Main Menu

Menpar Minta Lion Air Tambah Kapasitas Penerbangan

Fahrio Rizaldi A.
09-02-2018 23:12

Menteri Pariwisata, Arief Yahya(GATRA / Erry Sudiyanto/re1)

Jakarta, Gatra.com - Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya terus berupaya mendorong industri yang mendukung sektor pariwisata nasional. Belum lama ini, Arief mengadakan road show ke sejumlah maskapai dan industri penerbangan.


Menurut Arief, akses transportasi udara adalah hal yang penting karena seberapa hebat pun promosi, tanpa disiapkannya akses menuju Indonesia akan sia-sia. "Karena itu, syarat pengembangan destinasi 3A [Atraksi, Akses, Amenitas] itu harus pasti dulu. Nah, akses itu 75% wisman masuk ke Indonesia melalui jembatan udara, sisanya via penyeberangan dan crossborder," ujarnya.

Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (9/2), mengatakan, karena itu ia harus memastikan akses transportasi udara itu cukup untuk mengangkut wisman, karena dengan target 17 juta, masih ada kekurangan sebanak 1,1 juta seats capacity. Konektivitas udara pun harus dikuatkan karena ini menyangkut 3A, yakni Airlines, Airports dan Authority, dalam hal ini Air Navigation dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Arief pun tak segan-segan keliling ke sejumlah maskapai dan pihak terkait. Targetnya, untuk menutup defisit 1,1 juta international flight seats tahun ini. Caranya? Fokus pada pasar utama pariwisata, optimalisasi low season, dan menyarankan dibukanya rute baru. Ada juga program stimulus atau insentif yang sudah disiapkan.

Opsi-opsi itu menjadi isu road show Menpar. Dalam lawatannya, maskapai Lions Air Group pun termasuk yang dipilih Menpar sebagai rekan audiensi yang pertama. Lokasi pertemuan ada di Lion Air Tower, Jakarta. Memimpin delegasi, Menpar pun diterima langsung Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait. Menpar mengatakan, dukungan diperlukan guna memenuhi slot 25 juta kursi flight internasional.

"Arus masuk wisatawan mancanegara didominasi melalui udara. Total kebutuhan tahun ini ada 25 juta seats. Dari jumlah itu masih kurang 1,1 juta seats. Rencananya, penambahan terbesar 600 ribu seats itu untuk Bali. Jakarta 400 ribu seats, lalu sisanya melalui bandara lainnya. Untuk itu, kami meminta Lions Air Group untuk ikut membantu menyediakan kursi baru," ungkap menteri asal Banyuwangi, Jawa Timur tersebut.

Mengacu pada data Kemenpar, ada lima pasar yang bisa diekplorasi lagi oleh maskapai. Ada pasar Tiongkok, Eropa, Australia, Singapura, juga India. Pada 2017, jumlah wisatawan Tiongkok 1,91 juta atau tumbuh 42,22%. Eropa ada 1,74 juta wisman, lalu tumbuh 14,12%. Australia (1,10 juta), Singapura (1,31 juta), dan India (434,19 ribu).

"Tiongkok sudah jadi pasar utama. Untuk Eropa dijadikan satu karena identik. Meski nomor dua, tapi pasar Eropa menjadi penyumbang devisa terbesar. India juga sangat unik. Pertumbuhannya besar 29%. Kondisi ini harus lebih dioptimalkan lagi. Malaysia, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang tetap menjadi market penting," papar Arief.

Selain pasar potensial, maskapai harus jeli dan terbuka melihat moment saat low season. Mengusung konsep sharing economy, low season bisa disikapi dengan discount. Besarannya adalah 30 sampai 40%. Penurunan harga ini berlaku menyeluruh yakni untuk maskapai, akomodasi,
bahkan destinasi.

Arief menambahkan, Lion Air pun harus terbuka terhadap tata waktu kapan terjadinya low season tersebut. "Kami ingin Lion Group dan maskapai lain memberitahukan kapan low season itu terjadi. Kondisi ini nanti akan disikapi dengan sharing economy. Tidak perlu ditutupi karena akan dirahasiakan. Saat low season, maka semua akan ikut. Besarnya bisa 30 atau 40%. Nanti kalau ada yang tidak mau ikut, maka sanksi sosial akan diberikan. Kebijakan ini dilakukan agar industri tetap jalan," tandasnya.

Bagaimana dengan penambahan rute baru? Melihat faktor eksternal, treatment ini sangat terbuka. Lalu, internal Lion Air memenuhi prasyarat ini. Pertumbuhan international seats-nya 70,4% di 2017. Angka riilnya 2,97 juta. Lion Air pun kini ada di strip tiga. Posisi teratas ditempati AirAsia Group dengan kursi 4,67 juta, atau tumbuh 9%. Berikutnya Garuda Indonesia dengan 3,37 juta kursi, tumbuh 8,6%.

"Progress Lion Air sangat bagus. Lion Air pada 2016 hanya tumbuh 18,5%. Tapi, kapasitas kursinya kini tumbuh signifikan 70,4%. Dengan fakta ini, Lion Air harus membuka rute baru lagi. Fokuskan ke pasar utama. Hubungkan dengan destinasi yang mengalami kenaikan kunjungan," tuturnya.

Dari 19 pintu besar angkasa, ada 6 bandara dengan pertumbuhan fantastis yakni Bandara Ngurah Rai (Bali), Kualanamu (Medan), Sam Ratulangi (Manado), Internasional Lombok (NTB), Sultan Syarif K. II (Riau), dan Adi Sucipto (Yogyakarta).

"Pertumbuhan masuk wisman di bandara itu besar. Bali tumbuh 20,93%. Sam Ratulangi 90,8%, lalu Lombok 37,2%. Yogya tumbuh 28,1%. Ini harus dimanfaatkan, termasuk di Bandara Soekarno-Hatta," tutur Menpar.

Mengenai strategi promosi, Kemenpar telah merancang sejumlah agenda, seperti pameran, sales mission, dan farm trip. Agenda tersebut bisa menjadai stimulus untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait menjelaskan, ada enam rute baru yang sedang diproses dengan Tiongkok sebagai tujuannya. Poros Tiongkok di antaranya akan terhubung dengan Lombok dan Batam. Selain itu, rute Bali dan Jakarta ke Korea Selatan juga telah disiapkan.

"Kami tetap fokus mengembangkan rute dan kapasitasnya. Semua masih proses. Kami bahkan menjajaki rute Lombok-Tiongkok. Rute reguler Korea-Jakarta pada Mei sudah aktif. Kalau dari Bali menuju Incheon dan Busan bisa jalan di Juni. Bahkan, charter flight dari Batam ke Busan dan Incheon segera jadi rute reguler. Kami juga ajukan rute tiga kali seminggu dari Belitung ke Kuala Lumpur," katanya.
 
Edward berjanji Lion Air akan menganalisa peluang penambahan rute baru ke Tiongkok. Sebab, Lion Air sudah merencanakan pembelian 39 armada baru. "Kami akan percepat proses analisis ini. Sebab, kami terbentur dengan kapasitas bandara. Makanya, kami justru mengembangkan rute baru dari Medan dan Batam. Kalau tujuannya Korea Selatan justru oke," ujar Edward.


Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Iwan Sutiawan

Fahrio Rizaldi A.
09-02-2018 23:12