Home Kesehatan Tak Sanggup Awasi, Ibu Penderita Polio Pasung Yahezkiel

Tak Sanggup Awasi, Ibu Penderita Polio Pasung Yahezkiel

Semarang, Gatra.com- Selama tujuh tahun, Yehezkiel Eka Putra, 15, warga RT 2/RW 10, Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga dipasung kakinya oleh keluarganya. Kedua kaki remaja yang diduga mengalami gangguan kejiwaan tersebut diikat menggunakan kain dalam rumahnya.

Tim Masyarakat Relawan Indonesia-Aksi Cepat Tanggap (MRI-ACT) Jawa Tengah yang mendapatkan informasi pemasungan itu mendatangi rumah Yahezkiel Eka Putra.

“Kami memberikan pengertian kepada pihak keluarga, akhirnya dapat membebaskan Yahezkiel Eka Putra dari pasungan,” kata relawan MRI Jawa Tengah, Ardian Kurniawan Santoso dalam keterangan di Semarang, Jumat (24/7).

Menurutnya, alasan pihak keluarga memasung kaki Kiki, panggilan Yahezkiel Eka Putra, karena ibunya bernama Jumirah, 45 seorang janda dan sudah lama menderita sakit polio tidak bisa mengawasi anaknya.

Karena keterbatasan fisik Jumirah yang mengalami lumpuh sebelah menjadikan dirinya tak mampu mengawasi Kiki yang terkadang berlarian ke luar rumah dan mengamuk.

Bahkan pernah Kiki, suatu saat pergi dari rumah dengan perilakunya yang terkadang diluar kendali sehingga menyebabkan hampir tertabrak truk di jalan raya.

“Pemasungan yang dilakukan Jumirah adalah rasa kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, karena keterbatasan fisik mengalami lumpuh sebelah menjadikan dirinya tak mampu mengawasi Kiki jika lari-lari dan kadang mengamuk,” ujar Ardian.

Setelah melakukan diskusi dengan Jumirah dan pihak keluarga, tim relawan MRI-ACT Jawa Tengah membawa Kiki ke rumah sakit jiwa di Magelang untuk mendapatkan perawatan.

Sementara, kakak ipar Jumirah, Heru Tri Suseno menyatakan, Jumirah pernah mendapatkan bantuan senilau Rp20 juta pada akhir 2010.

Setelah, menurut Heru, tak ada bantuan dana maupun sembako yang didapatkan Jumirah. Untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari biasanya diberi sanak keluarga atau tetangga terdekat.

“Pada 2018 Dinas Sosial Kota Salatiga pernah melakukan survei rumah Jumirah dan mendapatkan bantuan untuk membangun rumah tetapi hanya berupa material sedangkan biaya tukang ditanggung sendiri oleh keluarga,” jelas Heru.

Melihat kondisi ekonomi yang memprihatinkan akhirnya tim MRI-ACT Jateng bersama komunitas Seri dari Salatiga membawa Jumirah untuk dititipkan ke Yayasan Sosial Terang Bangsa, di Dusun Randu Ares, Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. “Semoga yang kami lakukan bermanfaat untuk sesama. Tidak ada niat apa-apa kecuali ingin memanusiakan manusia,” ujar Ardian.