Home Lingkungan Kaki Remaja Putri Diterkam Buaya Muara, Sampah ini Memancing Buaya

Kaki Remaja Putri Diterkam Buaya Muara, Sampah ini Memancing Buaya

507
Pekanbaru,Gatra.com- Remaja putri di Kabupaten Indragiri Hilir, Dea Harsina, mendapati luka gigitan buaya di kaki kirinya.  Menurut Kepala Bidang (Kabid) Wilayah I, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, Andri Hansen Siregar, luka tersebut diderita Dea pada Selasa (7/12).
 
"Jadi saat bermaksud buang air besar di toilet yang ada di belakang rumahnya, Selasa (7/12), tiba-tiba ada buaya yang langsung menerkam kakinya," ungkap Andri kepada awak media, Kamis (9/12). 
 
Andri menuturkan Dea akhirnya selamat, setelah teriakannya di dengar oleh orang tuanya, dan kemudian memergoki sang anak tengah berupaya ditarik buaya ke tengah sungai. "Buaya sepanjang 2 meter kemudian ditemukan Tim BPBD setempat beserta damkar. Buaya muara itu didapati 500 meter dari dari rumah korban," urainya. 
 
Andi meyakini, air pasang yang kini terjadi di sebagian Kabupaten Indragiri Hilir, turut andil menghanyutkan buaya ke arah pemukiman penduduk. 
 
Adapun Kabupaten Indragiri Hilir terletak di Pesisir Riau arah selatan. Kabupaten ini merupakan jalur Sungai Indragiri menuju Selat Malaka, dimana anakan sungai dan saluran air berupa kanal gampang dijumpai di kanan-kiri sungai. Kondisi topografis semacam ini  membuat kontak antara manusia dengan buaya sering terjadi. 
 
Pada Minggu (4/9), seorang pemuda, Didi Apriyanto,bahkan tewas diterkam buaya saat mandi di tepi sungai di Kelurahan Rantau Panjang, Kecamatan Enok, Indragiri Hilir. 
 
Kepada Gatra.com, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) area Riau, Suharyono, menyebut penyebab terjadinya konflik manusia dengan buaya dipengaruhi oleh karakter buaya dan tingkah manusia. 
 
Menurut pria yang telah berpindah tugas tersebut, kawanan Buaya merupakan hewan yang tidak pernah menetap disatu titik. Hewan purba ini berpindah mencari daerah yang menawarkan banyak sumber makanan. "Jadi mereka menjadikan pakan sebagai kompas yang menentukan tempat berkerliaran. Pakan ini ada sifatnya alami dan tidak alami lantaran adanya peran manusia," gumamnya.
 
Adapun pakan alami yang dimaksud lebih kepada pola pergerakan ikan di alur sungai. Sedangkan pakan non alami merupakan ulah manusia, ini dapat dicontohkan dengan beragam aktivitas di sungai, seperti  pembuangan sampah organik yang menjadi santapan buaya. "Pakan seperi ini misal kita (manusia) membuang perut ayam, babi atau darah. Kebiasan ini sama dengan memancing buaya," tekannya.
 
Selain itu, menciutnya habitat satwa juga punya andil besar atas peluang bertemunya buaya dengan manusia. Alih fungsi lahan yang demikian kencang di Riau, jelas Haryono, cepat atau lambat justru menciptakan jalur pertemuan dengan hewan purba ini.
 
"Itu sebabnya buaya sering menyapa manusia, padahal mereka hadir di wilayah sendiri. Ini yang menyebabkan mengapa buaya masuk ke parit-parit perumahan, karena dulunya itu lingkungan hidup mereka," tutupnya.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS