Main Menu

Borneo Skycam “Membelah Langit Khatulistiwa”

Rosyid
05-03-2018 21:21

Tim Borneo Skycam menyiapkan drone bertenaga surya (Dok. Borneo Skycam/re1)

Jakarta, Gatra.com - Sebagai negara tropis yang sangat luas dsngan ribuan pulau, pemantauan lewat udara menjadi lebih efektif.


Kondisi tersebut dilihat sebagai peluang oleh tim Borneo SkyCam, sebuah startup pengembang perangkat pengawas berbasis pesawat nirawak (drone).

Sampai saat ini, pengembang pesawat tanpa awak masih menggunakan baterai dan minyak sebagai bahan bakar utama, hal ini menguras waktu yang membuat waktu terbang yang hanya maksimal 2 jam sekali terbang.

Hal ini yang membuat Borneo Skycam membuat project bertajuk “Membelah Langit Khatulistiwa”. Borneo Skycam mengembangkan sebuah pesawat dengan lebar sayap 3 meter dan menggunakan tenaga sinar matahari.

Project ini rencananya akan diluncurkan pada 21 Maret 2018 di Pontianak, kota yang dilewati oleh Garis lintang 0 Derajat, dan juga bertepatan dengan Titik Kulminasi matahari. Target dari Project ini adalah terbang selama 16 Jam dan live streaming di Youtube pada view kamera pesawat.

"Harapan dari project ini adalah, kedepan teknologi ini bisa digunakan untuk survey menjangkau daerah terluar Indonesia, kebutuhan militer, pemetaan wilayah luas, serta alat telekomunikasi mobile," demikian pernyataan tertulis Borneo Skycam yang diterima Gatra.com Senin (5/3).


Editor: Rosyid

Rosyid
05-03-2018 21:21