Home Teknologi Ubah Bahasa Arab jadi Huruf Braille, Tim RI Juarai Lima Besar Hackathon Microsoft Tingkat Asia Pasifik

Ubah Bahasa Arab jadi Huruf Braille, Tim RI Juarai Lima Besar Hackathon Microsoft Tingkat Asia Pasifik

68

Jakarta, Gatra.com – Tim dari Indonesia, Arabic Braille Converter, berhasil terpilih sebagai lima besar kompetisi Hackathon Microsoft AI for Accessibility (AI4A) tingkat Asia Pasifik. Tim ini menciptakan solusi untuk menjembatani kesenjangan disabilitas dengan mengembangkan aplikasi yang dapat memindai dan mengubah teks atau grafik Bahasa Arab ke dalam format Braille Indonesia, yang dapat dibaca oleh pembaca layar atau tampilan braille. Solusi ini juga memiliki fungsi untuk menerjemahkan kembali dari Bahasa Arab Braille ke dalam teks Arab.

“Bulan Mei merupakan waktu yang penting bagi kami untuk melihat besarnya potensi kontribusi penyandang disabilitas, melalui peluncuran program awareness, pelatihan, dan bimbingan dengan pelanggan, mitra, serta komunitas kami di seluruh wilayah ini,” ujar Chair for Diversity, Inclusion, dan Accessibility Microsoft Asia Pasifik, Pratima Amonkar.

Baca Juga: Darurat Ketimpangan Jumlah Pekerja Perempuan Penyandang Disabilitas

Dalam keterangan yang diterima Gatra.com disebutkan bahwa di tahun ketiga ini Hackathon AI4A mempertemukan 75 tim untuk memecahkan tantangan dunia nyata yang dihadapi penyandang disabilitas. Hackathon ini bertindak sebagai batu loncatan para creator dan developer untuk meluncurkan aplikasi mereka, dengan hadiah uang tunai, dukungan dari pakar teknis Microsoft, dan pendampingan berkelanjutan untuk mengembangkan solusi ini di Microsoft Azure.

Berdasarkan tantangan kehidupan nyata yang dihadapi oleh penyandang disabilitas, 14 organisasi nirlaba merumuskan sejumlah pokok permasalahan yang selanjutnya digunakan peserta AI4A Hackathon untuk membangun solusi inovatif di seputar tema transportasi, wearable device, dan alat bahasa.

Sebagai bagian dari lima besar, tim Arabic Braille Converter akan menerima pelatihan dari Microsoft dan mitra-mitra Microsoft, termasuk akses ke arsitek cloud, serta panduan konsultasi bisnis untuk mengembangkan solusi mereka – dari bentuk konsep ke aplikasi nyata – di Microsoft Azure.

Baca Juga: Pertemuan Pertama G20, Menaker Bahas Isu Disabilitas dan Kompetensi Kerja

Dengan lebih dari 1 miliar penyandang disabilitas di dunia, dan 650 juta di Asia, Microsoft menilai bahwa aksesibilitas sangat penting untuk mewujudkan misi perusahaan, yaitu memberdayakan setiap orang dan setiap organisasi di planet ini untuk mencapai lebih banyak hal. Aksesibilitas adalah sarana yang memungkinkan inklusi bagi penyandang disabilitas.

“Kami terinspirasi melihat besarnya antusiasme peserta hackathon tahun ini untuk meningkatkan kehidupan penyandang disabilitas. Selamat kepada para pemenang, yang dengan penuh semangat menghadirkan solusi-solusi luar biasa,” tambah Amonkar.

Demi menyoroti bagaimana teknologi dapat menghadirkan solusi yang mampu memberdayakan penyandang disabilitas dan memungkinkan perubahan transformatif di Asia Pasifik, Microsoft telah mendedikasikan Mei 2022 sebagai Bulan Kesadaran Aksesibilitas, dengan menyelenggarakan serangkaian lokakarya, pelatihan, dan acara penghargaan pemenang Hackathon AI4A.

Baca Juga: Pemkab Wonosobo Intensifkan Pelatihan Lifeskill untuk Penyandang Disabilitas

Secara khusus di Indonesia, Microsoft juga menyelenggarakan Accessibility Indonesia Forum pertamanya pada 18 Mei ini untuk mendiskusikan topik seperti komitmen pemerintah terhadap inklusivitas, peran serta organisasi dalam meningkatkan partisipasi penyandang disabilitas di dunia kerja, serta bagaimana teknologi Microsoft dapat mendukung inklusivitas.

Selain tim Arabic Braille Converter, tim MeetMeHear dari Singapura juga berhasil masuk ke dalam lima besar dengan aplikasi mereka yang membantu penyandang tunarungu dan gangguan pendengaran, agar dapat berkomunikasi lebih baik dengan orang lain selama pertemuan fisik. Hal ini dapat dilakukan melalui penggunaan AI untuk pengenalan ucapan, guna memberikan teks langsung yang lebih akurat.

Sementara itu, tiga pemenang utama dalam Hackathon AI4A tahun ini adalah Tim Asclepius dari Thailand, Tim SWIFT Responders dari Singapura, dan Tim EIA dari Filipina. Mereka menciptakan solusi yang meliputi alat bantu komunikasi berkemampuan AI untuk penyandang tunarungu, sebuah sistem cerdas yang memungkinkan penyandang disabilitas fisik untuk hidup mandiri, serta sistem perbankan inklusif bagi penyandang tunanetra.

COMMENTS

LEAVE A COMMENTS