Main Menu

Indonesia International Book Fair Dibuka Hari Ini, Targetkan Indonesia jadi Pusat Transaksi Hak Cipta

Flora Librayanti BR K
12-09-2018 08:15

Tempat opening ceremony acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 akan dibuka untuk umum mulai hari ini. (Dok.IIBF/RT)

Jakarta, Gatra.com – Acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 akan dibuka untuk umum mulai hari ini sampai Minggu, 16 September besok. Berlokasi di Jakarta Convention Center (JCC), Komplek Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, helatan tahun ke-38 ini adalah hasil kerja sama antara Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

 

“Dulu namanya Indonesia Book Fair (IBF). Sejak 2014 kita kembangkan jadi skala internasional. Pada 2015, Indonesia jadi tamu kehormatan di Fankfurt Book Fair. Maka cita-cita kita jadi makin besar. Target kita IIBF ini bisa jadi hub untuk pasar transaksi hak cipta, minimal di Asia Tenggara,” jelas Ketua Umum IKAPI, Rosidayati Rozalina atau yang akrab disapa Ida.

Ide untuk menjadi pusat (hub) transaksi rights tersebut memang tidak muncul begitu saja. Alasan pertama, sebut Ida, melihat kekayaan konten yang dimiliki Indonesia. Tak heran ketika Indonesia hadir di Frankfurt, banyak peminat yang menunjukkan antusiasme mereka pada buku-buku Indonesia. “Kekayaan konten kita ini bisa kita jual ke pasar dunia,” sebut Ida.

Di sisi lain, dunia juga melihat Indonesia sebagai pasar yang besar. Maka, mereka bisa masuk ke pasar Indonesia lewat IIBF. Pada pameran tahun ini, setidaknya ada 16 negara luar yang berpartisipasi: Arab Saudi, Australia, Inggris, Cina, Maroko, India, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Mesir, Turki, Singapura, Uni Emirat Arab, Thailand, dan Tunisia.

Para penerbit dalam negeri sendiri pun masih banyak yang menerbitkan buku-buku terjemahan. Lewat IIBF, mereka bisa langsung bertemu penerbit-penerbit luar negeri dan tak hemat biaya karena tak perlu terbang ke Frankfurt atau London Book Fair, misalnya.

“Maka kita beraharap IIBF ini bisa jadi pusat transaksi jual-beli hak cipta baik dari luar ke dalam dan sebaliknya,” kata Ida.

Pada IIBF 2017, terjadi 36 transaksi rights dalam tiga hari saja. Tahun ini, panita menargetkan ada 45 transaksi rights. Perlu dicatat bahwa penjualan rights memang adakalanya bisa langsung saat pameran, tapi seringkali justru harus butuh waktu.

Kedua penerbit bertemu dan melihat buku yang diminati, saling bertukar file naskah, lalu dibawa ke kantor penerbit untuk dicek, baru bertemu kembali untuk menyepakati deal.

“Kalau negara yang membeli hak cipta kita itu biasanya negara serumpun. Misalnya dari Malaysia dan Singapura. Buku-buku anak karya Indonesia, baik dari sisi ilustrasi maupun ceritanya, sangat banyak diminati,” pungkas Ketua Panitia IIBF 2018, Amalia B. Safitri.


Flora L.Y. Barus

Flora Librayanti BR K
12-09-2018 08:15