Home Kesehatan Ketua Satgas Covid-19 IDI: Waspada Varian Baru Covid

Ketua Satgas Covid-19 IDI: Waspada Varian Baru Covid

Jakarta, Gatra.com – Selama wabah Covid-19 merebak di Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 yang saat ini diketuai oleh Erlina Burhan. Dalam menanggapi kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia sejak akhir Juni 2022 lalu, Erlina menegaskan bahwa saat ini, situasi pandemi masih terjadi.

“Setiap hari ada kenaikan kasus meskipun tidak banyak. Kalau kita bandingkan, sejak Mei, jumlah kasus aktif naik hingga 36x lipat,” jelasnya pada konferensi pers yang digelar secara daring oleh IDI, Jum'at (26/8).

Data per 25 Agustus 2022 menunjukkan bahwa saat ini, jumlah kasus aktif berjumlah 47.778 dengan total kasus terkonfirmasi sebesar 6.334.357 kasus. Meskipun jumlah ini masih jauh bila dibandingkan saat puncak varian Delta dan Omicron awal, adanya mutasi yang terjadi pada sifat virus perlu diperhatikan.

Erlina memaparkan bahwa ancaman new variant masih ada. Terbanyak di Indonesia saat ini, subvariant Omicron BA.5 mencapai 96,28%. Kewaspadaan ini juga melihat di negara lain seperti India, bahwa subvariant yang dominan tersebar di sana adalah BA.2.75 hingga 40%.

“Mutasi terjadi karena penularan terus-menerus. Virus melakukanreplikasi, bila ada kesalahan replikasi, maka bisa menimbulkan sifat baru sehingga terciptalah subvariant virus baru,” ujarnya.

Ia juga menjabarkan bahwa semakin banyak orang yang tertular, maka kemungkinan virus hidup juga akan lebih tinggi. Sifat virus yang hidup dengan menempel pada sel hidup lain dan berkembang biak perlu diperhatikan agar seseorang jangan sampai tertular.

Saat ini, Erlina mengatakan bahwa ia masih tidak tahu kapan wabah pandemi berganti status menjadi penyakit endemi. Meskipun sempat ada penurunan kasus dan grafik cenderung flat pada awal Mei hingga pertengahan Juni lalu, nyatanya varian baru Omicron dengan sifat penyebaran yang lebih cepat membuat kasus aktif meningkat lagi.

“Tergantung kita. Kalau kita bisa mengendalikan virus ini, angka terkendali, kalau grafik sudah flat, maka (status) Covid-19 bisa menjadi endemi,” katanya.