Home Olahraga Dua Bobotoh Tewas, SOS: Tindak Tegas Panitia Laga Persib Vs Persibaya

Dua Bobotoh Tewas, SOS: Tindak Tegas Panitia Laga Persib Vs Persibaya

Jakarta, Gatra.com – #SaveOurSoccer (SOS) meminta agar pihak panitia laga Piala Presiden antara Persib versus Persibaya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Jawa Barat, harus ditindak tegas atas tewasnya dua orang suporter atau Bobotoh Persib.

“Panitia harus bertanggung jawab atas kejadian ini dan diberikan sanksi tegas,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS dalam keterangan pers diterima pada Minggu (19/6).

Kedua Bobotoh yang tewas tersebut yakni Sopiana Yusup dari Bogor dan Ahmad Solihin asal Cibaduyut. Sesuai keterangan Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Ibrahim Tompo, lanjut Akmal, korban meninggal akibat terinjak-injak saat berebut masuk ke dalam stadion.

Menurutnya, sanksi tegas harus dilakukan agar tidak ada lagi suporter yang meninggal dunia. Sesuai data yang dimiliki SOS, Sopiana dan Solihin merupakan korban ke-77 dan 78 yang meregang nyawa sejak Liga Indonesia digelar pada 1994 silam.

“Satu nyawa terlalu mahal untuk dikorbankan dalam pertandingan sepak bola. Apalagi sampai dua orang meninggal dunia. Ini harus dievaluasi agar kejadian serupa tak terus berulang,” ujar Akmal.

SOS menyampaikan prihatin atas insiden maut tersebut. Menurutnya, kejadian nahas ini tidak boleh dianggap remeh atau disebut sebagai kecelakaan sepak bola biasa. Ini harus ditangani serius oleh pihak-pihak terkait agar tidak berulang ke depannya.

“Apalagi turnamen ini mengatasnamakan Presiden Joko Widodo. Sungguh sangat memprihatinkan,” kata Akmal.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku panitia pelaksana, lanjut Akmal, tidak mampu menjalankan Standard Operating Procedure (SOP) secara benar. Tidak juga melakukan antisipasi kemungkinan membludaknya jumlah penonton.

Menurutnya, tidak ada sosialisasi aturan bahwa setelah Covid-19 melandai dan pertandingan sepak bola dibolehkan pakai penonton, dalam Piala Presiden saat ini jumlah penonton di stadion masih dibatasi. Ini tidak diantisipasi dengan benar, termasuk masuknya suar atau flare ke dalam lapangan.

“Sebagai event organizer LIB paling bertanggung jawab atas jatuhnya korban nyawa. Sepak bola itu hiburan, bukan kuburan," Akmal menegaskan.

SOS juga menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang namanya dipakai sebagai judul turnamen, harus melihat fakta ketidaksiapan LIB dan PSSI. Ada baiknya sebagai bentuk penghormatan kepada dua korban yang meninggal, turnamen ini dihentikan saja karena sudah tak memberikan hiburan kepada masyarakat. “Malah menghadirkan duka,” ujarnya.

Dibandingkan jadi event organizer (EO) turnamen pramusim, sejatinya LIB dan PSSI fokus menyiapkan regulasi dan aturan kompetisi. Termasuk aturan tentang suporter agar saat kompetisi berjalan, semua sudah siap 100% dan tidak ada masalah di tengah jalan.

Regulasi suporter menjadi faktor penting yang harus dibuat dan disosialisasikan kepada suporter agar terbangun kesadaran bersama untuk dilaksanakan di kompetisi sepak bola Indonesia. Regulasi yang pasti dan kuat dengan sanksi keras tanpa "negosiasi" menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan industri sepak bola Indonesia masa dapan. FIFA Security and Safety Stadium Regulation perlu disosialisasikan.

Suporter harus mendapatkan edukasi terkait regulasi, rule of the games, serta tentunya pemahaman terhadap hal-hal yang boleh dan haram ketika menonton satu pertandingan. Football Spectator Act (FAS) yang diberlakukan di Inggris pada 1989 untuk mencegah holiganisme perlu dicontoh dan diberlakukan.

FSA mewajibkan seluruh suporter di Inggris memiliki kartu keanggotaan dari klub yang mereka dukung. Tujuannya untuk database. Suporter yan­g membuat rusuh, bisa dengan mudah diidentifi­kasi. Mereka akan dicabut kartu ang­gota­nya serta tak boleh me­nonton pertandingan seumur hidup di stadion bila dinyata­kan bersalah.

FSA juga mengatur Badan Otoritas Lisensi yang bertugas mem­beri, atau mencabut izin sebuah stadion untuk menyelenggarakan pertanding­an. Kewenangan besar ini diberi­kan agar tak ada lagi stadion yang tingkat keamanannya ren­dah.

“PSSI bersama LIB harus kembali ke tugas pokoknya, segera membuat regulasi suporter dan menyosialisikan FIFA Security and Safety Stadium Regulation agar kompetisi bisa berjalan aman dan lancar. Bukan malah menjadi event organizer Piala Presiden,“ ujar Akmal.

100