Home Ekonomi Badai Pandemi Sebulan Peternak Ayam Rugi Rp75 Miliar

Badai Pandemi Sebulan Peternak Ayam Rugi Rp75 Miliar

Palembang, Gatra.com - Asosiasi Masyarakat Peternak Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat kerugian komoditas ayam yang dialami peternak saat pandemi virus corona atau Covid-19 di Bumi Sriwijaya mencapai Rp75 miliar dalam sebulan. Ketua Asosiasi Masyarakat Peternak Provinsi Sumsel Ismaidi Chaniago mengatakan kerugian tersebut menyusul lantaran seluruh peternak di wilayahnya hanya menjual 250 ribu ekor ayam per hari.

“Kondisi itu terjadi selama pandemi. Tentunya itu membuat para peternak merugi Rp 2,5 miliar. Artinya dalam sebulan kerugian mencapai Rp 75 miliar,” ujar dia di Palembang, Selasa (17/11/2020).

Selama pamdemi, ia mengungkapkan sempat mengalami harga ayam yang hanya laku terjual seharga Rp 11.000 di kandang, sedangkan di pasar seharga Rp 17.000. Kondisi tersebut membuat peternak harus memutar otak menutupi kerugian pakan.

Dia menilai banjirnya pasokan ayam pun tak sebanding dengan permintaan di pasaran. Pasalnya, jika pemerintah tak mengambil kebijakan pemangkasan, pihaknya pun sudah tak tahu harus bagaimana lagi. “Ya, pandemi Covid-19 ini membuat peternak alami kerugian dan terancam tutup. Kalau peternak tutup, logikanya ayam tak ada di pasaran. Itu bisa buat harga tak akan terjangkau,” kata dia.

Kendati begitu, lanjut dia, saat ini harga ayam di pasaran di Sumsel mulai merangkak naik jelang akhir tahun ini. Kenaikkan tersebut telah terjadi selama sepekan terakhir ini. “Sejauh ini berkisar antara Rp38.000 hingga Rp40.000. Kalau di kandang harga tertinggi Rp 24.000,” ucap dia.

Menurut dia, naiknya harga ayam di pasar tradisional terjadi usai Pemerintah Pusat melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pemangkasan hampir 40 persen jumlah peredaran ayam di pasar dalam dua bulan terakhir.

Dirinya menambahkan, pemangkasan tersebut dilakukan guna menjaga jumlah demand atau permintaan dan pasokan suplai tetap berimbang. Pembatasan tersebut tak hanya di Sumsel, melainkan seluruh Indonesia. “Soal alasan pembatasan sebelumnya itu karena terjadi banjir jumlah ayam di pasaran. Ya, jumlah tak sesuai dengan permintaan,” beber dia.

Ia juga menambahkan kelangkaan saat ini yang membuat harga ayam boiler atau ayam potong naik dan itu merupakan hal yang biasa. Pihaknya berharap ke depan dengan kebijakan itu harga akan kembali normal.

“Itu cuma insendsental saja. Jadi, ayam yang masuk terbatas jumlahnya. Ya, itu agar pelan-pelan harga ayam terangkat sehingga para peternak kembali bergairah lagi. Apalagi, karena pandemi ini membuat mereka (peternak ayam) hancur-hancuran,” tutup dia.


Reporter: Rio Adi Pratama