Home Ekonomi Antara Corona, Ekonomi Cina dan Pengaruhnya ke Indonesia

Antara Corona, Ekonomi Cina dan Pengaruhnya ke Indonesia

Bandung, Gatra.com - Wabah virus Corona baru atau Covid-19 yang kini merebak di 58 negara telah berhasil memukul telak perekonomian Cina. Akibatnya, negara-negara di dunia kalang kabut karena terimbas oleh lemahnya ekonomi di Cina saat ini, tak terkecuali Indonesia.

"Tiba-tiba ada shock di sini, Covid mulai merebak, mulai muncul. Itu juga mengakibatkan adanya indikasi perlemahan ekonomi Cina," kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, IGP Wira Kusuma, dalam Media Gathering di Cibangkong, Bandung, Sabtu (29/2).

Wira mengungkapkan, peran Cina di dalam perekonomian Indonesia sangat vital. Sebab, Cina merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, sekaligus sebagai penyumbang wisatawan terbanyak kedua setelah Malaysia.

Sepanjang tahun 2019, total ekspor Indonesia ke Cina tercatat sebanyak US$29,769 juta, atau sebesar 17% total ekspor Indonesia. Sementara impor total di periode yang sama, tercatat sebanyak US$29,42 juta, dengan porsi 17,2% terhadap total impor dalam negeri.

"Covid sebabkan pelemahan pertumbuhan ekspor kita. Sebab, demand menurun, impor permintaan domestik melemah dan ekspor melemah. Ekspor masih banyak produk bahan baku impor jadi melemah," ungkap dia.

Tidak berhenti di situ, jumlah wisatawan asing dari Cina ke Indonesia juga mengalami penurunan drastis, sejak ditutupnya arus lalu lintas orang, demi menghindari penyebaran virus asal Wuhan itu.

Padahal, wisatawan Cina menyumbang devisa ke dalam negeri, setidaknya US$2.385 juta, dengan pangsa pasar sebesar 14,1% dari total devisa negara.

"Kunjungan wisman Tiongkok ke Indonesia 2,07 juta orang pada tahun 2019, dengan pangsa sebesar 12,9%," kata dia.

Karenanya, jika perekonomian Cina mengalami perlemahan sebanyak 1%, akan membuat ekonomi Indonesia ikut melemah juga, setidaknya sebesar 0,23% seperti yang sebelumnya telah disebutkan Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, Kamis (27/2).

"Inilah yang menyebabkan kami diperintahkan berkomunikasi dengan BI dan OJK, bagaimana cara kita men-stimulate kembali atau contercyclical dengan instrumen kebijakan di dalam masing-masing kewenangan kita," kata dia.

180