian tanpa perlu diajari atau belajar khusus. Layanan bisa digunakan dan dioperasikan sudah sangat mudah secara alami. Di sisi hulu, dari penyedia layananan dan infrastruktur perkembangan teknologi internet dan komputasi besar saat ini sedang berlangsung secara cepat.

Perkembangan hardware terkini, dikembangkannya algoritma komputasi yang lebih efisien dan kompleks, dan didukung ketersediaan data pendukung yang masif dan besar, mendorong layanan-layanan terkini seperti Virtual Reality (VR) dan Artificial Intelligence (AI). Didukung koneksi broadband, integrasi dari VR dan AI terhadap perangkat dan infrastruktur memungkinkan apa yang dulu hanya impian masa depan menjadi kenyataan.

Harry memberi contoh bagaimana perkembangan teknologi di atas ini akan mendorong revolusi industri 4.0 misal di industri otomotif. Tahun 2021 standar industri otomotif memasuki era Autonomous Driving Level 5: penumpang tinggal duduk di mobil, minta mau ke mana, mobil akan berjalan sendiri tanpa pengemudi. Begitu sampai, penumpang turun mobil akan mencari parkir sendiri. Perusahaan otomotif seperti Tesla, BMW dan manufaktur kendaraan terkenal lain sekarang menuju ke arah sana. Mobil pun nanti mayoritas digerakkan listrik, punya komputer di dalamnya, ada banyak sensor, dan terhubung dengan jaringan server. Itu baru di mobilnya.

 

sumber:https://www.birmingham.ac.uk/news/thebirminghambrief/items/2016/11/driving-the-revolution.aspx

Anda bayangkan, perusahaan penyedia listrik, di masa depan yang tidak lama lagi, pun harus berubah menjadi perusahaan yang menyediakan supply pengisian listrik untuk kendaraan. PLN harus menyediakan layanan sebagaimana Pertamina, Total, atau Shell menyediakan bahan bakar sekarang, ujar Harry.

Itu berarti, kata Harry akan ada perubahan besar untuk perusahaan-perusahaan tersebut karena semua ini adalah bisnis baru. Akan ada perubahan yang harus dilakukan dan dipersiapkan. Banyak lini akan terdampak dengan perubahan seperti ini. Dan masih banyak contoh lain, misalnya robotik dengan kecerdasan buatan yang bisa membuat keputusan sendiri lebih akurat tanpa intervensi manusia. Impian masa depan sudah di depan mata. Roadmap harus dibuat, terutama kesiapan sumber daya manusia. Kita tidak bisa diam saja, karena perubahan ini akan terjadi. Diam berarti tertinggal, kata Harry.

Perkembangan teknologi, masih kata Harry, bergerak secara eksponensial, sementara kemampuan beradaptasi manusia masih bergerak secara linier. Ini yang menjadi tantangannya, kata Harry. Menanggapi tantangan industri 4.0 yang dipaparkan oleh pembicara Harry, Dr. Rini Setiowati, Head of Program MM Professional BBS mengatakan bahwa Binus selalu tanggap atas perubahan jaman, termasuk menjawab tantangan dalam mempersiapkan sumber daya manusia.

Dalam menghadapi era industry 4.0 ini, dunia pendidikan diharuskan untuk melakukan perubahan ataupun pengaturan kembali kurikulum mereka sehingga dapat membekali para mahasiswa dengan kemapuan yang dibutuhkan di era industrial revolution 4.0 (IR 4.0) diantaranya kemampuan untuk dapat memecahkan masalah yang kompleks, kemampuan berfikir secara kritis dan kreatif, kemampuan untuk dapat bekerjasama dengan orang lain, dan lain sebagainya. Oleh karena itu konten, dan cara pengajaran (pedagogy) juga harus disesuaikan.

Kurikulum Professional Program MM Binus telah merancang kurikulum yang memberikan penekanan kepada aspek inovasi dan kewirausahaan dengan flesibilitas kognitif untuk dapat menghadapi kompleksitas yang akan mereka hadapi. Juga peningkatan porsi pembelajaran yang menggabungkan project based dan scenario based yang melibatkan kerjasama dengan berbagai perusahaan di berbagai industri. Untuk mempertajam kemampuan kreativitas, innovasi, dan strategic thinking, MM program Binus menawarkan mata kuliah yang menggabungkan system thinking, design thinking, dan future thinking untuk dapat membekali mahasiswa menghadapi kompleksitas dan distrupsi diberbagai bidang yang berlangsung sangat cepat di era industri 4.0 ini.

Selain itu untuk mengasah kemampuan teamwork dan kemampuan analisa, program ini menawarkan kepada mahasiswa satu mata kuliah yang merupakan andalan program ini yakni Management Consulting Group Project, dalam pembelajaran ini para mahasiswa dikirim ke perusahaan-perusahaan untuk melakukan proyek konsultasi selama kurang lebih satu semester.

Selanjutkan agar topik yang diajarkan selalu relevan dengan perubahan jaman, berbagai topik baru juga dibahas termasuk topik mengenai digital business, digital marketing, cybercrime, blockchains, crypto economics, innovation and disruption di beberapa mata kuliah.

Rini menerangkan, mahasiwa pada program ini juga diharapkan dapat bekerjasama dalam konteks multikultur, di mana mereka diharuskan bekerja sama dengan group yang berasal dari berbagai bangsa dengan kultur yang berbeda. Bahkan pada mata kuliah tertentu, mereka melakukan joint assignment dengan mahasiswa lain dari universitas di luar negeri.

Soal perubahan kurikulum, setiap per dua tahun dilakukan evaluasi oleh corporate advisory boards (CAB) yang terdiri dari lima anggota yang merupakan pelaku industri dan akademisi yang prominent untuk mereview dan mendiskusikan kebutuhan industri yang akan diterapkan pada pola pembelajaran, juga dilakukan Forum Group Discusion (FGD) secara berkala yang dilaksanakan bersama para pelaku industri untuk melakukan acuan dalam me-redesain kurikulum.

Program MM Profesional yang rata-rata sasarannya adalah para profesional dengan pengalaman kerja minimum 2 tahun. Program perkuliahan ini dilaksanakan pada akhir pekan, yakni pada Jumat malam dan Sabtu. Masih ada waktu bagi profesional muda untuk berlibur pada hari Minggu, kata Rini menerangkan.

Kemudian, Rini berharap, menghadapi era industri 4.0 ini, mahasiswa Binus diarahkan untuk memiliki soft skill serta hard skill yang dibutuhkan, selain itu juga dapat memperluas cara berpikir mahasiswa setelah lulus. Ada banyak latar belakang mahasiswa misalnya ada juga mahasiswa dari luar negeri, hal ini yang juga akan menambah wawasan serta cara berpikir mahasiswa lainnya.

Dunia terus berubah dengan kecepatan yang mungkin kita belum pernah kita bayangkan sebelumnya, mahasiswa diarahkan untuk dapat beradaptasi pada kondisi tersebut, mereka diharapkan dapat berpikir secara kritis, kreatif, inovatif, and fleksibel, kata Rini menutup perbincangan.

 

Fatma
20-07-2018 16:45