Home Kesehatan Dokter Kulit: Manifestasi Klinis Penderita Cacar Monyet Serupa Penderita HIV

Dokter Kulit: Manifestasi Klinis Penderita Cacar Monyet Serupa Penderita HIV

Jakarta, Gatra.com – Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan penyakit cacar monyet (monkeypox) sebagai darurat kesehatan global pada Senin (25/7) silam.

Terkait hal tersebut, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Eliza Miranda pun memaparkan sejumlah gejala klinis prodromal, atau gejala klinis yang muncul sebelum terjadinya suatu gangguan, yang acap kali terjadi dalam infeksi cacar monyet.

“Paling banyak adalah demam, kemudian diikuti oleh limfadenopati atau pembesaran kelenjar getah bening, kemudian bisa letargi, nyeri-nyeri otot, nyeri kepala, maupun tenggorokan,” jelas dr. Eliza Miranda dalam webinar bertajuk “Indonesia Waspada Wabah Monkeypox” yang diselenggarakan oleh Continuing Medical Education, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Selasa (9/8).

Cacar monyet memiliki beberapa gejala yang membuat kulit rusak sebagaimana kerusakan kulit akibat cacar biasa atau kerusakan kulit klasik. Menurut Eliza, gejala kulit klasik yang memicu lesi, atau kerusakan jaringan kulit itu juga dapat ditemukan pada wabah cacar monyet pada 2022 ini.

Sejumlah gejala tersebut antara lain munculnya ruam setelah prodromal, terjadinya ruam vesiculopustular di mana cairan jernih pada vesikel berubah mengeruh, nyeri yang diikuti gatal saat mengelupas, adanya umbilikasi atau lekukan di tengah-tengah lesi, serta penyebaran yang diawali dari wajah sebelum akhirnya menyebar menuju tubuh dan lengan.

Berbeda dengan wabah klasik di mana lesi berkembang melalui tahapan stadium dan cenderung menyeluruh, lesi yang ditemukan pada wabah di tahun 2022 itu cenderung dapat timbul bersamaan pada berbagai stadium. Gejala lainnya, lesi lebih terlokalisasi yang biasanya hanya mengenai kurang dari 4 area, gejala prodromal cenderung ringan dan bahkan tidak ditemukan, serta 64%-nya memiliki jumlah lesi yang kurang dari 10.

Eliza pun memaparkan bahwa gejala klinis cacar monyet yang tampak pada pasien penderita HIV tidak memiliki perbedaan dengan gejala klinis pada penderita tanpa penyakit penyerta.

“Ternyata terdapat 41% subjek juga menyandang infeksi HIV, di mana manifestasi (gejala) klinis di antara keduanya sama. Jadi, monkeypox yang terdapat pada, baik itu penderita HIV ataupun bukan HIV, ternyata manifestasi klinisnya tidak berbeda,” ujar Eliza. Ia juga menambahkan, 29% penderita cacar monyet memiliki infeksi menular seksual, seperti sifilis, gonore, ataupun chlamydia.

Walau memiliki gejala klinis yang beragam, Eliza mengatakan bahwa cacar monyet sendiri dapat dideteksi sejak dini. Beberapa di antaranya dapat dilakukan dengan anamnesis terkait riwayat seksual, perjalanan, dan kontak dengan hewan maupun produk hewan selama 21 hari terakhir.

“Dan juga kita harus melakukan pemeriksaan kulit maupun mukosa genital, atau anal, dan juga mukosa oral, tentunya, dengan pencahayaan yang baik, supaya terlihat jelas lesinya,” papar Eliza. Tak hanya itu, ia juga menganjurkan untuk melakukan eksklusi dengan melakukan diagnosis banding serta evaluasi infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV.

Seseorang yang mencurigai adanya kemungkinan keterpaparan cacar monyet dapat melakukan swab lesi kulit dengan PCR, melaporkan diri pada satuan tugas maupun Kementerian Kesehatan, contact tracing, dan post-exposure prophylaxis, serta melakukan isolasi dan terapi untuk mengatasi cacar monyet tersebut.