Home Sumbagteng Mendag Zulhas: Tak Ada Domba Makan Harimau

Mendag Zulhas: Tak Ada Domba Makan Harimau

Batanghari, Gatra.com Menteri Perdagangan RI Zulkifli Hasan dua hari lalu mengunjungi Desa Simpang Jelutih, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, Jambi. 

Kehadiran lelaki 59 tahun akrab disapa Zulhas memenuhi undangan Komisaris Utama PT Nusantara Green Energy (NGE), Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.

Agendanya adalah peletakan batu pertama pabrik minyak sawit masa depan. Zulhas beserta rombongan terbang menggunakan helikopter bersama Gubernur Jambi Al Haris.
 
Kehadiran Zulhas disambut masyarakat yang notabene petani kelapa sawit. Sebelum terbang ke wilayah Kabupaten Batanghari, dia mengunjungi Pasar Angsoduo, Jambi.

"Kalau di hutan belantara, tak ada domba makan harimau, yang ada harimau makan domba. Ini filosofinya," katanya menggunakan pengeras suara dari atas panggung.

"Oleh karena itu, kalau pemerintah tekan pengusaha, maka pengusaha akan tekan petani. Petani mau tekan siapa, enggak ada lagi, itulah perlunya pemerintah," ucapnya.

Menurut dia, pengusaha harus ditemani dan petani harus dibela. Alasannya, pemerintah berdaulat dipilih oleh rakyat. Tujuan suatu negara merdeka agar rakyat bersatu dan enggak boleh pecah-pecah. 

"Kita bisa bersatu kalau makanan cukup. Kalau banyak yang miskin enggak dapat makanan, ribut juga dia. Kita enggak bisa ngomong persatuan kalau ada yang lapar," ujarnya.

"Kita bisa ngomong persatuan kalau semua bisa makan. Kata Bung Karno, kalau kita bersatu, maka kita akan berdaulat karena negeri kita stabil," imbuhnya.

Ketua Umum DPP PAN ini mengaku, ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Menteri Perdagangan guna menghadapi masalah. Enam bulan masalah enggak kelar-kelar. Minyak goreng yang licin enggak patuh-patuh, enggak tunduk-tunduk, dan liar terus harganya enggak karu-karuan.

"Pengusaha selama 5 bulan rugi 10 miliar dolar. Bukan sedikit, yang panen tetangga. Petani teriak harga 700 perak, pengusaha teriak enggak bisa ekspor, konsumen luar negeri lari, rakyat di sini beli minyak mahal," katanya.

Berangkat dari masalah tersebut, Presiden meminta Zulhas menyelesaikan urusan yang ruwet dan licin itu. Benar saja, kini minyak goreng yang licin itu sudah tunduk. 

"Harganya sekarang [minyak goreng curah] di pasar Jambi sudah 13 ribu. Berarti sudah terkendali. Harga-harga lain juga sudah terkendali, seperti cabai, bawang merah, telur sudah terkendali, sudah jinak ini," ujarnya.

Zulhas bersyukur inflasi tinggi yang membuat rakyat susah sudah bisa teratasi. Pemerintah masih tetap berpihak kepada kepentingan emak-emak. 

"Pengusaha ditemani, jangan dimusuhi, susah cari pengusaha, enggak gampang. Makanya saya kumpulkan pengusaha. Saya katakan bahwa kita bareng-bareng, karena sawit industri strategis," ucapnya. 

Minyak kelapa sawit banyak menghasilkan produk makanan, menyerap tenaga kerja, dan jadi andalan ekspor. Indonesia leader di dunia, hampir separuh minyak sawit berada di Indonesia. 

"Tapi kita yang menderita. Ada berkah, ada rezeki nomplok, tapi malah jadi bencana. Maka tadi saya katakan kita enggak bersyukur," katanya.

"Kita yang punya paling banyak, kita rajanya, harga lagi bagus akibat geopolitik harga minyak bagus, tapi di tempat kita jadi bencana. Jadi 700 perak, sawit enggak bisa ekspor dan macam-macam," ujarnya.

"Saya kumpulkan pengusaha, kita meski bareng-bareng, kita ngatur dunia dong. Masak iya kita yang diatur, wong kita yang punya, kok malah diatur-atur, gimana," ucap Zulhas kesal.

Ia merinci produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia 48 juta, sisa stok 4 juta, jadi jumlah 52 juta. Dari 52 juta itu, Indonesia hanya perlu 3,4 juta untuk minyak curah dan minyak kemasan sederhana. 

"Enggak sampai 10% Pak, 7% sampai 8% saja. Pengusaha juga mau kasih. Mereka bilang enggak seberapa 7% sampai 8%, sampai 10% saja boleh. Jadi di mana miskomunikasi. Pengusaha mau, tapi enggak bisa, rupanya perlu instrumen. Instrumennya itu yang enggak ada," katanya.

"Pengusaha kasih, instrumen enggak ada, hilang tu barang Pak, enggak tahu ke mana-mana Pak," ucapnya.

Zulhas secara lantang berujar background dirinya adalah distributor. Sejak usia 21 tahun, ia sudah punya distributor di 20 provinsi dan seratusan kabupaten seluruh Indonesia. Kala itu, ia sudah punya hubungan sama Korea Selatan, Tiongkok, dan Taiwan.

"Jadi soal distribusi perdagangan ini mungkin banyak yang belum tahu, saya ahlinya di situ Pak. Distribusi saya waktu itu sudah besar, jadi terlatih lah. Oleh karena itu, sebentar saya paham," katanya.

Zulhas segera mungkin membentuk instrumen distribusi. Kini, sudah ada 18.000 titik semacam pom bensin untuk mendapat minyak curah atau minyak kemasan sederhana. 

"Dengan begitu harga turun. Jadi, orang kalau mau yang mahal ada brand, kalau mau yang murah ada tempatnya," ujar dia.

Peletakan batu pertama pabrik minyak sawit masa depan PT NGE turut dihadiri dua anggota DPR RI, Gubernur Jambi, Al Haris; Wakil Bupati Batanghari, Bakhtiar; Ketua DPRD Provinsi Jambi, Edi Purwanto; Ketua DPRD Batanghari, Anita Yasmin; Kajari Sugih Carvallo, dan Kapolres AKBP M Hasan.