Home Hiburan Resensi The Matrix 4 Resurrections: Upaya Menghidupkan Nostalgia Kisah Neo dan Trinity

Resensi The Matrix 4 Resurrections: Upaya Menghidupkan Nostalgia Kisah Neo dan Trinity

794

Jakarta, Gatra.com – Gerak lambat tembakan peluru. Adegan ikonik Neo itu kerap jadi hal pertama yang terlintas di benak kita saat mendengar nama “The Matrix” disebutkan. Asumsi yang ditegaskan oleh salah satu karakter di sekuel terbaru The Matrix 4. Ketiga film sebelumnya digarap kakak beradik Lana dan Lilly Wachowski (keduanya telah bertransformasi menjadi transgender, dan di masa lalu dikenal dengan Larry dan Andy Wachowski). Di proyek terbaru ini, Lilly menolak terlibat, sehingga The Matrix Resurrections hanya digarap Lana semata.

The Matrix Resurrections kembali menghadirkan Keanu Reeves sebagai Neo dan Carrie-Anne Moss sebagai Trinity.

Salah satu adegan di  film The Matrix 4 Resurrections. (Dok. Warner Bros. Pictures/fly)

Film ini dibuka oleh adegan yang sama persis dengan The Matrix 1 (1999). Trinity yang mengenakan baju serba hitam sedang berada di dunia Matrix untuk mencari jejak Neo. Dia duduk menghadap rangkaian kode di layar komputer pada salah satu kamar suram dari Heart o' the City Hotel. Sekelompok polisi mendadak mendobrak masuk untuk menangkapnya.

Penonton lantas ‘diberi tahu’ bahwa itu bukan adegan pengulangan, ketika muncul sosok Bugs (Jessica Henwick) tengah mengintip upaya penyerbuan itu dari celah di dinding. “Bukan seperti ini kejadiannya. Lalu, kalau ini bukan cerita Trinity, ini menunjukkan siapa?” ucap wanita yang punya tato kelinci putih itu, mewakili isi hati penonton.

Mendadak, seorang Agent muncul mengkonfrontasi kapten polisi terkait penangkapan wanita berjubah hitam tersebut. Di The Matrix 1, kita tahu itu adalah Agent Smith (yang dalam trilogi diperankan oleh Hugo Weaving) dan merupakan musuh bebuyutan Neo. Kali ini, yang datang memang dipanggil sebagai Agent Smith oleh polisi, tapi pria tersebut mengaku bernama Morpheus (Yahya Abdul-Mateen II).

Salah satu adegan di  film The Matrix 4 Resurrections. (Dok. Warner Bros. Pictures/fly)

Di The Matrix 1, Neo – yang bernama asli Thomas Anderson – terbangun di depan PC di apartemen pribadinya. Kali ini, Mr. Anderson terbangun di depan seperangkat komputer canggih di ruang kantor yang kekinian. Jika di film sebelumnya, Anderson berprofesi sebagai programmer, kini dia bekerja sebagai pembuat gim di perusahaan Deus Machina. Disebutkan kalau semesta 'The Matrix' adalah nama gim simulasi buatan Anderson yang membuat dia beken dan dikagumi banyak orang. Bosnya, yang diperankan oleh Jonathan Groff, tengah mendukung Anderson untuk membuat versi upgrade gim The Matrix.

Galau, Anderson merasa ada yang tak beres dengan dunia yang dia tempati. Tak mampu menjelaskan apa yang membuatnya gundah itu, Anderson kerap menghadiri sesi terapi dengan psikolognya, yang diperankan oleh Neil Patrick Harris. Psikolog berkacamata merah, pemilik kucing hitam yang diberi nama Deja-Vu, dan rutin meresepkan pil berwarna biru untuk mengatasi kegelisahan Anderson.

Di luar jam kantor, Anderson punya rutinitas pribadi. Duduk di kedai kopi Simulatte sembari menanti momen yang tepat untuk menyapa wanita yang diam-diam dia kagumi, Tiffany (Carrie-Anne Moss). Ketika akhirnya berkenalan, dia kaget mengetahui Tiffany sudah menikah dan punya tiga anak. Tiff, demikian ia lebih suka disapa, adalah pencinta motor besar, dan memiliki satu motor berwarna hitam.

Jonathan Groff dalam salah satu adegan di  film The Matrix 4 Resurrections. (Dok. Warner Bros. Pictures/fly)

Selama durasi 148 menit (2 jam 20 menit), kita lantas menyaksikan rangkuman seluruh The Matrix ditambah satu karakter villain baru. Dengan kata lain, sebelum menonton The Matrix Resurrections, penonton wajib terlebih dahulu menyaksikan tiga film sebelumnya. Karena film ini memakai banyak referensi dari film-film terdahulu. Banyak pula muncul potongan scene dari trilogi lalu.

Fakta paling mendasar adalah pil biru versus pil merah. Pil biru artinya memilih untuk tetap hidup dalam dunia simulasi The Matrix, dan sekedar menjadi salah satu program komputer. Sementara pil merah berarti memilih dunia nyata, tempat manusia ada dan bekerja, meski harus berhadapan dengan gempuran mesin.

Anak kecil yang membantu menjawab pertanyaan Neo kala sedang terdampar di stasiun kereta putih, kini sudah dewasa. Gadis bernama Sati (Priyanka Chopra Jonas) itu kembali membantu dia. Salah satu program utama di The Matrix 2 Reloaded (2003), Merovingian (Lambert Wilson) datang lagi untuk mempersulit langkah Neo.

Salah satu adegan di  film The Matrix 4 Resurrections. (Dok. Warner Bros. Pictures/fly)

Para mesin yang disebut sentinel masih ada. Bedanya, usai upaya perdamaian yang dilakukan Neo di penutup The Matrix 3 Revolutions (2003), sekarang ada sejumlah mesin yang bersedia bekerja sama dan membantu manusia. Mereka dinamakan sentient. Selain para mesin, di dunia manusia kini ada pula versi digital sentient yang terdiri dari sejumlah pixel yang hidup dan bergerak.

Kota Zion sudah musnah, tapi digantikan oleh Kota Io. Kali ini dipimpin oleh Jenderal Niobe (Jada Pinkett Smith), kapten yang dulu dengan berani menjadi relawan untuk mengantar Neo menuju Kota Mesin.

Bagi yang di masa lalu sulit memahami teknologi dan plot The Matrix, kini tak perlu khawatir. Karena ada banyak dialog yang berisi penjelasan cara kerja dan tujuan keberadaan The Matrix. Dialog-dialog panjang yang justru membuat beberapa bagian film ini membosankan. Upaya susah-payah filmmaker untuk membantu mereka yang mungkin adalah penonton baru installment The Matrix.

Neil Patrick Harris dalam salah satu adegan di  film The Matrix 4 Resurrections. (Dok. Warner Bros. Pictures/fly)

Selain itu, pengembangan cerita The Matrix Resurrections disesuaikan dengan kondisi sosial dan teknologi masa kini. Mengingat sutradara yang adalah transgender, maka tokoh utama Bugs diperlihatkan sebagai seorang lesbian. Agar lebih universal, nama yang bias seperti “Zion” diganti menjadi “Io”.

Sayangnya tidak ada adegan ikonik baru yang sukses dari The Matrix Resurrections. Karakter-karakter unik pun tiada. Ambil contoh duo kembar bawahan Merovingian yang sangat tangguh itu. Di masa lalu, The Architect bertanggung jawab untuk menjelaskan The Matrix dengan cara yang elegan. Sementara kini, hanya ada potongan dialog panjang dari sejumlah karakter.

Salah satu adegan di  film The Matrix 4 Resurrections. (Dok. Warner Bros. Pictures/fly)

Diketahui kalau tadinya Hugo Weaving diajak untuk kembali berperan sebagai Agent Smith. Tapi dia menolak tawaran itu karena bentrok dengan jadwal film lain. Sementara, dalam sebuah wawancara, Laurence Fishburne yang memerankan Morpheus dalam trilogi, mengatakan dia tidak diajak terlibat di proyek ini.

Trilogi The Matrix adalah kisah epik tentang perseteruan di dua dunia berbeda. Bagaimana upaya mewujudkan perdamaian di masing-masing semesta. Melalui proses pertempuran seru, teknologi canggih, dan dibumbui satu dua romansa, membuat trilogi tersebut salah satu film klasik sepanjang masa. Sayangnya, The Matrix 4 Resurrections terdegradasi menjadi drama asmara. Bagaimana konflik utama dipaksakan ada untuk menyesuaikan perwujudan penyatuan dua insan karakter utamanya.

Film yang syuting pada 2020 ini sempat tertunda berbulan-bulan akibat lockdown pandemi Covid-19. Tadinya The Matrix Resurrections direncanakan rilis pada 1 April 2022. Tapi karena kondisi yang membaik, film ini akhirnya premiere pada Sabtu, 18 Desember di San Francisco, yang merupakan salah satu kota tempat syutingnya. Film ini tayang serentak di bioskop Amerika Serikat dan Indonesia mulai 22 Desember.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS