Home Kesehatan Perempuan Usia 40 Tahun Rentan Gagal Jalani Program Bayi Tabung

Perempuan Usia 40 Tahun Rentan Gagal Jalani Program Bayi Tabung

Jakarta, Gatra.com- Perempuan yang memasuki usia 40 tahun rentan mengalami kegagalan dalam menjalankan program bayi tabung. Hal itu disampaikan oleh Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp OG (K), MSc. di Gedung Imer, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salmba, Jakarta Pusat, Selasa (16/4).

Sebelumnya diberitakan, Kanadi tengah melakukan penelitian fungsi sel punca yang berasal dari lendir tali pusar untuk mendukung program bayi tabung.

Penelitian yang berjudul Interaksi Komponen Pro dan Anti Apoptosis Sel Granulosa Penanggap Baik Pasca-stimulasi Ovarium Terkendali yang Dipajankan Pada Medium Terkondisikan Sel Punca Mesenkim Talipusat dilakukannya guna menyabet gelar Doktor dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Awalnya Kanadi menjelaskan, perjalanan program bayi tabung tak begitu mulus. Ada kemungkinan gagalnya program bayi tabung dan konsekuensi yang harus diterima orang yang menjalankan program tersebut.

"Janinnya mungkin ada kelainan. Itu sih wajar, setiap saat kita (dokter) selalu menyampaikan bahwa kemungkinan pembawa sifat atau kromosom akan terjadi. Itu akan meningkat seiring usia si wanita," jelas Kanadi.

Soal usia, Kanadi menjelaskan wanita usia 40 tahun rentan mengalami kegagalan menjalankan program bayi tabung dengan beragam faktor yang melatarbelakanginya.

Kanadi memaparkan cadangan telur pada usia 40 tahun sudah sangat berkurang. Sehingga, untuk mendapatkan sel telur dalam jumlah yang banyak semakin sulit.

Selain itu, Kanadi dan rekan seprofesinya juga tak hanya kesulitan mendapatkan sel telur, namun juga dihadapkan pada kualitas sel telur yang semakin buruk.

"Bukan hanya jumlah sel telur, tapi juga kesulitan mendapatkan kualitas embrio yang baik," terang pria berusia 51 tahun ini.

Ia juga menceritakan beberapa alasan pasien baru menjalani program bayi tabung pada usia 40 tahun. Ia menyebut, ekonomi menjadi faktornya.

"Pasien kita ini banyak yang harus mengumpulkan uang dulu untuk mendapatkan layanan bayi tabung dan umumnya pada saat uangnya terkumpul, usianya sudah lanjut. Di sini bayi tabung enggak dicover sama sekali," tutur Kanadi," imbuhnya.

Penyebab lain, jelas Kanadi, adalah faktor waktu. Banyak pasien yang tidak langsung mengunjungi dokter untuk melakukan program bayi tabung.

"Kadang kala bukan masalah uang, tapi dia mencoba dulu pengobatan lain. Setelah gagal baru datang untuk meminta layanan bayi tabung," kata Kanadi.

Dalam hal ini Kanadi menjelaskan, hal tersebut tak menjamin keberhasilan program bayi tabung. "Tentu dia sudah dalam situasi yang tidak ideal," tandasnya.


Reporter: Erlina F. Santika

Editor: Birny Birdieni