Home Hukum Unik, Warga Binaan Rutan Bebas, Diantar Sipir Berpakaian Adat Sampai Rumah

Unik, Warga Binaan Rutan Bebas, Diantar Sipir Berpakaian Adat Sampai Rumah

Purworejo, Gatra.com - Ada yang unik dalam upacara pemberian remisi serta penghargaan Satya Lencana Karya Satya di Rutan Kelas IIB Purworejo, Jawa Tengah. Para pegawai dan Kepala Rutan, Mohammad Mukaffie memakai pakaian adat dari daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Usai seremonial pemberian remisi dan penghargaan, para pegawai kemudian mengikuti lomba fashion show pakaian adat di Aula Rutan, Graha Baharuddin Lopa. Dengan diiringi lagu-lagu daerah sesuai dengan baju yang dipakai, para pegawai nampak luwes memperagakan catwalk di atas karpet merah.

"Dalam rangka memperingati kemerdekaan ke-77 RI, kami ikut memeriahkannya dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah pemberian remisi bagi warga binaan (WB). Setelah itu kami adakan fashion show WB dan petugas Rutan dengan memakai pakaian adat dari Sabang sampai Merauke," kata Kaffie, Rabu (17/8).

Ia menambahkan, kegiatan fashion show pakaian nusantara ini ditujukan agar para pegawai Rutan dan keluarga paham akan aneka ragam budaya yang ada di Indonesia. Saat upacara HUT RI di Alun-alun Purworejo, kontingen dari Rutan yang memakai pakaian adat mendapat apresiasi dari peserta dan Bupati Agus Bastian.

Langsung Bebas

Dalam remisi HUT RI tahun 2022 ini, Rutan Purworejo mengajukan 128 WB, namun yang diberi remisi hanya 123 orang. Tiga orang diantaranya bisa langsung menghirup udara bebas karena masa hukuman mereka telah usai.

Ketiga WB yang langsung bebas adalah Bayu Prasongko warga Kelurahan Kledung Kradenan, Taufik Hidayat warga Kelurahan Kutoarjo serta Eko Riyanto. Mereka masing-masing mendapat remisi satu bulan.

Menariknya, para warga binaan yang akan kembali ke masyarakat itu diantar langsung oleh petugas memakai busana adat sampai ke rumah masing-masing. "Warga binaan yang langsung bebas, kami antar langsung ke rumah agar berbaur dengan masyarakat. Saya nasihati juga agar setelah bebas patuh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, patuh hukum serta bisa memberi manfaat bagi masyarakat," ujar Kaffie.

Sementara itu, Taufik Hidayat yang langsung bebas mengaku bersyukur bisa merasakan hidup di balik jeruji besi. "Justru selama di sinilah saya bisa baca Alquran, bisa mengaji, rajin salat lima waktu dan puasa full. Dulu-dulu saya tidak bisa ngaji, salat dan puasa juga nggak pernah," kata pria asli Padang Pariaman ini.

Setelah kembali ke masyarakat, ia berencana akan merantau ke Jakarta membuka usaha rumah makan Padang. "Saya kan kena (perkara) narkotika, benar-benar kapok. Tidak akan memakai lagi, kalau ada yang mau coba-coba saya anjurkan pikirkan kembali akibatnya," kata pria berusia 43 tahun ini.

Ketiga tahanan saat akan meninggalkan Rutan berganti pakaian, sebagai prosesi yang dipercaya para napi yang bebas, pakaian mereka diberikan ke temannya yang masih di Rutan. Kebiasaan itu dipercaya sebagai simbol meninggalkan penjara dan tidak akan kembali lagi.