Home Info Sawit Biodiesel Yes, Tambah Luasan Kebun Sawit No

Biodiesel Yes, Tambah Luasan Kebun Sawit No

466

Pekanbaru,Gatra.com - Program biodiesel yang sedang dilaksanakan pemerintah hendaknya mengoptimalkan lahan sawit yang telah ada. Wakil Direktur Eksekutif Wahana lingkungan hidup (Walhi) Riau, Fandi Rahman, menyebut jika program biodiesel direspon dengan penambahan luasan kebun sawit, hal tersebut dikhawatirkan dapat menambah antrian persoalan lingkungan hidup.

"Idealnya untuk pasokan minyak sawitnya dari optimalisasi luasan kebun yang sudah ada, bukanya menambah luasan kebun. Kalau luasan kebunnya ditambah,maka akan menambah persoalan seperti berkurangnya luasan tutupan hutan, tumpang tindih lahan hingga berujung konflik dengan masyarakat," jelasnya kepada Gatra.com di kota Pekanbaru, Selasa (15/9).

Adapun program biodiesel merupakan pembauran antara solar murni dengan minyak sawit. Bauran tersebut ditingkatkan seiring waktu, saat ini pemerintah menerapkan bauran 30 persen minyak sawit ke solar murni. Program ini dikenal B30.

Diketahui, sepanjang tahun 2019 penerapan B20 dapat menghemat impor minyak senilai Rp43,8 triliun. Sedangkan Pertamina selaku perusahaan negara yang bergerak disektor minyak, menaksir dapat menghemat impor minyak sebesar Rp63,4 triliun pada tahun 2020 dengan penerapan B30.

Riau, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian tahun 2019,merupakan provinsi dengan lahan sawit terluas, dengan luasan 2,74 juta ha atau sekitar 19% dari total luasan kebun sawit Indonesia yang mencapai 14,23 juta hektare. Posisi tersebut dengan sendirinya menempatkan Riau sebagai sentra penghasil minyak sawit di Indonesia.

Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Perkebunan Provinsi Riau, menyebut produksi minyak sawit Riau menembus angka 8 juta ton. Jumlah tersebut mewakili hampir 25 persen produksi minyak sawit Indonesia.

Fandi menambahkan, selama ini upaya optimalisasi lahan kebun sawit di Indonesia dihadapkan dengan rendahnya produktivitas kebun sawit, khususnya yang dimiliki petani. Hal tersebut menurutnya tidak bisa diurai hanya dengan program peremajaan lahan sawit.

"Peremajaan lahan sawit itu satu hal. Masih ada problem lainya, misal pemahaman penanaman kelapa sawit hingga pemilihan bibit. Dan itu memerlukan pendampingan terhadap petani sawit. Jadi solusinya bukan sekadar menambah luasan lahan sawit," pungkasnya.

Adapun luasan kebun sawit yang digarap petani di Indonesia mencapai 41 persen dari total luasan kebun sawit 14,23 juta hektare. Persentase tersebut tergolong besar, namun masih kalah oleh luasan kebun sawit yang digarap perusahaan swasta yang mencapai 54 persen. Sedangkan pengelolaan kebun sawit oleh negara hanya 5 persen.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS