Main Menu

Mahasiswa Harus Bisa Atasi Masalah Sosial Melalui Socioprenership

didi
23-07-2018 15:03

Ilustrasi - Sociopreneurship. (Shutterstock/FT02)

Jakarta, Gatra.com - Mahasiswa dituntut agar bisa peduli dan mengatasi masalah sosial. Hal itu yang menjadi bahasan dalam Studium Generale (Kuliah Umum) yang bertemakan 'Mengatasi Masalah Sosial melalui Socioprenuership' yang digelar di Auditorium Mandiri, Fisipol, Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

 

Studium Generale ini sebagai agenda akademik pertama dari program Akademi Kewirausahaan Masyarakat (AKM) yang digagas oleh Creative-Hub Fisipol UGM.

Studium Generale ini diikuti oleh 100 peserta AKM, mahasiswa UGM dan umum. Peserta AKM sendiri berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang terpilih melalui sebuah tahapan seleksi.

Para pemateri kawakan berskala nasional dihadirkan, yaitu Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), Maria Loretha (Penggagas pengembangan pertanian tanaman Sorgum di Flores), dan Gamal Albinsaid (Pendiri ‘Klinik Asuransi Sampah’ Malang).

Bertugas sebagai moderator adalah Pinjung Nawang Sari, Dosen Fakultas Pertanian UGM.

Tri Mumpuni mengatakan, tentang perluanya dukungan kebijakan-kebijakan dari para pengambil keputusan yang berpihak pada keberlangsungan wirausaha sosial dan usaha kecil masyarakat lainnya.

Maria Loretha menekankan, passion (gairah dan kegemaran) terhadap wirausaha sosial adalah kunci yang harus dimiliki terlebih untuk mampu menggerakan orang lain bergerak bersama.

"Jika passion telah dimiliki maka pelaku wirausaha sosial akan terus-menerus berusaha secara ikhlas tanpa berpikir dan berhitung keuntungan semata," kata Maria Loretha dalam keterangan yang diterima, Senin (23/7).

Sementara Gamal Albinsaid mengatakan, pelaku wirausaha sosial harus menjadikan social impact (dampak sosial) sebagai target dari usahanya, bukan sekedar tentang personal profit (keuntungan pribadi).

Karenanya, alat ukur yang digunakan dalam sociopreneurship sebaiknya adalah social value (nilai sosial) bukan money value (nilai uang).

Kehadiran ketiga pembicara dalam kegiatan yang berlangsung selama empat jam ini mampu membangkitkan antusiasme peserta.

Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya peserta yang bertanya, terutama terkait tips-tips dalam membangkitkan partisipasi masyarakat dalam sebuah wirausaha sosial.

Antusiasme lebih tinggi ditunjukkan oleh para peserta program AKM, mengingat setelah pelatihan di kampus UGM ini mereka akan ditugaskan ke lapangan untuk berperan sebagai sarjana pendamping wirausaha sosial berbasis pedesaan di seluruh wilayah Indonesia.


Reporter : Didi Kurniawan
Editor : Mukhlison 

didi
23-07-2018 15:03