Home Hiburan Mengintip Keseruan Permainan Tradisional Ago Gilo dari Tebo

Mengintip Keseruan Permainan Tradisional Ago Gilo dari Tebo

Tebo, Gatra.com - Puluhan orang kewalahan memegang sebuah boneka berkepala batok kelapa yang dibalut kain hitam. Amukan boneka itu terjadi hanya beberapa saat usai dipegang dan diayun-ayunkan.

Adegan itu merupakan salah satu permainan tradisional dari Tanah Tebo. Ago Gilo namanya, atau dalam Bahasa berarti boneka gila. Permainan ini mirip dengan bambu gila dari Maluku. Namun, alih-alih dengan bambu, Ago Gilo menggunakan medium boneka yang terbuat dari anyaman rotan.

Sebuah batok kelapa ditancapkan di atas tubuh boneka kemudian digambar wajah dengan cat hitam. Begitu Ago Gilo diarak ke tengah lapangan Desa Teluk Kuali, anak-anak kecil pun sontak berteriak Ago Gilo! Ago Gilo!

Permainan dipimpin oleh lima orang berpakaian serba hitam. Dipimpin oleh Pawang Ago Gilo bermana Nasril. Boneka Ago Gilo pertama dipegang oleh dua orang. Sedangkan dua orang lainnya berjaga-jaga dengan seutas kain di tangan.

Nasril membacakan seutas mantra yang sekilas terdengar seperti bahasa Melayu namun cukup sulit dicerna artinya. Dalam durasi mantra, boneka Ago Gilo digoyangkan kanan dan ke kiri.

“Jangan lah janji kepada kito, ayam puit terbang ke muko, ibu ibuko makan padi, tak baik menjanji uko, jadi serambi makan dadih, Hop!” begitu petikan mantra yang dibacakannya.

Dengan teriakan tersebut, permainan Ago Gilo resmi dimulai. Boneka yang sebelumnya diam tak bergerak pun mendadak menggeliat dan memberontak. Enam hingga delapan orang pun masuk ke dalam lapangan untuk membantu memegangi Ago Gilo yang semakin menggila.

Semakin hebat amukan Ago Gilo menghempaskan para pemegangnya kesana kemari, semakin seru pula penonton bersorak. Tiga orang pengawas termasuk sang pawang menjaga agar kemelut tetap ada di tengah lapangan. Saat Ago Gilo memberontak menggiring para peserta terlalu dekat ke penonton, para pawang pengawas mengibas-ngibaskan kain hitam mereka agar si boneka gila bergerak menjauh.

Kibasan kain hitam yang berfungsi sebagai alat kontrol, juga digunakan untuk meningkatkan amukan si boneka. Tidak sampai lima belas menit, para peserta pun satu per satu terlempar dari kerumunan. Ketika semuanya menyerah, permainan diakhiri.

Menurut Nasril, permainan ini sudah ada sejak zaman kakeknya ratusan tahun yang lalu. Orang-orang Tebo biasanya memainkannya pada malam hari di ladang sebelum menanam padi keesokan harinya atau semalam sebelum hari panen. Permainan ini juga bisa dilakukan di berbagai kesempatan. Seperti pernikahan, ataupun lomba 17 Agustusan.

“Jadi pertama kita pegang dulu, kemudian orang kita panggil ramai-ramai megangin. Kalau kayak jelangkung itu kan ada orang sampai kerasukan. Kalau ini enggak ada,” jelas Nasril.

Ia menambahkan, tidak ada syarat khusus untuk ikut ambil bagian dalam tim melawan amukan Ago Gilo, yang penting orang dewasa. Jelas saja, karena permainan ini bukan untuk anak-anak. Bahkan perempuan pun boleh ikut.

“Selama ini kan biasanya laki-laki. Tapi kemarin ada juga perempuan ikut. Asalkan kuat saja,” jelasnya.

Tujuan dari permainan Ago Gilo memang adalah kegilaan. Semakin gila si boneka, semakin keras goyangannya, semakin seru permainannya. Tidak ada batas permainan ini, sekuat para pemainnya.

“Tinggal tergantung napas. Kalau sekarang 10 sampai 20 menit saja sudah ngos-ngosan. Kalau orang orang tua saya dulu sampai setengah jam,” ujarnya.