Home Kesehatan Cegah Virus Corona dengan Obat Anti-HIV? Ini Kata Dokter

Cegah Virus Corona dengan Obat Anti-HIV? Ini Kata Dokter

Jakarta, Gatra.com - Penanganan para pasien gangguan pernapasan, pneumonia dan gejala lainnya yang disebabkan oleh virus novel corona baru (2019-nCoV) hanya pengobatan biasa untuk jenis gangguan pernapasan pada umumnya. Sementara itu, belum ada vaksin yang dapat mencegah penyebaran virus tersebut.

Hal ini membuat beberapa ilmuwan dan tenaga kesehatan, khususnya di wilayah Cina mencari upaya pengendalian virus ini. Salah satunya di rumah sakit di Beijing yang sempat ingin menggunakan obat anti-HIV, untuk menumpaskan 2019-nCoV.

Sayangnya, obat anti-HIV belum memiliki hasil penelitian yang akurat dapat menjadi vaksin virus novel corona ini. 

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Adityo Susilo, SpPD, K-PTI, FINASIM mengungkapkan, bahwa mungkin ada kandungan di dalam obat anti-HIV yang bisa melemahkan virus.

"Jadi gini, ini bukan obat HIV-nya menargetkan apa. Kandungan Lopinavir/ritonavir memang bisa digunakan untuk anti-HIV, tapi dalam kasus virus corona tidak ada urusannya dengan HIV. Cuma karena dia punya sifat anti-virus, dari studi yang dilaporkan bisa dicoba menjadi pilihan pengobatan dalam penanganan virus corona," ungkapnya kepada wartawan usai seminar mengenai virus novel corona di Hotel Ibis Senen, Jakarta Pusat, Rabu (29/1).

Menurutnya, studi tersebut sedang dalam tahap uji coba dengan jumlah kasus yang sedikit dan bukti efektivitasnya pun masih tanda tanya. Artinya, masyarakat tidak boleh gegabah dan terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa anti-HIV dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk virus novel corona.

"Memang, sampai saat ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) masih menyatakan tidak ada pengobatan yang spesifik. Kalau kita tarik mundur SARS dan MERS-CoV yang juga sama-sama karena virus tidak ada pengobatan spesifiknya sampai sekarang. Jadi kita ikuti saja perkembangan ini, tapi tetap ini tidak bisa dikatakan sebagai opsi pengobatan," kata dokter Adit.
 

869