Home Gaya Hidup Ritual Punggahan Jelang Ramadan Komunitas Kejawen Digelar Secara Terbatas

Ritual Punggahan Jelang Ramadan Komunitas Kejawen Digelar Secara Terbatas

Banyumas, Gatra.com– Ritual Punggahan jelang Ramadan di Panembahan Banokeling, Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang bakal dimulai pada Kamis hingga Sabtu (24-26/3/2022) akan digelar secara terbatas.

Ketua Paguyuban Resik Kubur Rasa Sejati (PRKRS) Kalikudi, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Nakam Wimbo Prawiro mengatakan kepastian itu diperoleh setelah ada soloran (pengumuman) dari Kiai Kunci Panembahan Banokeling, terkait pelaksanaan Punggahan.

Kata dia, masing-masing kelompok adat atau kelompok kejawen dibatasi hanya bisa mengirimkan sebanyak 15 anak putu atau anggota.

“Soloran yang dari Daun Lumbung, itu ada batas. Itu dibatasi, Pasemuan Lor 15 orang, Pasemuan Kidul 15 orang,” katanya.

Kata dia, Anak Putu Kalikudi sendiri akan memberangkatkan 30 orang, masing-masing dari Pasemuan Lor dan Pasemuan Kidul. Sesuai jadwal, ke-30 perwakilan itu akan diberangkatkan pada Kamis pagi untuk menjalani ritual lampah atau jalan kaki.

Namun, berbeda dari kondisi normal, kali ini ritual lampah ditiadakan. Peserta akan menggunakan kendaraan untuk menuju Panembahan Banokeling, yang berjarak sekitar 30 kilometer lebih. “Tidak jalan kaki, cuma pakai kendaraan,” ucap dia.

Nakam menjelaskan, normalnya ritual punggahan diikuti oleh ribuan penghayat kepercayaan dan pelestari adat sebagai bagian dari prosesi menjelang bulan Puasa atau Ramadan. Dalam ritual ini, anak putu akan menjalani berbagai prosesi,seperti lampah, bekten, muji atau slametan.

Ritual punggahan digelar tiga hari, dengan dua malam anak putu menginap di Panembahan Banokeling. Namun, tahun ini anak putu hanya diperbolehkan menginap satu malam dan pada Jumat sore anak putu akan kembali ke wilayah masing-masing.

“Juga hanya bisa menginap satu malam, di sana. Jumat sore, biasanya pulang. Itu punggahan untuk tahun 2022 ini,” kata jelas Nakam.

1655