Home Gaya Hidup Resensi Film The Curse of Weeping Woman/La Llorona

Resensi Film The Curse of Weeping Woman/La Llorona

7002

Jakarta, Gatra.comThe Curse of Weeping Woman merupakan film terbaru dari The Conjuring Universe yang rilis di Indonesia April ini. Film ini didasarkan pada cerita rakyat Meksiko, yaitu La Llorona.

Cerita ini berawal dari Anna Garcia (Linda Cardellini) yang hidup sebagai pekerja sosial di Los Angeles pada 1973. Keanehan bermula ketika dia menangani kasus Patricia Alvarez (Patricia Velásquez) yang menyembunyikan anak-anaknya. Anna lantas membawa kedua anak Patricia ke perlindungan sosial. Tak disangka, anak-anak Patricia meninggal dunia tenggelam di sungai.

Setelah diselediki, Patricia dan anak-anaknya dihantui oleh ‘La Llorona (baca: La Yorona)’, yaitu “The Weeping Woman” yang menangis setelah membunuh anak-anaknya. La Llorona menghantui anak-anak dan orangtua untuk mengambilnya sebagai pengganti anak-anaknya yang telah wafat.

Setelah kematian anak-anak Patricia, Anna dan kedua anaknya juga diganggu oleh La Llorona. Kemudian, Anna meminta bantuan seorang shaman/penyembuh alias Curandero yang mampu mengusir roh jahat, Rafael Olvera (Raymond Cruz) untuk menolong mereka. 

Trik yang ditampilkan hampir serupa dengan film-film The Conjuring Universe lain, yaitu dengan memancing korban melalui kejahilan sang hantu. Bahkan, tak jarang kejahilan-kejahilan tersebut menambah unsur kelucuan bagi film ini. Makin lama, adegan yang ditampilkan akan semakin brutal.

Namun, aura menegangkan La Llorona lebih terasa dibanding film-film terakhir The Conjuring Universe yang kurang ‘menggigit’. Beberapa kali, kemunculan La Llorona, sang hantu dengan gaun putih dan kerudung tipis, cukup mengagetkan.

Meskipun mengagetkan, penggambaran La Llorona tidak terlalu menyeramkan, hanya memakai pakaian lusuh dan muka garang nan gelap. Mungkin tata rias dan busana hantu dalam “The Conjuring Universe” perlu dibenahi untuk meningkatkan kesan menyeramkan.

Film ini kaya akan referensi budaya dan sejarah budaya Amerika Latin. Misalnya saja penuturan cerita La Llorona oleh sang pastor (Tony Amendola) kepada Anna dan salib kayu api yang digunakan Rafael untuk mengalahkan La Llorona. Kesan cerita rakyat yang ditampilkan oleh La Llorona cukup kuat di film ini.

Alur cerita film ini membuat penonton ‘greget’. Penonton seolah-olah ditarik oleh ulah sang La Llorona yang berkali-kali kalah, namun berhasil bangkit. Misalnya saja ketika La Llorona sudah terusir dari dalam rumah, namun boneka anak perempuan Anna/Chris (Jaynee-Lynne Kinchen) tertinggal di luar pintu rumah. Chris tetap mengambil boneka meskipun Rafael dan Anna telah melarangnya.

Bagi yang sudah mulai bosan dengan film-film The Conjuring Universe, film ini mampu membangkitkan semangat melalui adegan-adegan yang menegangkan dan alur cerita naik-turun. Film yang disutradarai Michael Chaves yang dibantu oleh James Wan, Emile Gladstone, dan Gary Dauberman ini seolah memberi kesegaran baru bagi film-film The Conjuring Universe.

Reporter: SDA

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS