Home Internasional Dapat Stimulus dari Cina, Wall Street Capai Rekor Tertinggi

Dapat Stimulus dari Cina, Wall Street Capai Rekor Tertinggi

New York, Gatra.com - Bursa Saham Amerika Serikat (AS) berhasil mendapatkan kembali rekor tertingginya, pada penutupan perdagangan Rabu (19/2). Rekor itu berhasil dicapai Wall Street, setelah pemerintah Cina memutuskan memberi stimulus tambahan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi negara itu.

 

 

Pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 115,84 poin, atau 0,4 persen menjadi 29.348,03. Indeks S&P 500 menguat 15,86 poin, atau 0,47 persen menjadi 3.386,15. Indeks Nasdaq Composite berhasil menambahkan 84,44 poin, atau 0,87 persen menjadi 9.817,18.
 
Selain itu, saham Apple Inc (AAPL.O) juga mengalami kenaikan sebesar 1,4 persen. Kembali bangkit setelah di sesi sebelumnya, salah satu perusahaan elektronik terbesar di dunia itu mengalami kemerosotan, lantaran pengumuman proyeksi pendapatan kuartalannya, yang menurun imbas virus corona.
 
Manajer portofolio di Kingsview Investment Management di Chicago, Paul Nolte mengatakan, stimulus tambahan yang diberikan pemerintah Cina dapat mengembalikan optimisme para investor, di tengah gempuran virus corona yang tidak kunjung selesai.
 
"Kedengarannya seolah-olah investor menarik napas lega, bahwa mereka percaya yang terburuk dari virus corona ada di belakang kita. Investor merasa berani karena bank sentral telah mendukung mereka," kata Nolte, seperti dilansir Reuters, Rabu (19/2).
 
Tampaknya ada sejumlah perusahaan kelas atas, yang membicarakan tentang coronavirus dan potensi dampaknya terhadap pendapatan. Hari ini, investor mungkin melihat pasar dengan lebih perhatian, mengakui (ada) dukungan kebijakan dan beberapa kabar baik datang dari tingkat infeksi, "kata ekonom lainnya, kepala strategi pasar global di Invesco di New York, Kristina Hooper.
 
Sementara itu, bank sentral Cina diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan pada hari Kamis (20/2), yang akan menambah langkah-langkah yang bertujuan membatasi dampak dari penutupan bisnis dan pembatasan perjalanan pada ekonomi terbesar kedua di dunia itu.