Home Internasional WHO Setujui Vaksin COVID-19 J&J secara Darurat

WHO Setujui Vaksin COVID-19 J&J secara Darurat

Jenewa, Gatra.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Jumat (12/3) menyetujui vaksin COVID-19 Johnson & Johnson masuk dalam daftar darurat, dan diberikan rekomendasi persetujuan untuk mempercepat penggunaan terutama di negara-negara dengan badan pengatur yang masih lebih lemah.

Ini adalah vaksin COVID-19 ketiga setelah rejimen dua suntikan Pfizer / BioNTech dan AstraZeneca yang mendapat dukungan dari WHO, dan yang pertama hanya membutuhkan satu suntikan.

Rekomendasi tersebut mencakup penggunaan di semua negara, untuk peluncuran fasilitas vaksin COVAX dan mengikuti pengumuman otorisasi European Medicines Agency (EMA), pada hari Kamis.

"Setiap alat baru, aman dan efektif melawan COVID-19 adalah satu langkah lebih dekat untuk mengendalikan pandemi," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters, Sabtu (13/3).

"Daftar penggunaan darurat adalah lampu hijau untuk pengadaan vaksin dan diluncurkan oleh COVAX," katanya dalam konferensi pers.

“WHO saat ini sedang menyiapkan kelompok penasehat strategis ahli imunisasi minggu depan, untuk menyusun rekomendasi tentang penggunaannya,” tambahnya.

"Tapi harapan yang ditawarkan alat ini tidak akan terwujud kecuali tersedia untuk semua orang di semua negara," katanya.

WHO juga menyambut baik administrasi sekali pakai sebagai fasilitas logistik vaksinasi.

Penasihat senior WHO Bruce Aylward mengatakan bahwa vaksin Johnson & Johnson, tidak memerlukan rantai ultra dingin, dan bahkan lebih cocok untuk beberapa negara yang paling parah terkena dampak pandemi.

“COVAX, yang bekerja sama dengan aliansi vaksin Gavi, memiliki kesepakatan menyiapkan lebih dari 500 juta dosis vaksin J&J,” kata Aylward.

"Apa yang kami coba lakukan adalah bekerja dengan perusahaan untuk mewujudkannya sedini mungkin (pencegahan). Dan kami berharap paling tidak Juli, kami memiliki akses ke dosis yang dapat kami luncurkan, bahkan lebih awal," katanya.

Kepala ilmuwan J&J Paul Stoffels mengatakan kepada Reuters pada hari Kamis bahwa perusahaan mengharapkan untuk memproduksi hingga 3 miliar dosis vaksin tahun depan, setelah sebelumnya berjanji akan memberikan 1 miliar secara global pada akhir tahun 2021.

WHO mengatakan bahwa, di bawah daftar penggunaan darurat, perusahaan harus berkomitmen untuk menghasilkan data keamanan dan kemanjuran lebih lanjut, adar memungkinkan dapat perizinan secara penuh.

197