Home Info Sawit Sawit Disebut Perusak Lingkungan, Mashuri: Itu Cuma Isu Bisnis

Sawit Disebut Perusak Lingkungan, Mashuri: Itu Cuma Isu Bisnis

Batanghari, Gatra.com - Ayah dua anak ini langsung melempar senyum saat mendengar omongan kalau kelapa sawit dicap sebagai komoditi perusak lingkungan.

"Ah, itu sudah isu tingkat tinggi lah, isu bisnis. Enggak ada pengaruhnya itu sama petani. Kalau lahan yang ada tak ditanami, itu baru berpengaruh," kata Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi, ini kepada Gatra.com, Sabtu (30/10).

Apapun isu yang dihembuskan terhadap kelapa  sawit kata Mashuri, toh minyak sawit tetap  dibutuhkan dunia dan permintaan malah semakin besar. 

"Tapi saat ini ekspor minyak mentah malah makin sedikit lantaran penggunaan di dalam negeri semakin besar, tak hanya untuk oleo kimia dan oleo food, tapi juga untuk biodiesel bahkan avtur," ujarnya.

Gara-gara penggunaan di dalam negeri semakin meningkat itu pula kata mantan anggota DPRD Batangahari dua periode ini membikin harga kelapa sawit petani terus meroket. 

Saat ini harga Tandan Buah Segar (TBS) sampai ke pabrik sudah di level Rp3.150 perkilogram. Di tingkat loading Rp2.970 perkilogram. Mashuri bilang, dengan harga segitu, level kesejahteraan petani kelapa sawit sudah lebih dari mumpuni. 

"Sebelumnya harga kelapa sawit bertahan di angka Rp2.000 perkilogram. Puncak harga jual kelapa sawit petani tertinggi belum pernah terjadi sebelumnya. Mudah-mudahan sawit menjadi B100 dan avtur diproduksi besar-besaran pula. Kalau ini terjadi, saya rasa harga bisa-bisa menembus angka Rp4.500 perkilogram," Mashuri menghitung.

Bagi Mashuri, membaiknya harga TBS akan berdampak positif bagi ekonomi petani, dengan begitu, angka kriminalitas akan landai. 

"Kebutuhan dan kesejahteraan petani kelapa sawit di tingkat bawah, itu paling utama. Jadi soal isu tadi, kami enggak gubrislah," tegasnya. 

Saat ini kata Mashuri, Apkasindo Batanghari terus mensosialisasikan kepada masyarakat agar menanam kelapa sawit sebanyak-banyaknya. Soalnya harga karet tidak menentu. 

"Kita sudah punya Dewan Pimpinan Unit (DPU) di 8 kecamatan dengan total anggota yang mengantongi Kartu Tanda Anggota (KTA) sekitar 15 ribu. Masing -masing anggota punya kebun minimal 2 hektar," Mashuri merinci

Kepada semua anggota ini, Apkasindo Batanghari terus mengingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar jika ingin menambah kebun, sebab itu merusak lingkungan. 

Bagi mereka yang menjalankan pola tidak membakar itu, Apkasindo kata Mashuri akan memberikan pendampingan soal cara menanam, memupuk, hingga perawatan sampai panen.

"Biasanya kami didampingi PUSRI sosialisasi mekanisme pemupukan. Soalnya banyak petani kita tidak paham cara memupuk yang baik," ujarnya.