Home Milenial KamiBijak, Media Jurnalistik Dari dan Untuk Teman Tuli

KamiBijak, Media Jurnalistik Dari dan Untuk Teman Tuli

Tangerang Selatan, Gatra.com – Sebagai penyandang tuli, Paulus Ganesha Aryo Prakoso mengaku mengalami kesulitan dalam mencerna informasi berita dari media elektronik karena ketiadaan teks dan gerakan mulut (lipsync) pewarta yang cepat. Berangkat dari latar belakangnya di bidang teknologi informasi (IT), Ia bersama beberapa temannya mendirikan KamiBijak.

Hal ini terungkap dalam Workshop “Semangat Menembus Batas” yang diadakan oleh KamiBijak dan Motivasiku di Brouven Coffee, Heritage Bintaro Junction, Tangerang Selatan, Sabtu (29/6).

“KamiBijak adalah media video online dengan bahasa visual dalam bentuk teks dan bahasa isyarat,” ujar sang pendiri dalam bahasa isyarat. Seorang Juru Bahasa Isyarat (JBI), Luluk Kusuma Wardani menerjemahkan penjelasan Paulus kepada para hadirin.

Paulus mengaku pihaknya bekerja sama dengan Grup Merah Putih untuk mendirikan platform media tersebut. KamiBijak telah diluncurkan sejak 19 September 2018.

Uniknya hampir semua staf di medianya merupakan penyandang tuna rungu (tuli). Hanya dua orang yang bukan penyandang tuna rungu, namun mereka bisa menggunakan bahasa isyarat. Ia menambahkan pihaknya juga menerima mahasiswa tuna rungu untuk praktik kerja lapangan (PKL).

“Ada jurnalis yang buat konten dan videografer. Kami kesulitan mencarinya karena jarang ada teman tuli yang kuliah jurnalistik,” tuturnya.

Paulus menjelaskan ketika timnya melakukan reportase, sang jurnalis ditemani oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI). “Narasumber menjawab, kemudian JBI menerjemahkannya dalam bentuk gerakan (kepada jurnalis),” terangnya. Pihaknya telah berhasil mewawancarai Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara.

Hingga sekarang, KamiBijak telah memposting sebanyak 350 video dari kantornya di Gading Serpong, Tangerang Selatan. Videonya sangat beragam, mulai dari liputan berita, hiburan, kuliner, tips, wisata, dan sebagainya. Dalam sehari, Paulus mengaku pihaknya memposting sebanyak dua video tiap harinya.

Jurnalis KamiBijak, Nanda mengaku belum pernah kerja di tempat lain sebelumnya. “Belajar dari pengalaman sampai sekarang. Sudah wawancara orang-orang terkenal. Belajar membuat konten,” ujarnya.

Paulus mengaku pihaknya juga telah melakukan kerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi dan Gubernur DKI Jakarta untuk membuat konten bagi para penyandang disabilitas. Video yang dibuat juga disertai suara untuk memudahkan pemahaman bagi para penyandang non-disabilitas dan tuna netra (buta).

“Mungkin [masyarakat] bisa bantu promosi agar teman-teman tuli mendapat informasi yang setara]. Berikanlah kepercayaan kepada teman-teman tuli agar bisa bekerja,” tutupnya.

904