Main Menu

Ridesharing meningkatkan efisiensi ekonomi hingga Rp138 triliun

Rosyid
08-06-2017 11:06

Presidium MTI Muslich Zainal Asikin (Gatra/Arif Koes Hernawan/AK9)

Yogyakarta,GATRAnews -  Presidium Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai transportasi berbasis online merupakan masa depan angkutan umum di Indonesia. Selain ketidakmampuan pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat akan angkutan massal, angkutan online menjawab keinginan masyarakat akan angkutan yang cepat dan tepat waktu.

Paparan ini disampaikan Presidium MTI Muslich Zainal Asikin dalam diskusi hasil riset ‘Kajian Mobilitas Urban di Indonesia: Peran Mobilitas Bersama pada Tahun 2020’ di DI Yogyakarta, Selasa (6/6). “Di tengah kebutuhan masyarakat akan angkutan umum yang masih besar, pemerintah malah tidak bisa memenuhinya. Ini hampir terjadi di semua daerah, tidak hanya DI Yogyakarta. Kehadiran aplikasi yang memberikan layanan berbagi tumpangan (ridesharing) adalah momentum menjawab kebutuhan itu,” jelas Muslich.

Terlebih ketika harus menjawab tantangan penyediaan angkutan publik yang mampu memenuhi tingkat penyebaran penduduk yang semakin besar, transportasi berbasis aplikasi online bisa menjawabnya dalam dua-tiga tahun terakhir. Ini berbeda dengan pemerintah yang hingga puluhan tahun belum bisa memenuhinya.

Kehadiran transportasi online ini menurut Muslich juga menjadi jawaban akan lapangan pekerjaan. Sehingga kehadiran angkutan online saat ini tidak bisa dihindari seperti halnya perkembangan tehnologi. Selain itu, angkutan online juga menjawab tantangan penggunaan kendaraan pribadi secara maksimal. Kendaraan pribadi digunakan untuk mencari nafkah. Fenomena ini banyak mengurangi kendaraan pribadi yang dikendarai satu penumpang saja.

“Tinggal sekarang bagaimana pemerintah mengeluarkan regulasi agar angkutan konvensional dan online bisa berjalan bersama. Ini bukan persaingan. Ini melengkapi apa yang sudah ada. Angkutan konvensional juga bisa turut menggunakan aplikasi ini dan sudah terjadi di Jakarta,” lanjutnya.

Menurut Muslich, penolakan oleh angkutan konvensional sudah pasti terjadi sebagai suatu proses. Selanjutnya, siapa yang bisa memberikan layanan lebih baik kepada pengguna, itulah yang akan hidup.

Adapun Head of Public Policy and Government Relation Uber Indonesia John Colombo menjelaskan kehadiran ridesharing  memberi dampak positif bagi penggunanya dan kehidupan perkotaan Indonesia. “Aplikasi ridesharing di Indonesia akan memberikan dampak signifikan pada 2020 dalam beberapa hal. Pertama meningkatkan efisiensi ekonomi hingga Rp138 triliun,” kata Colombo berdasar pada survei Alphabeta ‘Meninjau Kembali Mobilitas Urban di Indonesia: Peran Layanan Mobilitas Bersama’.

Dampak aplikasi ridesharing kedua adalah membuka inklusivitas keuangan bagi 400.000 warga dan peluang ekonomi yang fleksibel bagi 7 juta orang. Ketiga, mengurangi beban lingkungan hidup dari emisi karbon sebanyak 159 ribu MT. Terakhir, mengubah ketergantungan pada kendaraan pribadi hingga lebih dari 60%.

“Dari penelitian ini, kami ingin mengajak pemerintah di kota-kota besar untuk bersama membuka manfaat penuh dari mobilitas bersama para penumpang dan mitra pengemudi. Tidak terkecuali angkutan konvensional yang sudah berjalan,” pungkas John.



Reporter: Arif Koes Hernawan
Editor: Rosyid
 

Rosyid
08-06-2017 11:06