Main Menu

Penggabungan Lembaga Penelitian ke Badan Riset Nasional Tidak Tepat

Birny Birdieni
13-09-2018 18:08

Kepala BPPT Unggul Priyanto. (Dok.BPPT/RT)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Kepala BPPT Unggul Priyanto menilai penggabungan seluruh lembaga penelitian dalam satu badan riset nasional sebagai langkah tidak tepat. Pernyataan ini menyusul dengan rencana Pemerintah membentuk badan riset nasional.


"Tidaklah tepat bila LIPI sebagai lembaga penelitian sains digabung dengan BPPT sebagai lembaga pengkajian dan penerapan teknologi," kata Unggul dalam rilis yang diterima Gatra.com, Kamis (13/9).

Unggul mengaku paham maksud pembentukan badan riset nasional adalah untuk efisiensi anggaran. Namun pertimbangan pembentukan lembaga semacam itu mestinya bukan semata efisiensi anggaran.

Baginya, efisiensi anggaran bukan hanya satu-satunya pertimbangan. "Yang jelas membuat satu lembaga riset lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi itu kan mesti melihat itu kompetensi khususnya itu gimana," ia menambahkan.

Menurutnya, kedua instansi itu diperlukan oleh negara. Namun bukan berarti kemudian harus digabung menjadi satu badan riset, sebab keduanya punya DNA berbeda.

Dijelaskan olehnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lebih banyak menggarap penelitian sains untuk menghasilkan penemuan baru atau invensi untuk inovasi. Sedangkan BPPT menghasilkan inovasi melalui proses rancang bangun atau perekayasaan tanpa melalui tahapan invensi.

LIPI merupakan instansi pembina jabatan fungsional peneliti. Adapun BPPT adalah instansi pembina jabatan fungsional perekayasa.

Menurut Unggul, butuh waktu dan perjalanan yang cukup panjang untuk membuat LIPI dan BPPT bisa berkembang hingga seperti sekarang. "Buat LIPI tidak gampang, butuh 50 tahun, dan BPPT butuh 40 tahun," ujarnya.

Penyatuan lembaga-lembaga itu ke dalam badan riset nasional pun dinilai Unggul berisiko membawa kerugian pada masa mendatang. Bisa mengancam hasil riset menjadi tidak tajam.

Selain itu, membutuhkan waktu tidak singkat untuk penyesuaian budaya kerja. "Kalau merger untuk budaya kerjanya saja butuh waktu lama bisa 10 tahun," tuturnya.

Dia memberikan masukan kalau terpaksa, mungkin bisa membuat semacam asosiasi badan riset, bukan merger atau penggabungan.

Jika ingin melakukan klasterisasi, minimal harus ada dua asosiasi, satu terkait riset yang bisa bergabung dengan LIPI dan satu yang terkait inovasi dan rekayasa bisa digabungkan dengan BPPT.


Birny Birdieni

Birny Birdieni
13-09-2018 18:08