Home Hiburan Pasar Pekaulan Gerit di Pati: Buka 36 Hari Sekali, Bisa Kabulkan Hajat

Pasar Pekaulan Gerit di Pati: Buka 36 Hari Sekali, Bisa Kabulkan Hajat

Pati, Gatra.com – Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ada pasar tradisional yang sangat unik. Saking uniknya pasar ini hanya buka setiap 36 hari sekali, tepatnya pada Senin Pahing dalam penanggalan Jawa. 

Pasar tersebut tak lain adalah Pasar Pekaulan, Desa Gerit, Kecamatan Cluwak.

Lumrahnya pasar, di sana ramai dikunjungi orang yang hendak berbelanja. Namun di pasar yang berjarak 38 kilometer dari pusat Kota Pati ini, hanya menjual jajanan tradisional saja. Meski begitu acap kali buka, selalu menjadi magnet bagi pelancong dari luar daerah, dan bahkan luar pulau Jawa.

Sejak dahulu, hari buka di Pasar Pekaulan tidak pernah dilanggar. Begitupun atap rumbia di pasar, tidak pernah diganti genteng. Masyarakat masih menjaga erat adat istiadat dari nenek moyang.

Bukan tanpa alasan, selain berbelanja jajanan, para pengunjung memiliki hajat khusus untuk datang ke Pasar Pekaulan Gerit. Yakni mencari keberkahan di petilasan Mbah Duniyah, seorang waliyullah murid Sunan Muria.

Kasi Kesejahteraan Desa Gerit, Sucipto mengatakan, Pasar Pekaulan hanya buka setiap Selapan dalam pasaran Jawa atau 36 hari sekali yakni mulai Senin Pahing. Meski, aktivitas sudah mulai menggeliat sejak Ahad Legi sore.

“Karena dalam penaggalan Jawa, hari Ahad sore itu sudah masuk Senin Pahing. Adapun yang dijual hanya jajanan khas sini dan hasil bumi saja. Seperti dawet, kue cucur, ganyong, pisang, entik, gembili, dan sebagainya,” ujarnya, Senin (29/8).

Secara keseluruhan, disebutkannya, ada sebanyak 250 pedagang yang menjejali lapak di Pasar Pekaulan. Pedagang tersebut tidak hanya berasal dari warga Gerit saja, tetapi juga desa-desa tetangga.

Ia menjelaskan, pasar pekaulan memiliki arti pasar yang bagi pengunjung yang ingin mengeluarkan kaul (membayar/meneguhkan nadzar).

“Di sini terkenalnya Pasar Pekaulan, karena pengunjung ngeluarin kaul, punya nazar ke sini kalau sudah tercapai atau terkabul keinginannya maka ke pasar ini,” jelasnya.

Adapun caranya, pengunjung membeli paket kembang dan midang. Setelah itu, menuju tempat khusus di pojok pasar. Di situ nantinya ada petugas yang bakal menerima kembang dan memoleskan midang ke empunya hajat.

“Ada yang hanya jajan, ada pula nadzarnya diikrarkan ke bapak-bapak yang midang. Misalnya minta kesembuhan, penglaris, dan keinginan lain yang ditujukan kepada Tuhan YME. Setelah berhasil mereka akan ke sini lagi, ada yang bawa ayam ingkung, menyembelih kambing, atau sapi di lokasi,” bebernya.

Sucipto menceritakan, Pasar Pekaulan merupakan petilasan Mbah Duni seorang wali yang makamnya berada di daerah Tayu. Saat itu, Mbah Duni bersama Bupati Jepara Mbonjot istirahat dari perjalanan di lokasi tersebut.

Rombongan itu, kemudian memakan jajanan bekal diantaranya kue cucur. Lantaran bekas jajanan yang banyak. Mbah Duni berkata jika pada suatu saat nanti daerah tersebut menjadi pasar.

“Mitosnya seperti itu, itu cerita turun temurun. Atap masih pakai ijuk karena orang-orang tua dulu tidak memperbolehkan diganti genteng,” ungkapnya.

Sarwan, petugas penerima nazar di Pasar Pekaulan mengatakan, kebanyakan pengunjung yang datang bernazar untuk kesembuhan keluarga yang sakit, penglaris, hingga mencari jodoh.

“Membeli kembang dulu, lalu ke sini mengeluarkan ujar, ada midangnya (kuning) sudah diikrarkan dioleskan di tangan pengunjung. Memang seperti itu, selain ada yang hanya jajan saja,” ujar seksi bidang di Pasar Pekaulan.

Supatmi, pedagang Pasar Pekaulan mengaku sudah berjulan di pasar ini sejak 30 tahun lalu. Yang dijualnya kurang lebih sama dengan pedagang lain di pasar tersebut, yakni wedang dawet dan kue khas Gerit.

“Saya bukanya dari tadi pagi, sampai nanti habis dagagang,” jelas nenek berusia lebih dari 60 tahun ini.

Rukiyah pengunjung, mengaku mendatangi Pasar Pekaulan untuk bernazar atas persoalan yang dihadapinya. Ia mengungkapkan sudah kali kedua mengunjungi pasar di tengah desa tersebut.

“Alhamdulillah dulu berhasil, ini datang lagi untuk bernazar. Tadi juga beli jajanan, kue cucur dan minum wedang dawet,” tutur warga Dukuhseti ini.