Home Gaya Hidup Saat Diaspora Jawa Bersua, Bahas Didi Kempot Sampai Kenduri

Saat Diaspora Jawa Bersua, Bahas Didi Kempot Sampai Kenduri

Solo, Gatra.com – Sejumlah keturunan orang Jawa yang tersebar di mancanegara berkumpul di Pendhapa Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam kegiatan 'Diaspora Jawa Ketemu Balung Pisah'. Kegiatan ini mengobati kerinduan mereka atas kampung halaman dan selama ini hanya bisa berkomunikasi melalui media sosial.

Salah satu peserta acara, Toemidjan, 55 tahun, tampak antusias. Kakek dan nenek warga Belanda ini adalah warga Indonesia yang pindah ke negeri kincir angin itu. ”Kakek dan nenek saya orang Jawa. Mereka dulu dibawa ke Belanda dan kemudian tinggal di sana,” ucap Toemidjan saat ditemui di sela acara, Kamis (20/6).

Toemidjan menjadi penyiar radio khusus Jawa dan Suriname di Belanda. Ia senang bisa datang ke Solo. Apalagi selama ini ia hanya bisa berbicara melalui udara saat membahas soal Jawa.

Baca Juga: Sering Tampil di Suriname, Didi Kempot Ciptakan 'Kangen Nickerie'

”Siaran saya dari pukul 07.00 hingga pukul 08.00 waktu Belanda. Banyak yang mendengar, terutama keturunan Jawa dari Indonesia dan Suriname,” ujarnya dalam bahasa Jawa ngoko atau kasar.

Dia sering memutar musik dan lagu Jawa, termasuk campursari. Banyak pendengarnya juga menyukai lagu campursari dan keroncong. ”Penyanyi favorit saya Didi Kempot. Di sana Didi Kempot jadi idola,” ucapnya.

Warga Belanda lainnya, Elizabeth Sri, 45 tahun, mengatakan kegiatan diaspora ini bisa menjadi ajang kumpul orang Jawa yang saat ini tinggal di luar negeri. Sejak 1990 ia pindah ke Belanda. Suaminya juga orang Suriname keturunan Jawa.

Baca Juga: Diaspora di Belanda Dukung Pembangunan Energi Lestari

”Kalau orang tua suami saya bahkan sejak 1928 dibawa ke Suriname. Saat ada kesempatan pulang ke Indonesia dan mencari kampung halamannya, sudah tidak ada yang tahu. Saat itu yang tersisa hanya dokumen nama sebelum diubah,” ucapnya.

Saat ini perkumpulan keturunan Jawa di Belanda masih aktif. Sejumlah budaya Jawa, seperti kenduri dan pernikahan ala tradisi Jawa, masih diterapkan. ”Biasanya justru orang Suriname yang mempertahankannya, sedangkan keturunan Jawa dari Indonesia lebih modern,” ucapnya.

Rektor UNS Jamal Wiwoho senang atas kegiatan diaspora Jawa ini. Dia berharap orang-orang Jawa di berbagai negara semakin aktif berkumpul. ”Saya harap mereka bisa menjalin tali silaturahmi. Kalau perlu Pendhapa Javanologi ini bisa menjadi rumah bagi para diaspora Jawa di berbagai negara,” ucapnya.

668