Home Teknologi Tak Ada PLTN, Rancangan Reaktor Nuklir Batan Bisa Dipakai Negara Lain

Tak Ada PLTN, Rancangan Reaktor Nuklir Batan Bisa Dipakai Negara Lain

Yogyakarta, Gatra.com - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) merancang reaktor nuklir generasi keempat yang diklaim lebih murah dari harga reaktor saat ini. Walau tidak tahu kapan diterapkan ke PLTN di Indonesia, keberhasilan mendesain reaktor dengan teknologi terbaru itu jadi kebanggaan.

Reaktor generasi keempat berupa High Temperature Gas Reactor (HTGR) hadir dengan penerapan teknologi terbarukan di sistem pendingin gas, bukan berpendingin air seperti generasi ketiga.

"Pengembangan desain sudah kami lakukan sejak 2014 lalu dan sempat terhenti dua tahun. Tahun ini seluruh tahapan terselesaikan dan tinggal menunggu hak paten dari tiga badan dunia," ujar Peneliti Senior Batan Geni Rina Sunaryo, di Kota Yogyakarta, Sabtu (5/6).

Menurut Geni selaku ketua proyek pengembang desain, reaktor generasi keempat memiliki banyak kelebihan dibanding generasi ketiga. Selain menghasilkan listrik, reaktor ini juga menghasilkan panas untuk mendukung operasional industri kimia.

"Panas yang dihasilkan mencapai 1000 derajat Celcius. Ini bisa diaplikasikan untuk industri gas hidrogen, smelter mineral sebelum diolah, dan pengolahan tanah jarang," lanjutnya.

Batan memutuskan untuk mendesain sendiri reaktor generasi keempat karena mahalnya harga reaktor yang ditawarkan oleh produsen di luar negeri. Ia mengatakan produsen dari Rusia pernah menawarkan harga Rp4,3 triliun hanya untuk desain konseptual dan detail design engineering.

Pada reaktor generasi keempat Batan ini, Geni mengatakan mulai dari nol hingga desain itu terpasang biayanya hanya berkisar Rp2,3 triliun. Penggunaan material buatan dalam negeri dengan standar keamanan tinggi menjadi prioritas.

"Batan telah memutuskan untuk membangun reaktor daya eksperimental HTGR di Serpong dengan kapasitas produksi listrik 10 MW dan bakal dinaikkan bertahap hingga 50 MW," jelas Geni.

Reaktor ini dinilai Batan sangat cocok diterapkan untuk pembangunan PLTN di Indonesia. Meski belum tahu kapan reaktor itu diterapkan di Indonesia, keluarnya hak paten atas desain tersebut bakal membanggakan Batan sebab bisa diterapkan oleh negara lain.

Keberhasilan Batan ini diakui dunia dan menjadikan International Atomic Energy Agency (IAEA) menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Internasional High Temperature Reactor Technology 2021 yang diselenggarakan secara virtual, 2-5 Juni 2021.

"Kemajuan teknologi reaktor nuklir dapat menjadi salah satu opsi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus mengatasi kebutuhan energi dengan tetap mengoptimalkan aspek keamanan dan keselamatan," kata Djarot Sulistio Wisnubroto, Ketua Pelaksana Konferensi.

Konferensi ini kesempatan bagi para pakar dan ilmuwan lintas negara untuk saling berinteraksi dalam mengembangkan teknologi reaktor sekaligus memecahkan tantangan.

Direktur Divisi Nuklir IAEA Dohee Hahn mengatakan Indonesia melalui Batan telah terlibat aktif dalam pengembangan teknologi reaktor berpendingin gas.

"Insinyur nuklir dari Batan telah berpartisipasi dalam kegiatan IAEA di reaktor berpendingin gas sejak awal 1990-an. Batan telah menyelenggarakan banyak lokakarya IAEA tentang HTGR, dan Indonesia adalah anggota aktif TWG-GCR," katanya. 

666