Home Kalimantan Kalimantan Selatan Terancam Krisis Jeruk Jenis Siam Akibat Banjir

Kalimantan Selatan Terancam Krisis Jeruk Jenis Siam Akibat Banjir

137

Banjarbaru, Gatra.com - Banjir besar yang melanda sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada pertengahan Januari 2021 lalu, mengakibatkan ratusan pohon jeruk jenis Siam mati, di dua kabupaten penghasil jeruk yaitu Kabupaten Banjar dan Barito Kuala (Batola).

Akibatnya, Kalsel bakal terancam krisis buah jeruk selama tiga tahun kedepan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Provinsi Kalsel, Syamsir Rahman mengungkapkan, di Kabupaten Banjar, dari 100 ribu pohon jeruk, 70 persen lebih mati akibat terendam banjir hampir satu bulan. Begitu juga di Batola, dari 130 ribu pohon jeruk produktif, lebih dari 65 persennya mati.

"Jadi Kalsel akan krisis jeruk paling tidak untuk waktu tiga tahun kedepan. Karena untuk bisa berbuah, diperlukan waktu 3 tahun setelah ditanam," katanya, kepada Gatra.com di Banjarbaru, Selasa (4/1).

Melihat fenomena tersebut, lanjut Syamsir, Pemprov Kalsel tidak tinggal diam. Bantuan bibit jeruk pun segera diberikan kepada petani. 

"Namun tidak bisa semua tanaman jeruk yang mati kita ganti. Karena kita keterbatasan anggaran. Untuk kabupaten Banjar dan Batola total bibit jeruk yang kita berikan 200 ribu pohon dari dana APBD," ucapnya.

Tahun 2022 ini, papar Syamsir, melalui Kementerian Pertanian dia mengusulkan bantuan bibit jeruk yang diambil dari dana APBN.

"Kita usulkan permohonan bantuan 50 ribu bibit jeruk untuk Banjar dan Batola. Harapan kita pak menteri pertanian bisa menyetujui," ucapnya.
Syamsir menyebut, produksi jeruk Siam Kabupaten Banjar dan Batola perbulannya rata - rata diatas 100 ton.

Jeruk dari Kabupaten Banjar dan Batola, tidak saja untuk memenuhi permintaan masyarakat Kalsel, namun juga dikirim ke provinsi tetangga seperti Kalteng dan Kaltim.

"Jeruk juga di kirim ke Pulau Jawa untuk memenuhi permintaan pabrik minuman berbahan baku jeruk. Namun setelah pandemi, permintaan menurun drastis dan mengakibatkan harga jeruk anjlok," ujarnya.

Untuk jangka panjangnya, tambah Syamsir, apabila jeruk kembali berproduksi seperti sediakala, maka di Kabupaten Batola akan didirikan pabrik minuman jeruk.

"Pak menteri pertanian sudah berjanji akan mencarikan investor. Harapan kita pada tahun 2024, pabrik minuman jeruk itu sudah berdiri," tandasnya.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS