Home Kebencanaan Semarang Akan Alami Hari Tanpa Bayangan

Semarang Akan Alami Hari Tanpa Bayangan

199

Semarang, Gatra.com - Bila sekarang ini Kota Semarang cuaca di siang hari semakin terik, tidak perlu khawatir. Sebab, Semarang akan mengalami fenomena hari tanpa bayangan.

Tidak hanya Semarang, sejumlah kota di Jawa Tengah lainya juga akan mengalami fenomena itu. Efek yang ditimbulkan fenomena itu, biasanya suhu udara akan makin panas.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Semarang, Iis W Harmoko mengatakan hari tanpa bayangan akan dimulai pada Kamis (10/10) yang akan melanda Kota Jepara. Setelah itu berlanjut selama empat hari dengan daerah yang berbeda, tergantung posisi mataharinya. 

“Untuk Kota Semarang sendiri, fenomena hari tanpa bayangan, akan terjadi pada Jumat (11/10) sekitar jam 11.30 WIB dengan lokasi tempatnya beda-beda," kata Iis sebelum pembukaan Sekolah Lapangan Iklim tahap 2 di Hotel Dafam Semarang, Rabu (9/10).

Hari tanpa bayangan bukanlah fenomena yang menyeramkan. Karena fenomena Itu adalah peristiwa di mana matahari berada persis di atas kepala sehingga bayangan tegak lurus seolah tidak ada.

Adanya fenomena itu biasanya akan berdampak pada suhu udara yang semakin panas melebihi suhu rata-rata. Berdasarkan data BMKG Semarang, tercatat pada 18 Oktober 2002 Kota Semarang mencapai suhu tertinggi yaitu 38,5 derajat Celcius.

Hari tanpa bayangan bisa terjadi dua kali setahun yaitu penanda masuk musim hujan pada Oktober dan menjelang musim kemarau pada Februari. Hal itu tergantung pada pergerakan matahari dari posisi di Utara ke Selatan atau sebaliknya.

Sementara itu, guna meningkatkan literasi iklim dan diseminasi informasi iklim untuk pertanian, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) tahap 2. Gelaran diselenggarakan di Hotel Dafam Semarang, Rabu (9/10). Temanya yakni "Meningkatkan Kemampuan Petugas Penyuluh Lapang dalam Mengantisipasi Iklim Ekstrim".

Kepala Bidang Diseminasi, Informasi, Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko mengatakan, SLI menggunakan metode belajar sambil praktik. Dengan ini BMKG ingin menyosialisasikan pentingnya informasi iklim dalam mendukung kegiatan pertanian di Indonesia

"Tujuan diadakanya SLI ini , untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas penyuluh lapangan dalam memanfaatkan informasi iklim di wilayah kerja guna melakukan antisipasi dampak fenomena iklim ekstrem," kata Hary .

SLI diikuti oleh 25 peserta terdiri dari 22 orang penyuluh pertanian lapangan dari 13 kabupaten kota di Jateng, 1 staf Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Pemali Jratun, 1 staf Dinas Lingkungan Hidup, dan Kehutanan Jateng, dan 1 orang staf Balai Taman Nasional Gunung Merbabu.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS