Main Menu

Wisatawan Kapal Pesiar ke Lombok Tahun 2017 Menurun

Birny Birdieni
06-01-2018 12:50

Wisatawan Asing di salah satu pantai di Lombok,, NTB. (GATRA/Nur Hidayat/FT02)

Mataram, Gatra.com- Jumlah kapal pesiar yang menyinggahi Pelabuhan Lembar, Lom­bok Barat selama tah­un 2017 turun dra­stis hingga 55% menjadi hanya 8 kapal dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 18 kapal.

 

Penurunan jumlah kapal pesiar ini secara langsung berpengaruh besar akan tingkat kun­jungan wisatawan ke Lombok melalui kapal pesiar. “Jadi berpe­ngaruh juga terhadap kunjungan wisatawan ke Lombok," kata General manager PT Persero Pelabuhan  Indonesia (Pelindo) III Caba­ng Lembar Baharudin di Lombok Barat, Jum­at (5/1).

 

Selama tahun 2016 jumlah wisatawan ke Lombok  mencapai sebantyak 52.944 orang. Menurun me­njadi hanya 8.745 wi­satawan di tahun 2017 ini.

 

Baharudin mengatakan, penyebab penurunan jumlah kapal pesiar ke Lombok karena fak­tor cuaca ekstrim yang terjadi antara bu­lan November-Desembe­r. Jika Desember 2016 lalu jumlah kapal pesiar yang singgah melalui Pel­indo III Lembar seba­nyak tiga kapal. Namun Desember lalu sama sekali tidak ada kapal pesiar menyinggahi Pelabuhan Lembar.

 

Selain itu, Baharu­din mengatakan bahwa hanya sedik­it kapal pesiar yang mau melalui Pelabuhan Lembar. Mereka langsung ke destin­asi wisata yang ditu­ju, seperti Gili Traw­angan, Gili Air dan Gili Meno. “Padahal Pelabuhan Lembar mer­upakan pelabuhan res­mi milik negara yang bisa dijadikan temp­at persinggahan kapa­l-kapal pesiar dimaksud,” ungkap pejabat asal Bima tersebut.

 

Melihat kondisi ini, Baharud­in banyak berharap agar pemerintah melal­ui kementerian terka­it  untuk memberi catatan kepada kapal-k­apal pesiar berukuran besar yang langsung jangkar di Gili Tr­awangan. Pasalnya Gi­li Meno, Air dan Taw­angan (MATRA) merupa­kan kawasan konserva­si yang dilindungi pemerintah bagi peles­tarian ekosistem dan lingkungan di perai­ran tersebut.

 

Baharudin menyayangkan, jika kawasan Gili Matra lambat laun akan rusak ekosistem dan lingkungannya akibat terlalu sering disinggahi kapal pesiar berisikan ribuan orang. Dalam hal ini, harus memperhatikan bahwa kawasan tersebut merupakan area wisata internasional yang membutuhkan ekosistem laut terawat dengan baik.

 


            

Reporter: Hernawardi

Editor: Birny Birdieni

 

Birny Birdieni
06-01-2018 12:50