Main Menu

Kedai Kopi di Belitung Jadi Tempat Curhat

Tian Arief
13-03-2016 18:43

Kedai Kong Djie Coffee (ANTARA News/Ida Nurcahyani)

Jakarta, GATRAnews - Bagi orang Belitung, salah satu pulau besar di Provinsi "Laskar Pelangi" Bangka Belitung (Babel), ngopi di kedai sudah menjadi tradisi. Mulai dari kakek hingga cucunya, semua berkumpul di kedai yang rata-rata berusia puluhan tahun, dengan peralatan pembuatan kopi yang relatif tidak berubah sejak kedai itu pertama kali dibuka.

Menurut laporan Antara, saat mengikuti wisata media visit gerhana Matahari total (GMT) di pulau kampung halaman Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu, Rabu pekan lalu, di Belitung terdapat dua kedai kopi tersohor; kedai Kopi Ake di kawasan Kafe Senang, tak jauh dari Bundaran Tugu Batu Satam, dan kedai Kong Djie Coffee di depan Gereja Regina Pacis, tak jauh dari bundaran Tugu Batu Satam, Tanjung Pandan.
 
Saat memasuki kedai Kopi Ake maupun Kong Djie, tampak orang-orang bersantai sambil mengobrol dengan bebasnya, seperti di dapur milik neneknya sendiri.

Kendati demikian, di kedai Kopi Ake, orang-orang masih menjaga sikapnya, dengan duduk sopan di bangku secara wajar, dan menyesap kopinya sambil menikmati suasana jalanan Belitung. Tapi di kedai Kong Djie, pemandangannya jauh lebih bervariasi. Orang-orang bisa duduk sambil mengangkat kaki ke bangku dan bermain catur. Ada pula yang membaca koran kemarin sore, dan ada yang sambil dipijit telapak kakinya.

"Kebiasaan orang di sini dulu main catur gajah. Catur gajah itu catur yang suka dimainkan orang Cina. Selain itu, sejarah minum kopi di sini, erat kaitannya sama SDSB jaman Soeharto dulu. Orang-orang kemari membaca arti mimpi mereka ramai-ramai," kata Ishak, pemilik Kong Djie.

Bukan hanya orang Melayu, orang Hakka, maupun orang Hokkian. Tapi orang Sunda, Jawa, Batak, dan suku-suku lain, nongkrong di kedai kopi Kong Djie. Aksen kental dari bahasa ibu masing-masing pengunjung terdengar ramai bersahutan.

"Bagi kami orang Belitung, kedai kopi adalah ruang publik tempatnya bersosialisasi dan bertukar informasi soal apa saja, mau kritik pemerintah, mau curhat soal kelakuan oknum aparat, di sinilah mereka melepasnya.

Ishak menyebutnya sebagai "ruang mediasi". "Kalau warga ada keluhan atau apa, bawa saja kemari, dibicarakan. Makanya di Belitung sini nggak pernah ada demo, iya ndak?" katanya, dengan dialek Belitung, sambil tertawa.

Kedai kopi bagi sebagian besar penduduk Belitung sudah layaknya aliran kepercayaan. "Banyak pelanggan yang kakeknya minum di sini, cucunya pasti minum di sini juga," tutur Ishak.

Meski sudah minum kopi di rumah, penduduk Belitung tetap harus pergi ke kedai kopi untuk sekadar minum kopi, yang kini dihargai rata-rata Rp15.000 segelas.

Bagas Prasetyo, 20 tahun, salah seorang pelanggan, mengaku bisa betah seharian nongkrong di kedai kopi. "Rasanya beda ngopi di kedai sama di rumah. Di sini bisa ketemu banyak orang. Khusus Kong Djie ini, saya suka karena lebih dewasa. Laki-laki dewasa Tanjung Pandan kumpulnya di sini ini lah," kata Bagas, rajin ke Kong Djie sejak diajak sang kakek.

Sekali duduk, Darul Pikri, 20 tahun, pelanggan setia lainnya di kedai Kong Djie, mengaku bisa menghabiskan dua hingga tiga gelas kopi dalam satu jam.

"Di sini ini bisa membuka koneksi, saya bisa nanya-nanya bisnis, belajar soal hidup sama orang-orang di kedai kopi ini. Apalagi sekarang di sini sudah ada wi-fi, saya jadi semakin betah," ucapnya.

Selain menjual kopi jadi, biasanya di kedai-kedai kopi tersebut menjual kopi bubuk hasil racikan masing-masing maestro di kedai.

Berbeda dengan Belitung Barat, khususnya di Tanjung Pandan yang kedai kopi-nya sudah masuk ruko-ruko atau kafe-kafe kelas menengah, di Belitung Timur, tradisi ngopi justru lebih banyak dilakukan di pasar-pasar atau warung-warung.

Jumlah warung kopi di Manggar, Belitung Timur, misalnya, sangat banyak. Mereka berjajar berdamping-dampingan, tapi masing-masing memiliki pelanggan setianya sendiri.

Tradisi ngopi di Belitung Timur dikenal juga dengan ngopi kuli. Dahulu, para pekerja tambang timah selalu minum kopi di warung-warung saat pagi sebelum berangkat menambang. Rata-rata, warung kopi masih menggunakan anglo dan memiliki cita rasa khas masing-masing.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
13-03-2016 18:43