Home Kolom Wajah Pendidikan Global Pasca Pandemi Covid-19

Wajah Pendidikan Global Pasca Pandemi Covid-19

1308

Pendidikan Pasca Pandemi: Kewajiban Pemenuhan Akses Pendidikan Inklusif

Oleh:

Umesh Sharma, Neil Selwyn, Fiona May*

 

Kita dapat belajar bahwa pandemi ini memberikan peluang bagi sistem pendidikan secara global untuk belajar satu sama lain, serta memungkinkan adanya inovasi akan pola pendekatan dalam penyediaan pendidikan inklusif secara merata”.

**

Ketika dunia pertama kali terpapar pandemi Covid-19, seluruh sektor industri dan bisnis, termasuk pendidikan seakan-akan “dipaksa” untuk melakukan penyesuaian agar dapat tetap bertahan. UNESCO menyebut kurang lebih ada 1,6 miliar pelajar secara global tidak dapat pergi ke sekolah sebagai akibat dari kebijakan lockdown, sehingga kegiatan belajar-mengajar diwajibkan dilakukan secara daring. Sistem pendidikan online dan sekolah virtual pun menjadi standar baru dan didorong sebagai agenda politik pemerintahan di berbagai negara.

Seiring perkembangannya, penggunaan platform daring seperti: Zoom, Google Classroom, dan Microsoft Teams sebagai sarana pembelajaran jarak jauh (PJJ) mengalami peningkatan drastis. Secara sederhana, proses pembelajaran new normal ini membuat pelajar dan guru saling bertatap layar, seakan-akan mereka sedang berada di kelas secara normal. Tidak hanya itu, penilaian kompetensi pelajar berdasarkan tugas atau project juga menjadi alat utama bagi para guru yang dinilai mampu mengurangi knowledge gap yang terjadi akibat situasi pandemi.

Lebih jauh, pandemi ini dapat dilihat sebagai sebuah fenomena dengan kontribusi positif yang mampu mengakselerasi literasi digital para pengajar yang selama ini menjadi bagian dari agenda pembangunan dunia pendidikan. Namun, kondisi tersebut tidak serta merta menghilangkan kesulitan lain yang dihadapi oleh para guru sebagai pengajar dalam memastikan penyediaan pendidikan inklusif bagi para pelajar.

Peneliti dari Monash University bekerja sama dengan tim peneliti di Australia dan tujuh negara (Austria, Bangladesh, India, Selandia Baru, Italia, Kanada, dan Spanyol) melakukan studi untuk mengidentifikasi upaya para guru dalam menanggapi tantangan akan penyediaan pendidikan inklusif pada masa pandemi, serta berbagi mengenai pendekatan praktikal yang efektif dengan guru-guru di dunia. Penelitian ini melibatkan wawancara antara tim peneliti dengan tentunya para pemimpin lembaga pendidikan, pengajar, orang tua, staf pendukung pengajar, dan para pelajar.

Hasil penelitian gabungan tersebut menyebutkan bahwa lembaga pendidikan (sekolah) dan guru yang melakukan upaya khusus untuk membangun dan menjaga relasi dengan orang tua para pelajar mengalami peningkatan partisipasi dari pelajar saat pembelajaran daring berlangsung, termasuk para pelajar yang berkebutuhan khusus. Adanya relasi yang terbangun dan terjaga dengan baik dinilai memberikan kontribusi positif bagi pengalaman pembelajaran daring baik bagi guru dan orang tua, serta mampu untuk membangun rasa tanggap sosial serta kondisi emosional para pelajar secara positif.

Salah satu tantangan yang hadir ketika masa pandemi ini adalah minimnya akses internet dan keterbatasan perangkat yang dimiliki oleh guru maupun pelajar. Oleh karenanya, peran sekolah dan kolaborasi antara institusi pendidikan dengan pihak lain dalam strategi penyediaan sarana dukungan seperti penyediaan perangkat dinilai berhasil dalam membantu proses pembelajaran daring. Selain itu, dukungan tambahan seperti kontribusi staf pendukung dalam memastikan setiap pelajar menerima pengalaman pembelajaran yang maksimal melalui komunikasi lebih lanjut juga menunjukkan dampak yang positif.

Pentingnya proses manajemen yang melibatkan kepemimpinan pengelolaan lembaga pendidikan yang kuat dan sehat memiliki peran yang sangat penting. Lembaga pendidikan perlu melakukan komunikasi yang jelas dan kontinu dengan para staf dan komunitas secara luas. Selain itu, di beberapa negara, para guru melakukan pendekatan pengajaran yang berbeda seperti mengajar dalam skala kelompok yang lebih kecil dan saling mendukung satu sama lain. Kegiatan itu dinilai berhasil menciptakan lingkungan lembaga pendidikan secara profesional menjadi sehat, khususnya pada masa di mana dukungan moral sangat diperlukan.

Setiap anak memiliki keunikannya masing-masing dan sebagai pengajar, guru perlu menyadari akan hal tersebut. Tidak semua anak memiliki kemampuan dan kecepatan adaptasi yang sama akan sistem dan pola yang baru ini. Oleh karenanya, hasil survei tersebut menunjukkan para guru mengakui bahwa pendekatan individual yang fleksibel terhadap pelajar sangat penting.

Berdasarkan wawancara survei yang dilakukan, para guru secara global menunjukkan semangat serta komitmen mereka sebagai pengajar profesional serta memberikan harapan baru bagi para pelajar di tengah masa pandemi. Bahkan, ada banyak testimoni dari para keluarga bagaimana upaya itu berhasil membuat perbedaan nyata bagi kehidupan anak-anak dan keluarga selama masa pandemi.

Berdasarkan hasil penelitian survei ini, kita dapat belajar bahwa pandemi ini memberikan peluang bagi sistem pendidikan secara global untuk belajar satu sama lain, serta memungkinkan adanya inovasi akan pola pendekatan dalam penyediaan pendidikan inklusif secara merata.

Tentunya, kita tidak boleh lupa bahwa guru adalah manusia yang selain sebagai tenaga pengajar profesional, juga orang tua dan memiliki anak, serta menghadapi tantangan yang sama. Hak mendapatkan pendidikan inklusif yang merata merupakan hak semua anak, namun kewajiban penyediaan pendidikan inklusif tersebut bukan hanya berada di tangan para guru, tapi juga orang tua, bahkan komunitas secara luas. Oleh karenanya, kita perlu mengakui peran dan kontribusi para guru selama ini, serta mendukung mereka sepenuhnya demi anak-anak kita kelak.

*Penulis adalah tim peneliti dari Monash University

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS