Main Menu

Pendiri ''UangTeman'': dalam ''Free Market'', Pilihan Tergantung ''Demand''

Hendry Roris P. Sianturi
05-06-2017 09:23

CEO UangTeman, Muhammad Aidil Bin Zulkifli (GATRAnews/Hendry Roris/AK9)

Jakarta, GATRAnews - Industri Financial Technology (Fintech) telah berkembang pesat di Indonesia, salah satunya di sektor jasa dana pinjaman online. Januari lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan OJK No.77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) untuk melindungi kepentingan konsumen dan nasional.

POJK ini mengatur mekanisme peminjaman secara Peer-to-Peer (P2P). Dana pinjaman berasal dari investor yang berhubungan langsung dengan peminjam. Penyelenggara Fintech start-up hanya sebagai wadah yang mempertemukan pemberi pinjaman dan peminjam. OJK belum mengatur pemberian pinjaman dengan sistem Lending On Balance Sheet karena dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan.

“Berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional dalam jangka panjang, terlebih jika dana yang dipinjamkan berasal dari pinjaman perbankan dalam negeri dan/ atau berasal dari hasil penerbitan obligasi korporasi atau penerbitan saham di pasar modal Indonesia,” kata Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Rahmat Waluyanto kepada GATRAnews, pekan lalu.  

OJK juga meyakini Fintech dan lembaga keuangan konvensional, tidak akan saling berebut ceruk pasar. Sebaliknya, keduanya dapat berkolaborasi untuk menjangkau kebutuhan pinjaman masyarakat. “OJK berkeyakinan Fintech lending akan memberi kekuatan dan sinergi baru bagi sistem pendanaan nasional yang selama ini hanya diisi oleh perbankan, pasar modal, dan perusahaan pembiayaan serta modal ventura,” ujar Rahmat.

Salah satu, perusahaan Fintech yang sedang bergeliat dalam jasa peminjaman online adalah UangTeman.com. Saat ini mekanisme peminjaman di UangTeman masih berbasis Lending On Balance Sheet , dan dalam waktu dekat akan bertransformasi ke P2P Lending. Bagi UangTeman, sistem Balance Sheet lebih berisiko daripada P2P Lending.

Meski demikian, CEO dan Founder UangTeman.com, Muhammad Aidil Bin Zulkifli mengungkapkan, Lending On Balance Sheet,lebih menguntungkan secara pendapatan. “Kalau risiko rendah, keuntungan juga rendah. Kalau risiko tinggi, untungnya juga tinggi,” kata warga negara Singapura itu.

Lalu, apakah UangTeman akan beralih dari sistem Lending On Balance Sheet ke P2P Lending? Bagaimana UangTeman mengatasi kredit macet dan masalah kewajiban pembayaran, dengan memberikan pinjaman tanpa tatap muka dan agunan? Kepada GATRA, Aidil Bin Zulkifli menjelaskan panjang lebar tentang bisnis dana talangan UangTeman, Jumat (2/06/2017) di kantornya, Office 88 Kota Kasablanka lantai 3.

Aidil juga membeberkan beberapa informasi kekuatan tim apraisal UangTeman, yang menjadi unsur penting, lolos tidaknya aplikasi kredit nasabah. Berikut petikan wawancara wartawan GATRA, Hendry Roris Sianturi dengan Aidil Bin Zulkifli yang ditemani oleh Head of Public and Government Relations UangTeman, Rimba Laut:

 

Bisnis Anda, kenapa dinamakan UangTeman?
Awalnya, saya membuat bisnis ini, banyak orang bilang saya gila. Karena mau bikin bisnis memberikan dana talangan tanpa tatap muka. Tapi, secara filosofi jika kita memberikan pinjaman dan pertolongan kepada manusia dengan dasar kebaikan hati, saya percaya mereka ada keinginan untuk membayar balik. Itu dasarnya bagi saya. Ini terbukti dengan NPL (Non Performing Loan/ kredit macet) kita di bawah 3%. Oleh karena itu, kenapa namanya UangTeman, karena kita ingin nasabah kami menjadi teman kami. Uang dan teman itu nggak ada jaraknya. Makanya kita berteman dengan nasabah dan tidak kaku seperti bank.

 

Berapa standar NPL di dalam bisnis kredit online?
Sayangnya enggak ada di Indonesia. Kalau untuk Fintech (Financial Technology) itu beda dengan pembiayaan konvensional. Kalau kita ke konsumen. Kalau benchmarking di luar negeri, NPL untuk P2P lending itu, 5%-7%. Sedangkan UangTeman masih di bawah 3%.

 

Sejauh ini, bagaimana perkembangan bisnis kredit UangTeman?
Perkembangannya pesat. Sejak April 2015 hingga tahun 2016, kita sudah tumbuh 300%. NPL kita terkawal di bawah 3%. Kalau dibanding dengan NPL bank, konsumer kredit atau KTA (Kredit Tanpa Agunan), itu 6%-8%. Jadi kita dibawah 3%, itu bagus dan cukup aman.

 

Sudah berapa besar kredit yang disalurkan?
Hingga saat ini kami sudah memberi pinjaman lebih dari Rp.60 milyar. Setiap bulan kita tumbuh 10%-20%. Ini menunjukan animo masyarakat cukup tinggi untuk jasa produk kami yaitu, produk dana talangan.

 

Total nasabah UangTeman? 
Jumlah nasabah sudah lebih dari 6.000 nasabah.

 

Sebanyak 6.000 orang itu dari kalangan mana saja?
Kebanyakan karyawan tetap, karyawan swasta dan pegawai negeri dengan penghasilan tetap. Mereka butuh dana, untuk membuat bisnis, kayak online shop atau bisnis startup. Selain itu, ada juga dari kelompok kecil dengan penghasilan tidak tetap. Misalnya gojek atau uber driver. Mereka butuhkan dana harian, sedangkan bank tidak melayani mereka. Karena penghasilannya Rp. 3 juta – Rp.6 juta.

 

Apa yang membuat UangTeman berani memberikan pinjaman ke nasabah tanpa tatap muka, sementara bank saja khawatir?
Kita menggunakan teknologi canggih untuk memilih nasabah. Kita sudah berinvestasi pada business development untuk menciptakan sistem algoritma-algoritma dan teknologi yang berinovasi di Indonesia. Contohnya, kami baru meluncurkan program, dengan mencairkan pinjaman dalam 15 menit dari saat pengajuan aplikasi hingga uang masuk ke dalam rekening. Bahkan kita sudah pernah mencairkan dengan durasi 6 menit saja kepada nasabah. Jadi kita sudah memiliki teknologi itu.

 

Berapa nilai investasi bisnis Anda?
Kita sudah mendapat investasi lebih 2 juta USD sebagai ekuitas dalam 2 tahun.

 

Sumbernya darimana?
Digital Alpha Group Pte Ltd, UK inggris, USA dan Singapura.

 

Produk UangTeman apa saja?
Kita berikan pinjaman Rp. 1 juta – Rp. 4 juta saja untuk nasabah. Nasabah yang pertama minjam, kita ada limit Rp. 3 juta plafonnya. Tapi untuk nasabah yang sudah pernah minjam, itu dinaikkan Rp. 4 juta. Tempo waktunya 30 hari maksimal. Biaya layanan atau bunga kalau di bank, untuk nasabah pertama, itu 1% per hari. Kalau untuk yang sudah pernah minjam dan bagus performance-nya, itu akan turun 0,7%. Kalau sudah lunas, dan mau minjam lagi, untuk pinjaman kedua, biaya layanannya 0,9% per hari. Kalau sudah lunas lagi, mau minjam untuk pinjaman ketiga 0,8%. Sedangkan pinjaman keempat dan seterusnya, itu 0,7%.

 

Kalau pengaturan tenor pelunasan seperti apa?
Tingkat pengembalian pinjaman di UangTeman itu minimal 10 hari dan maksimal 30 hari. Yang menguntungkan bagi nasabah, kalau sejak awal nasabahnya sudah mengajukan pinjaman selama 30 hari, berarti total bunga biaya layanannya 30% untuk nasabah pertama. Kalau Si Nasabah mau melunasi selama 10 hari, maka biaya layanan yang dihitung hanya 10 hari. Berarti biaya layanannya hanya 10%.

 

Bunganya nggak kompetitif?
Kalau soal bunga atau biaya layanan memang kita tinggi. Kenapa? Karena kita menginginkan nasabah memperoleh pinjaman lebih cepat dan praktis. Mayoritas nasabah kami berasal dari segmen yang tidak dilayani bank. Kadang mereka terpaksa minjam dari rentenir yang bunganya bisa sampai 10% per hari. Kalau kita kan beri 1% per hari. Memang pada dasarnya tinggi. Tetapi bagi perusahaan, risikonya juga tinggi. Karena nggak ada jaminan pinjaman. Dan tidak perlu tatap muka. Tapi nasabah sebenarnya nggak pernah mempersoalkan bunga tinggi. Justru mereka sering complain ke kita karena pinjamannya terlalu rendah. Jadi berdasarkan pengalaman kami, warga Indonesia tidak terlalu memikirkan biaya layanan atau bunga. Mereka pikirkan tentang akses.

 

Jika risikonya tinggi, bagaimana tim apraisal menseleksi calon nasabah?
Mereka ditolong oleh teknologi alogaritma untuk memilih nasabah. Tim operasi kami akan memvalidasi data yang sudah diberikan calon nasabah. Kalau data yang di requirement sudah diberikan dan divalidasi, maka akan cair ke nasabah. Requirement yang dibutuhkan pertama swafoto, KTP dan slip gaji. Itu saja.

 

Anda juga berani melakukan ekspansi ke luar Pulau Jawa?
UangTeman memang satu-satunya Fintech (Financial Technology) yang sudah mulai masuk ke luar Pulau Jawa. Di Pulau Jawa sendiri kita sudah ada di Jabodetabek, Jogja, Surabaya, Semarang, Bandung. Kalau di Luar Pulau Jawa, tahun 2017 ini, kita mulai buka di Bali, Makasar, Lampung, Palembang, Jambi dan Balikpapan. Dan kita sudah ukur (risikonya).

 

Dengan ekspansi itu, bagaimana target kinerja tahun 2017 ini?
Kita targetkan penyaluran kredit hingga Rp.100 milyar. Jika dibandingkan pencapaian tahun 2016, kenaikannya 300%-400 %.

 

Bagaimana tindakan UangTeman pada nasabah yang ngemplang, kabur atau meninggal dunia?
Risiko-risiko itu sudah diketahui UangTeman dan sudah kita pikirkan. Tergantung kasus per kasus. Kalau sudah meninggal, berarti sudah takdir saja. Hehehe. Kalau itu kita lepaskan. Tapi kalau kabur atau nggak mau bayar, padahal sudah ada kesepakatan harus membayar, kita sudah ada tim collection yang akan coba menagih utang itu.

 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan Peraturan Nomor 77/POJK.01 /2016 tentang model bisnis Peer to Peer (P2P) lending. Apakah bisnis Anda masuk kategori aturan tersebut?
Uang Teman tidak termasuk dalam POJK Nomor 77, karena kita balance sheet lending (memberikan dana pinjaman langsung kepada konsumen). Tapi, kalau kita mau masuk ke POJK No. 77, itu pun nggak bermasalah. Tapi Pemegang saham PT Digital Alpha Indonesia, yaitu UangTeman, itu dari perusahaan di Singapura. Kita berdiri sebagai PMA (Penanaman Modal Asing). Investasi dari Singapura lalu disalurkan ke Indonesia.

 

P2P lending melarang penyelenggara untuk memberikan pinjaman secara langsung kepada masyarakat. Sementara Anda menggunakan model balance sheet lending. Berarti mau berubah ke P2P Lending atau tetap bertahan di On Balance?
Masih sedang dibereskan sekarang dan kita sesuaikan. Tapi, kita juga menunggu peraturan on balancing lending, karena kata OJK akan ada peraturan untuk Balance Management. Nanti balik lagi kalau sudah ada. Tetapi pada dasarnya, kita mau patuh kepada regulasi yang keluar. Dan oleh karena itu, kita serius untuk melihat POJK No. 77 ini. Kalaupun nggak ada regulasi untuk balancing on landing, kita akan ubah jadi P2P lending.

 

Sampai saat ini, izin P2P lending seperti yang diperintahkan Peraturan OJK, apa sudah ada?
Kita saat ini sedang membereskan izin dari OJK di bawah payung hukum POJK No.77 tadi. Ada waktu enam bulan dari yang ditetapkan sejak Desember 2016. Tapi ada rencana untuk perpanjangan izin di tahun ini.

 

Sudah enam bulan, izin belum keluar. Apa kendala mengurus izin dari OJK?
OJK kan sedang seleksi pimpinan OJK. Jadi menurut saya, OJK sedang menunggu komisioner baru.

 

Secara keuntungan, bagaimana perbandingan antara On balancing dan P2P lending?
Menurut saya, kalau kita berubah menjadi P2P lending, akan merubah sistem operasional dan sumber dana kami. Jadi sumber dana itu, kalau itu on balancing lending, kita bisa masuk ke rekening bank. Tapi P2P lending itu nggak boleh. Dan perusahaan UangTeman, nggak bisa sentuh uang itu. Uang itu akan disalurkan oleh investor langsung ke nasabah. Itu bedanya.

 

Lalu, secara risiko, mana yang lebih tinggi?
Kalau untuk investor, tentu P2P lending lebih berisiko. Tapi kalau on balancing lending, risiko terbesar itu UangTeman. Karena kita menggunakan uang sendiri.

 

Kalau risikonya lebih tinggi, kenapa tidak beralih ke model P2P lending saja?
Kalau risiko rendah, keuntungan juga rendah. Kalau risiko tinggi, untungnya juga tinggi.

 

POJK No.77 juga memberikan ruang investor asing 85%?
Struktur 85% dan 15%, ini kita bisa nanti menjual saham kepada mitra lokal. Tapi saat ini saham kita ada yang dimiliki lokal.

 

Berapa persen?
Itu close.

 

Sampai sekarang, apa sudah coba ditawarkan saham yang mayoritas dari asing ke lokal?
Sampai sekarang sedang didiskusikan kepada OJK, karena OJK pun ada rencana untuk menerbtikan peraturan on balancing lending. Itu rencananya terbit pada Bulan Juni atau Juli untuk perusahaan yang bergerak di balancing lending. Kita selalu diskusi, mungkin kita akan mendapatkan pendaftaran dahulu, sebelum itu, kita lihat apa perkembangan di regulasi.

 

Berapa persen Return on Investment (ROI) yang diterima investor?
Itu rahasia. Tapi pasti lebih tinggi di UangTeman daripada di P2P lending. Kalau di P2P mencapai 18% returnya per tahun. Tapi di UangTeman lebih tinggi. Menggairahkan untuk investor tapi, kita pakai dana dari investor yang cocok dan sangat selektif.

 

POJK No.77 juga belum mengatur batasan bunga pinjaman Fintech? Sebenarnya yang ideal itu 1% per hari atau seperti apa?
OJK enggak perlu ngatur bunganya, karena itu terserah masyarakat. Karena masyarakat banyak pilihan. Mereka bisa ke bank, ke P2P lending, koperasi. Itu silahkan ke mereka. Menurut saya, itu free market tergantung demand. Kita nggak paksa minjam dari kita. Itu terserah kepada nasabah. Itu lebih bagus terserah market and demand. Kalau OJK membatasi bunga, itu akan membatasi bisnis Fintech juga.

 

Bagaimana penilaian OJK terhadap besaran bunga yang ditetapkan UangTeman 1% per hari ke nasabah?
Setelah UangTeman berdiskusi dengan OJK, UangTeman adalah solusi untuk masyarakat, yang sulit mengakses perbankan. Yang bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat itu adalah UangTeman. Sehingga OJK mengerti, 1% biaya pelayanan per hari dari UangTeman, OJK melihat UangTeman memberikan tanpa jaminan. Sehingga dampak kerugiannya yang lebih besar ke UangTeman. Sehingga OJK tidak ada regulasi dari batasan sisi bunga.

 

Bagaimana komposisi pegawai di UangTeman ini?|
Semua WNI (Warga Negara Indonesia), 99,99% adalah WNI. Total pegawai 103 sampai 105 pegawai. Dan akan bertambah terus sampai akhir tahun. Cuma saya saja yang dari Singapura.

 

Biodata Aidil Zulkifli:

Nama Lengkap             : Muhammad Aidil Bin Zulkifli

Kewarnegaraan             : Singapura

Tempat Tanggal Lahir    : Singapura, 22 Oktober 1985

Alamat                        : Jakarta Selatan

Pendidikan                   : S1 Fakultas Hukum NUS - National University of Singapore

Hobi                            : Membaca, music, olahraga dan koleksi batik

Pengalaman Karir           :

CEO UangTeman.com (2014-sekarang)

CEO kreditaja.com (2012-2014)


Reporter: Hendry Roris Sianturi

Editor: Nur Hidayat

Hendry Roris P. Sianturi
05-06-2017 09:23