Home Ekonomi Sawit Tertekan, INDEF Minta Pemerintah Kembangkan Startup

Sawit Tertekan, INDEF Minta Pemerintah Kembangkan Startup

Jakarta, Gatra.com - Melihat kondisi sawit yang hingga saat ini masih tertekan dan kerap kali mengalami diskrininasi, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira menyarankan kepada pemerintah untuk lebih berfokus dalam mengembangkan startup. Sehingga, nantinya sektor ekonomi tersebut dapat menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia yang baru.

"Sekarang kalau masih mengandalkan (sektor ekonomi) primer, sekarang tantangannya adalah sawit banyak menghadapi tantangan global, sawit banyak mengalami diskriminasi, di Eropa, Amerika, dan negara-negara lain seperti India," kata dia dalam acara Diplomatic Forum di, gedung RRI, Jakarta Pusat, Kamis (28/11).

Lebih lanjut Bhima menjelaskan, sebenarnya masih banyak potensi yang dapat digali dari perusahaan-perusahaan startup karya anak bangsa. Terlebih, Indonesia kini memiliki lebih dari 2.000 perusahaan startup, yang berarti Indonesia menduduki peringkat ke empat dengan jumlah startup terbanyak di dunia.

Pengembangan startup itu, ujar dia, dapat dimulai dengan mengembangkan kemampuan para pekerja di sektor itu. Sebab, selama ini Indonesia masih kerap menggunakan tenaga ahli dari luar negeri untuk mengembangkan teknologi perusahaan rintisan itu.

"Yang terjadi sekarang orang mengembangkan straup, justru penyerapan paling besar adalah low skill labor, dengan jenjang karir yang tidak jelas. kalau mereka sekali jadi driver ojol akan sulit untuk naik tingkat menjadi developernya," tutur Bhima.

Oleh karenanya, dia berharap kepada para pemilik startup dan pemerintah untuk lebih aktif dalam mengembangkan startup. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kerjasama antara perusahaan startup dengan pihak universitas, untuk mencetak lulusan yang dapat dijadikan sebagai ahli atau high skill labour.

Sementara untuk pemerintah, mereka dapat memberikan lebih banyak insentif bagi perusahaan-perusahaan startup dan kampus-kampus yang ikut mengembangkan sektor tersebut.

"Dengan starup booming ini, unicorn booming, harusnya lebih banyak tenga kerja ahli yang disebut dengan high skill labor itu berasal dari indonesia. Jadi lebih banyak berasal dari kampus-kampus di indonesia, tenaga kerja kita yang bisa menguasai data analis artificial intelligence dan multiple program developer," imbuh Bhima.

83