Home Hiburan Resensi Film ‘The 355’: Aksi Tangguh Lima Wanita Mata-mata

Resensi Film ‘The 355’: Aksi Tangguh Lima Wanita Mata-mata

172

Jakarta, Gatra.com – Dunia mendadak heboh ketika pada akhir September 2021 lalu diumumkan bahwa aktor baru yang akan menggantikan Daniel Craig sebagai pemeran mata-mata MI6 Inggris adalah Lashana Lynch. Dia mencatatkan dua rekor sekaligus, karakter Agen Bond berkulit warna pertama sekaligus perempuan pertama. Hanya dalam rentang tiga bulan, jumlah itu berlipat ganda. Kini hadir film The 355 yang menceritakan ketangguhan lima perempuan mata-mata dengan beragam latar belakang ras dan agensi. Berikut resensi film The 355 karya sutradara Simon Kinberg.

Selama ini karakter antagonis di film-film laga adalah kartel narkoba dan pelaku terorisme. Kali ini, seiring dengan perkembangan zaman, maka sang mafia narkoba senior punya generasi penerus yang mengembangkan bisnis ke bidang yang lebih berbahaya: keamanan siber. Satu algoritma yang bisa membobol semua data digital, mulai dari ponsel pribadi hingga data perbankan, begitu pula mengambil alih kendali pesawat juga bursa saham.

Salah satu adegan dalam film ‘The 355’. (Dok. Universal Pictures/fly)

Tentu saja para agensi mata-mata sejumlah negara tak mau kalau alat berbahaya itu jatuh ke tangan pembeli yang mampu membayar paling mahal. Maka Agensi Keamanan Amerika Serikat (Central Intelligence Agency atau CIA) mengutus duo Mace (Jessica Chastain) dan Nick Fowler (Sebastian Stan) memburu hardisk external yang berisi data algoritma tersebut hingga ke Paris.

Tugas Paris seharusnya mudah. Luis Rojas (Édgar Ramirez), yang juga mata-mata, tadinya hendak menjual HDD tersebut ke CIA senilai US$3 juta. Mace dan Nick yang menyamar sebagai pasangan suami istri dijadwalkan bertemua Luis di salah satu kafe. Transaksi terjadi saat kedua pihak bertukar tas ransel abu-abu mereka.

Tentu saja CIA bukan satu-satunya agensi yang hendak bersikap heroik bagi negaranya. Upaya transaksi itu digagalkan oleh agen dari Badan Intelijen Federal Jerman (BND), Marie Schmidt (Diane Kruger). Mata-mata perempuan yang menyamar menjadi pelayan di kafe tempat transaksi terjadi.

Salah satu adegan dalam film ‘The 355’. (Dok. Universal Pictures/fly)

Ketika Mace memburu Marie yang membawa kabur ransel abu-abu, Nick tak kalah sibuk mengejar Luis. Luis lenyap dari pandangan, Marie kecewa karena tas yang dia ambil hanya berisi uang, dan Mace dipanggil pulang ke AS hanya untuk mendapat kabar buruk kalau Nick meninggal ditembak.

CIA memutuskan memberi Mace kesempatan kedua untuk mendapatkan HDD tersebut. Dia lantas terbang ke Inggris untuk meminta bantuan Khadijah Adiyeme (Lupita Nyong'o). Wanita mata-mata yang juga pakar keamanan siber.

Salah satu adegan dalam film ‘The 355’. (Dok. Universal Pictures/fly)

Keduanya akhirnya berhasil melacak keberadaan Luis. Luis ternyata masih di Paris didampingi agen sekaligus terapisnya, Graciela Rivera (Penélope Cruz). Kejar-kejaran kembali terjadi yang berujung Luis dibunuh oleh rekannya yang lain. Kegagalan terulang lagi dan membuat pertemuan Mace, Khadijah, Marie, dan Gracie menjadi panas.

Bertekad mendapatkan algoritma berbahaya itu, kali ini keempatnya bergabung dalam satu tim. Keberhasilan sesaat di Maroko malah berujung bencana. Hingga akhirnya mereka harus terbang ke Shanghai dalam upaya melacak HDD. Berkat bantuan mata-mata dari Cina, Lin Mi Sheng (Bingbing Fan), mereka tak hanya bisa selamat dari serbuan pria bersenjata di Shanghai, tapi juga akhirnya berhadapan dengan bandit yang mengincar algoritma itu, Elijah Clarke (Jason Flemyng).

Salah satu adegan dalam film ‘The 355’. (Dok. Universal Pictures/fly)

Sama seperti film panjang pertamanya, X-Men: Dark Phoenix (2019), sutradara Simon Kinberg lagi-lagi menyajikan cerita yang mudah ditebak. Seperti Dark Phoenix, film The 355 juga bertabur bintang. Para artis kelas A bahkan peraih Oscar yang wajahnya terpampang di poster sudah mampu memancing penonton ke bioskop. Masing-masing karakter mata-mata wanita ini tersaji dengan apik semata karena kemampun akting mereka. Namun secara keseluruhan sebagai satu film yang utuh, Kinberg tidak menampilkan sesuatu yang spesial.

Film The 355 adalah film klise mata-mata. Yang berbeda hanya mengganti kelompok kromosom XY menjadi kelompok kromosom XX; karakter pria diambil alih para wanita. Di satu adegan di Moroko perubahan ini memang penting. Bagaimana sekelompok wanita bisa menyamar dengan baik menggunakan hijab misalnya. Tapi selain adegan itu, tak ada alasan signifikan lain. Walau sebenarnya ide film mata-mata wanita datang dari Jessica Chastain ketika tengah bekerja di bawah arahan Kinberg dalam film Dark Phoenix, dilansir IMDB.

Sutradara Simon Kinberg dan Jessica Chastain yang berperan sebagai Mace di ‘The 355’. (Dok. Universal Pictures/fly)

Simon Kinberg mungkin lebih baik tetap berada di posisi produser saja (dengan portofolio 37 film) dibandingkan dengan menjadi sutradara. Kedua film panjangnya yang punya premis menjanjikan malah berujung mengecewakan.

Ini merupakan jenis film laga yang ringan dan menghibur di beberapa bagian dengan potongan-potongan dialog lucu. Tak perlu berharap lebih, nikmati saja premis wanita mata-mata yang menggabungkan kekuatan secara mandiri. Berbeda dengan trio Charlie’s Angels misalnya yang masih menunggu perintah khusus dari Charlie sebelum mulai beraksi.

Salah satu adegan dalam film ‘The 355’. (Dok. Universal Pictures/fly)

Jika karakter Bond perempuan mengundang banyak pembicaraan, itu semata karena selama ini James Bond diperankan pria berkulit putih. Tapi untuk film laga yang menghadirkan tokoh utama perempuan, kini bukan hal yang revolusioner lagi. Beberapa tahun terakhir kita sudah melihatnya di film Red Sparrow, Captain Marvel, juga Black Widow.

Film The 355 yang berdurasi 124 menit ini sudah rilis sejak 7 Januari lalu di Amerika Serikat. Film ini tayang mulai hari ini di bioskop seluruh Indonesia.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS