Home Ekonomi Perjalanan Dinas Dihemat, Pengusaha Wisata Jateng Tak Khawatir

Perjalanan Dinas Dihemat, Pengusaha Wisata Jateng Tak Khawatir

Solo, Gatra.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani membuat kebijakan agar kementerian dan lembaga negara melakukan efisiensi saat perjalanan dinas karena mahalnya tiket pesawat.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jawa Tengah Daryono memprediksi kebijakan tersebut akan punya pengaruh pada pelaku usaha perjalanan, meski tidak sebesar dampak kebijakan larangan perjalanan dinas beberapa waktu lalu.

”Bentuknya bukan pelarangan seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Saat ini Menteri Keuangan menekankan perlunya melakukan efisiensi,” ucapnya saat ditemui di Solo, Kamis (13/6).

Daryono menilai, perjalanan dinas masih diperkenankan, tapi harus ada penghematan. Pelaku usaha bisa mengantisipasi kebijakan ini dengan membuat paket perjalanan yang lebih hemat, termasuk dengan cara menyesuaikan anggaran kementerian dan lembaga negara.

Menurut Daryono, mahalnya tiket pesawat bisa diatasi dengan memilih transportasi yang lebih murah. Pegawai juga bisa menginap di hotel yang lebih murah. ”Saya rasa semua bisa dinegosiasikan. Sebab usaha pariwisata ini kan sifatnya fleksibel,” ucapnya.

Daryono bilang, sektor wisata di Jawa Tengah akan terpengaruh dengan kebijakan ini. Apalagi selama ini Jawa Tengah mengandalkan sektor meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE).

”Sektor ini menguasai industri pariwisata hingga lebih dari 80 persen. Kalau wisata tujuan leissure di Jawa Tengah ini cenderung kecil,” ucapnya.

Dari sektor MICE, pangsa pasar terbesar memang dari pemerintahan. Namun ASITA yakin pelaku usaha bisa menggaet wisatawan dari sektor MICE yang lain.

”Saya rasa korporasi masih bisa dibidik karena pangsa pasarnya juga besar. Dari insentif juga bisa sebab banyak perusahaan luar negeri yang memberikan insentif karyawannya,” ucapnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta kementerian dan lembaga negara untuk efisien dalam mengelola perjalanan dinas, khususnya setelah kenaikan harga tiket pesawat.

 

 

Reporter : Novita Rahma

 

168