Main Menu

BPPT Sempurnakan Sistem Pemeringkat Kebakaran Gambut

Rosyid
19-09-2018 08:59

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Unggul Priyanto. (Dok.BPPT/RT)

Jakarta, Gatra.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat ini  mengembangkan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran (SPBK) atau Fire Danger Rating System (FDRS) yang sesuai dengan kondisi alam Indonesia.

 

Karena sistem pemeringkat yang diterapkan di Indonesia saat ini, masih mengacu kepada sistem atau algoritma dari negara lain yang berada di daerah subtropis dan bertumpu pada data cuaca, sehingga tidak seluruh parameternya menjadi sesuai dengan wilayah Indonesia.

Dalam rangka untuk menyiapkan sistem pemeringkat untuk kondisi Indonesia, BPPT menggelar Seminar Nasional PTPSW 2018 dengan tema "Pengembangan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran Lahan Gambut (INA-FDRS)", Selasa (18/9).  

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Unggul Priyanto  menuturkan bahwa kajian dan riset di lahan gambut sejak lama telah dilakukan oleh BPPT, pun institusi lainnya, dalam hal jenis gambut, fisiografi, hidrologi dan morfologi lahan gambut, aspek sosial, aspek ekonomi, metodologi pemetaan sebaran dan ketebalan gambut.

“Hasilnya telah diimplementasikan dalam bentuk kebijakan pengelolaan lahan gambut, tata ruang wilayah, tata kelola pemanfaatan lahan gambut,” terangnya pada acara yang dilaksanakan di Kantor BPPT, Jakarta.

BPPT  ingin berkontribusi  membantu percepatan pengelolaan lahan gambut yang bermanfaat secara ekonomi namun tetap berlandaskan tata kelola lingkungan yang baik, serta mencegah terjadinya bencana, khususnya kebakaran di lahan gambut.

“Semoga teknologi BPPT ini dapat dimanfaatkan guna mengoptimalisasikan pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan. Kami juga harapkan sinergi dari para pemangku kepentingan, untuk mempercepat tujuan pemerintah dalam pengelolaan lahan gambut dan mitigasi kebakaran hutan pada lahan gambut,” ujarnya. 

Dalam rilis yang diterbitkan Humas BPPT disebutkan faktor-faktor yang menjadi parameter penentuan peringkat kebakaran gambut. Selain komponen cuaca, ada komponen aktivitas manusia dimana banyak kebakaran terjadi karena aktivitas yang tidak terkendali, jarak dan aksesibilitas menjadi pertimbangan utama. Kemudian komponen bahan bakaran yaitu berupa sebaran dan ketebalan gambut. Juga distribusi air gambut dan sumber air untuk mengatasi kekeringan gambut. Yang terakhir adalah komponen kerugian yang diderita dalam rupiah akibat kebakaran lahan gambut. Disini diperlukan Akuntansi Sumberdaya Alam (NRA/ Natural Resources Accounting) untuk memodelkan dan mendapatkan nilai kerugian sekaligus nilai potensi kerugian jika terjadi kebakaran pada penggunaan lahan tertentu.

Aplikasi sistem inipun dilakukan bersama dengan institusi terkait seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).  


Rosyid 

Rosyid
19-09-2018 08:59