Main Menu

Destinasi Wisata di Tabanan Jadi Contoh Digitalisasi Transaksi BI

Fahrio Rizaldi A.
16-01-2018 12:38

Destinasi Wisata Tabanan. (Dok. Pemkab Tabanan/FT02)

Denpasar, Gatra.com - Kepariwisataan Indonesia yang semakin berkembang, mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan juga diberikan oleh perbankan. Kali ini, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas perbankan nasional akan mengaplikasikan sistem transaksi digital di destinasi wisata.


Sebagai pilot project, skema ini akan dirilis di sejumlah destinasi pariwisata di Bali. Kabupaten Tabanan dipilih sebagai wilayah percontohannya. Tabanan memiliki sejumlah destinasi wisata andalan, antara lain Tanah Lot, Danau Beratan Bedugul, terasering Jati Luwih, dan masih banyak lagi.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Causa Iman Karana dalam keterangan tertulis, Selasa (16/1), menyampaikan, program ini juga untuk mendukung pengaplikasian gerakan nasional nontunai daerah.

"Kami harus memberikan banyak opsi bertransaksi bagi wisatawan di Bali. Dengan model transaksi ini, semua akan dimudahkan. Kami juga harus mendukung dan mengaplikasikan program pemerintah," ujar Causa.

Konsep ini, lanjut Causa, sudah dimatangkan dan dikoordinasikan dengan pemangku kepentingan di daerah. "Pembicaraan dengan beberapa pihak sangat intensif, termasuk Pemerintah Kabupaten Tabanan. Secara teknis sudah tidak ada masalah. Jadi, bisa dilaksanakan dalam waktu dekat," katanya.

Beberapa daerah tujuan wisata (DTW) di Tabanan sudah disiapkan sebagai prototype. Antara lain Tanah Lot, Alas Kedaton, Danau Beratan, dan Jatiluwih yang sudah siap menggunakan sistem transaksi berbasis uang elektronik.

"Destinasi pariwisata itu sangat potensial menggunakan pembayaran uang elektronik ini. Daya tariknya juga luar biasa besar dan banyak wisatawan di sana," ujar Causa.

Tanah Lot dikunjungi 3,49 juta wisatawan pada 2017,  Alas Kedaton adalah hutan kera yang sangat diminati sebagai wisata keluarga. Pada periode liburan Umanis Galungan, hari raya adat bagi umat Hindu Bali, Alas Kedaton berhasil menjual 2.200 lembar tiket, baik 15% dari periode liburan Umanis Galungan 2016 lalu.

Danau Beratan yang terkenal lewat Pura Ulun Danu-nya termasuk kawasan favorit yang dikunjungi 2.000 sampai 2.500 wisatawan setiap harinya. Sementara Jatiluwih yang menyajikan panorama terasering persawahan has Bali itu telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Jatiluwih dikunjungi 600 wisatawan mancanegara. Mayoritas wisman yang mengunjungi Jatiluwih berasal dari Prancis. Jumlah kunjungan ke Jatiluwih terkoreksi naik 30% setiap tahunnya.

"Masing-masing destinasi punya kekuatan tersendiri. Secara sistem, model pembayaran uang elektronik bisa dilakukan dibanyak destinasi di Bali. Tapi, kami mencoba dari Tabanan," kata Causa. 

Bagaimana teknis pelaksanaan digitalisasi transaksi di Tabanan ini? Causa menerangkan, pembayaran sistem non tunai akan berlaku untuk tiket masuk. Selain tiket, sistem ini juga akan diterapkan untuk pembayaran parkir.

"Kami akan fokus di tiket dan parkir. Dengan begitu, tata kelola akan tercatat dan bisa mengukur PAD lebih detail. Untuk hal ini, Tabanan yang sangat siap," terangnya.

Tabanan memiliki PAD Rp 324 milyar pada tahun 2017. Dari jumlah realisasi itu, pajak retribusi paling kecil kontribusinya. Angkanya hanya Rp 53 juta saja. Income itu berasal dari 2 lahan parkir yang bisa dipungut yaitu Hardys dan KFC Tabanan. Mereka pun menargetkan PAD Rp 409,2 milyar di tahun 2018.
 
Sistem transaksi digital ini mereplikasi pembayaan nontunai Tol Bali Mandara. Masyarakat bisa menggunakan kartu uang elektronik beberapa bank penerbit. "Gambarannya sama persis dengan Tol Bali Mandara. Silakan pilih kartu uang elektronik. Pakai kartu dari bank mana saja bisa. Nanti tinggal tempel di alat khusus yang disiapkan," kata Causa.

Tidak perlu khawatir, bila limit saldo habis, wisatawan bisa mengisinya pada pusat atau fasilitas bisnis milik umum. Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mengatakan, beberapa pelaku binis akan digandeng sebagai tempat top up. Lokasinya juga akan diatur sedemikian rupa untuk menunjang gerak wisatawan.

"Secara internal, Tabanan siap mengaplikasikan transaksi non tunai ini. Destinasi yang dipilih sudah tepat dan tidak ada masalah. Sekarang kita persiapkan fasilitas isi ulang uang elektroniknya. Saat ini kami sedang berkordinasi dengan perbankan dan toko-toko modern. Sehingga wisatawan lebih leluasa kalau mau isi ulang," ujar Eka

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menilai transaksi non tunai harus dikembangkan di setiap destinasi. Sebab, digitalisasi destinasi sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Layanan yang cepat, mudah, dan jangkauan yang luas, menjadi alasan untuk memperkuat transaksi digital.

"Perubahan gaya hidup yang semakin go digital telah mengubah segalanya. Penerapan transaksi non tunai di Tabanan sangat bagus. Sistem ini harusnya juga dikembangkan di wilayah dan destinasi lain di Indonesia. Sekarang eranya sangat digital. Wisatawan membutuhkan yang praktis dan serba cepat," tandas Arief. 


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Iwan Sutiawan

Fahrio Rizaldi A.
16-01-2018 12:38