Home Apa Siapa Sri Setyaningsih, Disabilitas Mandiri, dan Ajakan yang Sempat Berbuah Acungan Parang

Sri Setyaningsih, Disabilitas Mandiri, dan Ajakan yang Sempat Berbuah Acungan Parang

Boyolali, Gatra.com – Upaya mengajak kalangan disabilitas untuk mandiri rupanya tidak mudah. Namun Sri Setyaningsih bersama Kresna Patra menunjukkan upaya pantang menyerah mereka dalam memajukan para difabel.

Joko Wardono (33), pemuda asal Bibit Sari, Teras, Boyolali merasa senang karena sudah bekerja di PT Pan Brothers selama sepekan ini. Harapannya untuk bisa mandiri dan meringankan ekonomi keluarga juga mulai terwujud.

Apalagi Joko yang merupakan penyandang disabilitas tidak mudah mendapatkan pekerjaan. Selama ini ia menjadi buruh bangunan di dekat rumah. Bermodalkan tawaran seorang teman, Sri Setyaningsih, Joko bisa mendapat pelatihan menjahit di workshop Kresna Patra yang merupakan binaan Pertamina.

Dalam pelatihan ini, Joko belajar membuat kemeja. Selama pelatihan 18 hari, dia bekerja keras untuk membuat pola dengan baik hingga memotong kain secara tepat. Dari kerja kerasnya, Joko bisa diterima bekerja di PT Pan Brothers bersama enam kawannya yang juga mendapat pelatihan.

Peserta lain di pelatihan Kresna Patra, Siti Arofah (42), juga diajak Sri Setyaningsih, untuk mengikuti pelatihan menjahit tersebut.

”Saya kenal dan ikut Mbak Sri sudah sejak tahun 2018. Awalnya hanya diajak ikut pertemuan-pertemuan di komunitas (penyandang disabilitas). Lama-lama saya ikut pelatihan,” katanya.

Buat Siti, menjahit bukanlah hal yang mudah. Sebab, sebagai disabilitas fisik, Siti tidak bisa memakai mesin jahit pada umumnya karena kondisi kakinya. Siti kemudian memakai mesin jahit portabel.

”Jahitnya lebih lama. Awalnya belajarnya susah, tapi lama-lama jadi mudah,” katanya.

Selesai pelatihan ini, Siti Arofah pun memulai mimpinya untuk bisa mandiri. Sedikit demi sedikit ia berani menerima pesanan menjahit borongan. Ia juga mempunyai harapan untuk membuka usaha menjahit sendiri. Siti menyadari tidak bisa bekerja di pabrik seperti kawan-kawannya di pelatihan.

”Ya kalau bisa buka jahit sendiri. Ini sudah sedikit-sedikit ambil borongan,” katanya.

Sebagai sosok yang mengajak para disabilitas itu untuk mengikuti pelatihan, Sri Setyaningsih, selaku Ketua Kresna Patra, memang berupaya fokus membantu para disabilitas agar bisa hidup mandiri.

Saat ditemui di sela acara launching Workshop Menjahit Kresna Patra di Kemusi Boyolali, Rabu (10/8) lalu, Sri menceritakan ingin membantu sesama disabilitas untuk bisa melewati hambatan-hambatan yang mereka hadapi. Namun upaya itu bukan hal yang mudah.

Dia banyak menghadapi kendala untuk mengajak mereka bergabung dalam komunitas atau mengikuti pelatihan. ”Biasanya hambatan justru datang dari keluarga mereka sendiri. Sebab banyak penyandang disabilitas yang dilindungi atau disembunyikan orang tuanya,” katanya.

Meski di era modern, menurut dia, banyak pihak yang menganggap memiliki keluarga difabel adalah aib. Kendala ini yang menjadikan sulitnya Sri mengajak kawan-kawannya untuk mengikuti pelatihan dan jadi mandiri.

”Saya pernah datang baik-baik, menceritakan niat kami untuk mengajak mereka belajar, tapi malah dibawakan parang,” katanya.

Namun dengan kendala itu, Sri tidak mudah menyerah. Dia mulai pelan-pelan menceritakan kegiatannya untuk melatih para penyandang disabilitas agar bisa maju dan mandiri.

”Saya bilang mau mengajak mereka kerja. Jadi saya pelan-pelan memberitahu keluarganya. Setelah keluarganya memperbolehkan pun, persoalan tidak selesai di situ. Teman-teman penyandang disabilitas ini terkadang belum siap. Mereka banyak yang tidak siap untuk mandiri,” katanya.

Dengan lika-liku ini, toh Sri pantang menyerah. Sri melatih kawan-kawannya untuk mengasah hard skill, soft skill, hingga life skill mereka. Saat ini sudah ada 40 orang yang dilatihnya dan berhasil masuk ke dunia kerja.

”Bulan ini sudah enam orang yang dikirim (ke perusahaan). Status mereka karyawan dengan gaji standar UMR (upah minimum regional). Bahkan ada seorang teman yang diterima di salah satu bagian, gajinya di atas Rp3 juta. Setelah tiga bulan pun mereka diangkat sebagai karyawan tetap,” katanya.

Sebelum mengikuti pelatihan, para disabilitas menjalani asessment. Mereka kemudian mendapat pelatihan menjahit selama 18 hari. Pertama, mereka diajari membuat pola, kemudian memotong kain dengan rapi, dan menjahitnya menjadi kemeja atau busana lainnya.

”Mereka saya latih siang malam. Kadang saya galak sama mereka. Tapi tujuannya biar mereka berhasil,” katanya.

Executive General Manager Regional Jawa Bagian Tengah, Dwi Puja Ariestya, mengatakan Kresna Patra merupakan program coorporate social responsibility (CSR) dari Pertamina. Program ini bertujuan untuk memberikan pelatihan bagi para disabilitas untuk masuk ke dunia kerja.

”Di Boyolali ini ada tiga kelompok disabilitas binaan kami. Salah satunya Kresna Patra ini,” katanya.

Saat ini melalui CSR-nya Pertamina melatih 350 orang dari kalangan disabilitas. Tahun ini ada 130 orang difabel yang dilatih melalui tiga kelompok pelatihan.

Untuk pelatihan ini, Pertamina bekerjasama dengan PT Pan Brothers dan PT Hop Lun Indonesia. Dengan kolaborasi ini, setelah mendapat pelatihan, para disabilitas siap bekerja dan ada perusahaan yang menerima mereka.

”Harapannya program ini terus tumbuh dan semakin banyak yang ikut serta,” katanya.