Home Gaya Hidup Ritual Sakral Jembul Banyumanis, Tombak Ki Rekso Buwono pun Ditampilkan

Ritual Sakral Jembul Banyumanis, Tombak Ki Rekso Buwono pun Ditampilkan

Jepara, Gatra.com - Jembul Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, masih tetap lestari hingga sekarang. Ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelum Jembul diarak keliling kampung.

Perangkat Desa Banyumanis, Abdul Bisri mengatakan, acara sedekah bumi atau bersih desa ini, sudah diawali sepekan sebelum acara puncak, yaitu arak-arakan Jembul Banyumanis.

Tradisi ini diawali dengan tradisi Manganan di Punden Mbah Suto Mangun Joyo, satu pekan sebelumnya.

Kemudian dilanjutkan Selasa malam Rabu, prosesi kirab pusaka keramat berupa Tombak Ki Rekso Buwono dari punden ke rumah petinggi. Pusaka ini diarak oleh lembaga adat dan dilanjutkan dengan Tari Kenyo Manis dan Tari Rondek, khas Desa Banyumanis.

"Dilanjutkan proses penyembelihan hewan kerbau, pergelaran wayang kulit, dan terakhir kirab Jembul," ujarnya, Kamis (30/6).

Jembul merupakan usungan ancak yang terbuat dari kayu yang di dalamnya dihiasi dengan rumbaian tipis yang dibuat dari bambu, kemudian dirias dengan sisa potongan kain ditata berjejer membentuk gunungan yang besar dan berisikan aneka makanan.

Jembul sendiri terdiri dari dua jenis yakni, Jembul wadon (Jembul perempuan) dan Jembul lanang (Jembul laki-laki).

Di dalam Jembul wadon berisikan aneka makanan, nasi beserta lauk, jadah, tape ketan, gemblong, dan sebagainya, sebagian sesaji dikemas kedalam anyaman bambu.

Sedangkan Jembul lanang, berisi iratan bambu yang dihias dengan tiras di bagian paling atas tengah berdiri golek (boneka) simbol dari wakil dari masing-masing dukuh.

Jembul yang dikirab terdiri dari tiga pedukuhan. Yaitu Dukuh Getakan, Dukuh Karanganyar, dan Dukuh Juwet. Sementara Dukuh Jerukrejo membawa gunungan hasil bumi. Dari ketiga jembul ini di jemput oleh pamong perangkat desa dan dikirab ke rumah kepala desa.

Setelah semua jembul dan gunungan sudah terkumpul dilanjutkan dengan tayuban, setelah itu ditutup dengan doa dan ubeng-ubengan jembul oleh petinggi dan perangkatnya sebanyak tiga kali putaran. Setelah itu jembul kembali ke dukuh masing-masing.

"Harapan ke depan kegiatan ini semakin meriah karena ini merupakan kebudayaan dan tradisi yg harus di lestarikan," tutur Abdul.

1889