Main Menu

Ini Hubungan Antara Sulit Tidur dan Depresi

Fitri Kumalasari
28-07-2018 12:13

Ilustrasi depresi (antaranews/yus4)

Jakarta, gatra.com - Sekitar 75% orang yang didiagnosa depresi mengatakan punya masalah sulit tidur yang parah. Kebetulan lainnya, orang yang terus-menerus alami kegelisahan saat malam hari memiliki risiko tinggi menuju depresi. Hasil studi yang dirilis JAMA Psychiatry mengemukakan terapi untuk depresi dan sulit tidur bisa dilakukan sejalan.

“Tidur dan depresi sangat berkaitan,” kata Profesor dari University of Warwick Jianfeng Feng, seperti dilansir laman inverse.com, Sabtu (28/7). Feng dan timnya sudah sangat lama mempelajari soal sulit tidur ini. Sulit tidur merupakan inti gejala dari depresi.

Kata Feng, sebelumnya amat sulit mencari kaitan antara depresi dan tidur. Timnya mula-mula mengindentifikasi jaringan neural antar dua hal tersebut. Mereka menemukan ada hubungan fungsional di otak terkait memori jangka pendek, diri, dan emosi-emosi negatif. Hubungan fungsional (bagian-bagian yang terpisah di otak saling berhubungan karena pola neuron yang aktif) menjelaskan kenapa beberapa bagian otak memutuskan bahwa jam 3 pagi adalah waktu yang tepat untuk merenungkan semua yang berjalan salah.

Ketika orang dengan masalah depresi atau insomnia tak terkejut perihal hubungan keduanya, kajian ini menandakan kali pertama para peneliti dapat menjabarkan mekanisme neural terkait hubungan antara sulit tidur dan depresi. Para peneliti dapat mengidentifikasi lebih spesifik bagian dalam otak.

Mereka mangajukan repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) dapat digunakan sebagai terapi depresi dan sulit tidur sekaligus. Pada rTMS, dokter menggunakan magnet untuk menstimulus bagian-bagian pada otak di mana sebelumnya pendekatan ini gagal dilakukan kepada pasien.

Feng bilang, tim peneliti di Kanada menyasar orbitofrontal cortex pada orang-orang dengan depresi lewat rTMS dan hasilnya memuaskan. Dunia saat ini, dia menegaskan, perlu menemukan solusi soal ini. Insomnia merupakan gangguan mental kedua terbesar di mana sekitar 216 juta orang di seluruh dunia mengalami insomnia karena depresi.


Reporter: Fitri Kumalasari
Editor: Iwan Sutiawan

Fitri Kumalasari
28-07-2018 12:13