Home Info Sawit Menyoal Aliran Duit Misterius di Kawasan Cut Nyak Dien

Menyoal Aliran Duit Misterius di Kawasan Cut Nyak Dien

Pekanbaru, Gatra.com - Bekas Sekretaris DPRD Kabupaten Bengkalis, Riau, ini lebih banyak bengong ketimbang meladeni sederet pertanyaan yang dilontarkan oleh rombongan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) yang ada di Riau, Senin Siang.

Kebetulan, 9 dari 11 Ketua DPD Apkasindo kabupaten/kota se-Riau itu, bertandang ke kantornya, Dinas Perkebunan Provinsi Riau, di kawasan jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru.

Walau ditemani sejumlah stafnya, Zulfadli, sang Kepala Dinas, tetap saja kewalahan menjawab pertanyaan tetamu yang dia jamu hingga satu setengah jam itu.

Apalagi saat pertanyaan yang terlontar terkait item Biaya Operasional Tidak Langsung (BOTL) dalam indeks K, Zulfadli semakin bergeming.

Indeks K sendiri adalah sederet item pengeluaran yang saban sepekan, disodorkan oleh perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS), kepada Tim Kelompok Kerja (Pokja) Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Pekebun, di kantor Zulfadli. Indeks K inilah yang menjadi penentu besar atau kecil harga TBS Pekebun.

"Mendadak sih datangnya. Kita jadwal ulanglah pertemuan ini, biar nanti kita bahas semua apa yang musti dibahas," pinta lelaki 54 tahun ini sambil memandangi para tetamunya itu.

Baca juga: Aroma Akal Bulus Penetapan Harga TBS Riau

Ariana Ramelan, Ketua DPD Apkasindo Kabupaten Siak, yang menjadi pimpinan rombongan, setuju. "Enggak enak saja kalau langsung kita desak. Itu juga makanya sebelum pertemuan, saya sudah pesan kepada teman-teman untuk enggak ngomong semua, cukup tiga orang. Nah, soal permintaan Kadis tadi, kami sanggupi. Kami akan atur ulang jadwal pertemuannya," cerita lelaki ini kepada Gatra.com.

Bukan tanpa alasan para ketua DPD Apkasindo ini datang ke kantor Zulfadli. Sebab lebih dari sebulan belakangan, persoalan harga TBS Pekebun, kian seksi untuk diulik.

Sebab selain BOTL tadi, potongan biaya pemasaran lokal Crude Palm Oil (CPO) dan potongan penyusutan nilai PKS, sudah benar-benar membikin para pekebun gerah.

Baca juga: Mengulik Duit Misterus BOTL TBS

Tengoklah hasil penetapan harga TBS Provinsi Riau periode 12-18 Agustus 2020. Biaya pemasaran CPO lokal dibikin Rp42,34 per kilogram CPO, penyusutan Rp32,49 per kilogram TBS dan BOTL Rp49,72 per kilogram TBS.

Pada hasil penetapan harga periode 12-18 Agustus 2020 itu disebutkan bahwa TBS yang diolah oleh 10 perusahaan --- PTPN V, Sinar Mas Group, Astra Agro Lestari Group, Asian Agri Group, Citra Riau Sarana, Musim Mas, PZerdana Inti Sawit, Mitra Unggul Lestari, Duta Palma dan Ganda Buanindo --- anggota penetapan harga Tim Pokjan Disbun Riau itu mencapai 59,3 juta kilogram, CPO lokal 8.800.000 kilogram.

Mari kita hitung biaya pemasaran; Rp42,34x8.800.000=Rp372.592.000; biaya penyusutan; Rp32,49x59.300.000= Rp1.926.657.000; biaya BOTL; Rp49,72x59.300.000=Rp2.948.396.000.

Khusus BOTL ini kata Peraturan Menteri Pertanian nomor 1 tahun 2018 tentang Pedoman Penetapan Harga TBS Pekebun, sekitar Rp1,12 miliar, adalah jatah pekebun dan lembaga pekebun dalam bentuk biaya pembinaan.

"Enggak pernah pekebun kebagian duit itu, begitu juga lembaga pekebun. Enggak pernah. Inilah yang membikin kami bertanya kepada Dinas Perkebunan Riau itu, kemana duit sebanyak itu setiap pekan? Enggak mungkin Disbun Riau enggak tahu, wong dia kok regulator penetapan harga di provinsi. Kalau katanya enggak ada dipotong, bohong itu. Angka Rp49,72 itu sudah dijadikan pengurang harga TBS di penetapan harga, kok. Beda kalau di penetapan harga, BOTL nya NOL, itu baru enggak dipotong" ujar Ariana.

Baca juga: Sengkarut Duit BOTL Pekebun

Masih dari hasil penetepan harga tadi, kalau saja tiga item potongan di atas tidak diberlakukan, harga TBS Pekebun masih bertengger di angka Rp1.965,42. Tapi lantaran potongan tadi, harga TBS Pekebun hanya Rp1.849,39.

"Itu masih harga di atas kertas. Sebab selain potongan yang tak masuk akal tadi, Pekebun juga masih didera oleh sortasi pabrik yang bisa mencapai 12 persen. Pokoknya, bengeklah kalau dihitung-hitung semua," rutuk Ariana.

Sebelumnya, sumber Gatra.com di Disbun Riau menyebut kalau Tim Pokja Penetapan harga tidak pernah mengumpulkan duit yang bersumber dari BOTL. "Yang kami terima hanya honor tim, lalu jalan-jalan setiap tahun. Tapi memang, setiap pengeluaran anggota tim penetapan harga, selalu atas sepengetahuan Tim. Soal dari mana sumber duit itu, kami enggak tahu," katanya.


Abdul Aziz

 

 

 

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS