Home Ekonomi Limbah Proyek KCIC Cemari Lahan Pertanian di Bandung Barat

Limbah Proyek KCIC Cemari Lahan Pertanian di Bandung Barat

Bandung Barat, Gatra.com - Pembangunan trase kereta cepat Jakarta-Bandung yang digarap konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) kembali berdampak negatif bagi warga. Sebanyak 182 hektare lahan pertanian tercemar limbah cair yang berasal dari kolam penampungan limbah terowongan atau tunnel 6.3 Kereta Cepat Jakarta-Bandung, di Kampung Sukaluyu, Desa Puteran, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.

Ketua Gapoktan Desa Puteran, Ayi Jamaluddin mengatakan limbah cair mencemari lahan pertanian karena buruknya kolam penampungan limbah yang dibuat KCIC. Imbasnya, limbah tersebut masuk ke sungai Cileuleuy yang dipakai warga untuk mengairi pertanian.

"Air sungai Cileuleuy berwarna abu-abu dan mengandung semen. Sawah kita jadi mudah kering. Kalau air yang tak tercemar, saat kering tanah di sawah lembab, ini jadi mudah retak-retak," kata Ayi, Rabu (2/9).

Ayi belum tahu dampak buruk pencemaran itu terhadap tanaman padi. Pasalnya, kondisi padi sedang tahap sebentar lagi panen. Adapun dampak bagi petani, mereka kerap merasa gatal-gatal.

Lahan pertanian yang tercemar seluas 182 hektare, berada di lima kampung yaitu Kampung Sukamulya, Sukamanah, Sukaresmi, Patrol dan Tegalmandor. Secara administratif, terletak di 6 RW.

"Petani penggarap jumlahnya lebih dari 100 orang. Dampak paling terasa, mereka sering gatal-gatal saat turun ke sawah," paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Puteran, Yandi Hadiana membenarkan tentang lahan pertanian yang tercemar limbah proyek KCIC. Bahkan, pihaknya telah menyampaikan langsung ke PT CREC selaku subkontraktor trase kereta cepat Jakarta-Bandung.

"Memang betul lahan pertanian tercemar, tapi ada kesimpangsiuran soal data. Menurut gapoktan jumlahnya 182 hektare. Tapi hasil sidak kita ke lapangan hanya sekitar 75 hektare," tutur Yandi.

Menurut Yandi, tercemarnya sungai Cileuleuy telah berlangsung lama. Tepatnya tahun 2019, sejak proyek tersebut mulai berjalan. Selain, lahan pesawahan, warga juga banyak yang mengeluh gatal-gatal.

"Ada tiga RW yang sudah melapor ke saya tentang keluhan gatal-gatal karena sumber air mereka tercemar," pungkasnya.

Sementara itu, hingga berita ini dibuat, pihak PT KCIC belum memberikan respon atas pertanyaan dari wartawan Gatra.com mengenai pencemaran limbah ini.

3580