Main Menu

Teknologi Puluhan Tahun Water Management Sambu Group

Andhika Dinata
12-08-2018 22:01

Water Management Sambu Group di Indragiri Hilir, Raiu. (GATRA/Andhika Dinata/FT02)

Pekanbaru, Gatra.com - Tegakan pohon kelapa terhampar di kiri kanan kanal Pulau Burung, Kabupatan Indragiri Hilir, Riau, Indonesia. Oleh orang-orang yang pertama kali menginjakkan kaki ke pulau itu, menyangka kanal-kanal air itu sebagai sungai yang membelah pulau yang ada di bagian timur pulau Sumatera. Ada yang membentang hingga puluhan kilometer dengan lebar 20 meter seperti bibir sungai. Air yang ada di dalam merah berwarna hitam kecoklatan lantaran lahan tersebut merupakan lahan gambut dengan tingkat kebasahan dan kelembaban yang tinggi.

 

Pulau Burung kini dikenal sebagai kawasan industri kelapa hibrida dan pengalengan nenas. Terdapat satu perusahaan pengolahan kelapa yang berdomisili di pulau tersebut yaitu: PT.Riau Sakti United Plantations (RSUP) yang merupakan anak perusahaan Sambu Group. PT. RSUP bergerak di bidang pengolahan Kelapa Hibrid menjadi produk tambahan.

Yang menarik dari itu adalah perusahaan telah menerapkan konsep teknologi gambut dengan mengatur tata kelola air (water management system). Role model yang mensinergikan tiga unsur dalam tata kelola air, yaitu: kanal-kanal, tanggul dan pintu air. Melalui penerapan dari hal tersebut, Sambu Group berhasil memelihara, mengembangkan dan merawat lahan yang optimal.

Diprakarsai oleh perusahaan Sambu Group, Tay Juhana. Tay kala itu meminta salah satu teknisi Perancis untuk membangun konsep sistem manajemen air di perusahaannya. Tay yang juga ahli lahan gambut berkolaborasi dengan sang insinyur menata lahan gambut dengan desain yang optimal. Hasilnya adalah sistem kanal yang terbagi atas kanal primer (22 x 5 meter), kanal sekunder (4 x 3 meter), dan kanal tersier (1 x 1 meter).Kanal memiliki pintu-pintu air yang terhubung ke saluran buangan akhir yaitu laut lepas.

Di setiap bentangan 500 meter saluran besar ditemukan kanal-kanal kecil, sekunder dan tersier. Rancangan yang dibuat pada tahun 1985 dimana Sambu Group baru memulai pembukaan lahan baru di Pulau yang diikuti dengan penanaman varietas kelapa.

Oleh Tay, mengelola manajemen air merupakan fondasi yang perlu dibangun dalam pengelolaan lahan gambut. Ia berpikir sederhana, bagaimana lahan tersebut ketika musim hujan tidak kebanjiran dan bila musim kemarau tidak kekeringan. Selanjutnya, ia berpikir bagaimana membuat sistem saluran yang dapat menampung air dalam skala besar sepanjang tahun.Lahan yang gambut yang lebih basah dan lebih parah akan kesulitan atau tersulut oleh faktor-faktor pemantik kebakaran. Ajaib, selama 30 tahun lebih Sambo Group yang berada di Pulau Burung, Indragiri Hilir, tidak pernah terbakar oleh faktor apapun.

Tay Juhana pendiri Sambu Group, sempat menangis tersedu pada Mei 2015 lalu, dimana banyak gambut di Riau terbakar hebat. Ia menangis karena lahan yang ada di Indragiri Hilir, Riau, tidak terdampak oleh api yang membakar Bumi Lancang Kuning waktu itu. Sebagaimana diketahui, Sambu Group melalui anak perusahaannya PT. RSUP memiliki lahan seluas 22.550 Ha di Indragiri Hilir, Riau. Tay mengaku dirinya belum berhasil membagi ilmu yang dikuasainya konsep teknologi tata kelola air ke banyak petani dan empunya lahan di belahan tanah air.

“Bapak tersedu dan menangis,” ucap Tay Ciatung, Direktur PT. RSUP yang juga putera bungsu mendiang Tay Juhana. Ciatung teringat pesan Bapaknya untuk terus berbagi, welas asih, dan memberikan konstribusi ke masyarakat. “Selalu sumbang ke masyarakat. Jika tidak bisa sumbang. Jangan jadi beban masyarakat ”. Ciatung menyebut ia akan menjalankan amanah sang ayah dengan terus melakukan inovasi dan melakukan alih teknologi kepada banyak orang.

Konsep pengelolaan air yang diadopsi Sambu Group selama beberapa tahun menjadi jawaban bagaimana mengelola lahan gambut tanpa bakar (zero burning). Ciatung menyebut ini selaras dengan semangat Pemerintah untuk menanam risiko di lingkungan gambut dan lingkungan. Selain itu, di Indonesia sendiri terdapat sekitar 14,9 juta hektar lahan yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa suboptimal yang mampu disulap dan dibudidayakan menjadi fasilitas dalam bentuk tanaman pangan (non sawit) seperti yang dilakukan oleh Sambu Group.

“Orang menyangka kalau (lahan) gambut tidak bisa diapa-apain. Letak kita punya teknologi yang mampu mengoptimalkan lahan,” terang Tay Ciatung kepada GATRA.com. Mereka yang punya lahan eksisting dan memiliki tipe gambut ( gambut ) jilid ( dataran rendah ) dapat mengadopsi konsep manajemen air.Teknologi rancang yang sangat berguna untuk menjaga kelembaban dan juga risiko kebakaran.

Ciatung mencontohkan bagaimana bisnis Sambu Group dapat bertahan setengah abad (lebih dari 50 tahun) di kondisi eksisting lahan di tapak gambut yang suboptimal. Hal ini sesuai dengan jawaban lahan di Indonesia yang berstatus non-produktif karena dalam kondisi yang mirip dengan tingkat kesuburan yang kurang. “Kita bisa tahu konsep ini diadopsi oleh pemerintah dan kalangan usaha. Bagaimana kita ke depan menggunakan lahan tanpa bakar, ”imbuhnya lagi.

Konsep dasar tata kelola ini, juga mendapat apresiasi dari Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto.“Kalau kita lihat di RSUP itu bagaimana mereka membangun kanal. Kanal itu, meski musim kemarau airnya tidak akan habis, dan kalau musim hujan dia bisa menampung udara. Ini efektif sekali, ”kata Unggul. Ia menyebutkan salahsatu masalah klasik yang dialami perusahaan atau pemilik lahan adalah tingginya tingkat kebakaran pada musim kering dan kemarau.

“Kalau kita lihat yang kebakaran itu memang lahan yang kanalnya enggak ada. Ini (teknologi) sangat bagus, salahsatu contoh Perjuangan me-manage tata kelola air, ”terang Unggul. Beranjak dari itu, Direktur PT. RSUP Tay Ciatung menyebutkan bahwa pihaknya dapat segera mensosialisasikan konsep teknologi tersebut dalam pengelolaan lahan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan. Menurut Ciatung ia akan membangun komunikasi dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) yang memiliki kewenangan dalam konteks pengelolaan gambut di Indonesia.

Selain itu, perusahaan terangnya juga sedang mengembangkan konsep teknologi pupuk gambut (Bio Peat) yang bekerjasama dengan peneliti BPPT."Mudah-mudahan dengan adanya teknologi ini, baik itu tata kelola air dan Bio Peat, kami bisa bekerjasama dengan Pemerintah untuk memberikan yang terbaik," ucapnya lagi.

 


Reporter: Andhika Dinata

Editor: Aries Kelana

 

Andhika Dinata
12-08-2018 22:01